KH Nahduddin Royandi Abbas: Sosok Santri Kelana dari Saudi hingga Inggris

Penulis: Muhamamd Syakir Niamillah Fiza
Kamis 25 Juli 2019



Atorcator.Com – Mbah Din. Begitulah masyarakat Buntet Pesantren memanggil sosok KH Nahduddin Royandi Abbas. Beliau tercatat lahir pada tahun 1935. Beliau menuturkan sendiri kepada penulis, bahwa beliau lahir dua tahun sebelumnya, 1933. Hal ini bisa terjadi karena saat pembuatan kartu penduduk, agar lebih mudah, beliau minta disamakan dengan rekannya Kiai Faqih Murtadlo yang lahir dua tahun lebih muda darinya.


Pada masa pertempuran, meskipun belum genap usia baligh, putra bungsu Kiai Abbas Abdul Jamil Buntet itu sudah turut membantu jalannya peperangan. Bersama rekan seusianya, beliau disatukan dalam kelompok yang diberi nama Asybal. Selain dikader untuk menjadi pasukan hizbullah, beliau dan rekan-rekannya juga diberi tugas untuk menjadi telik atau mata-mata. Keikutsertaan beliau dalam pasukan yang dibentuk oleh ayahnya itu penulis dengar dari salah satu pejuang hizbullah saat itu, yakni KH Abdul Mufti Umar.


Pendidikan


Pendidikan beliau tentu saja dimulai dari lingkungannya sendiri di Pondok Pesantren Buntet. Sebagai bungsu, ia turut kakak-kakaknya mondok di Pesantren Lirboyo, dalam asuhan KH Abdul Karim. Konon, saat beliau bermain, Kiai Abdul Karim sungkan mengganggunya mengingat beliau salah satu putra Kiai Abbas, sosok penting pendirian Pondok Pesantren Lirboyo.


Selepas itu, beliau merantau jauh ke Makkah al-Mukarramah. Di sana, beliau mengaji pada Musniduddunya Syaikh Yasin al-Fadani. Ini penulis dengar dari beberapa kiai di Buntet Pesantren dan dari KH Nurul Huda Bekasi yang sempat sowan ke beliau di London, Inggris. Selain itu, penulis dengar langsung dari beliau, bahwa di sana, beliau mengaji pada Kiai Dahlan Kediri.


Mbah Din begitu akrab dengan kedua gurunya. Beliau selalu diajaknya makan bersama, baik di kediaman Syaikh Yasin ataupun Kiai Dahlan. Bukan saja belajar ilmu pengetahuan, tetapi, beliau belajar kehidupan dari dua sosok alim tersebut. Hal paling berkesan bagi Mbah Din tentang sosok Kiai Dahlan adalah kesabarannya. Kiai asal Kediri itu saban pagi mengetuk pintu kamar santrinya, lalu mengajaknya sarapan bersama. Hal tersebut tetap dilakukan manakala beliau umrah bersama putranya. Saat itu entah tahun berapa, beliau bersama putranya mampir ke ndalem Kiai Dahlan. Mengetahui siapa yang datang, Kiai Dahlan langsung memanggil istrinya. “Nyai, kemari. Ini ada cucu kita,” begitu ia menyambut kehadiran Mbah Din bersama putranya.


Di Saudi, beliau juga sempat menjadi pembimbing haji. Padahal saat itu, beliau masih usia 20 tahun. Untuk memuluskan pekerjaannya itu, beliau meminta sejumlah kain batik ke pengurus haji dari pemerintah Indonesia. Lalu beliau bagikan ke petugas haji dari Saudi. Mereka merasa senang dengan pemberian kain batik itu sehingga memudahkan Mbah Din muda untuk melaksanakan tugasnya sebagai pembimbing haji di sana.


Sebelum berangkat ke Saudi, beliau sempat singgah dulu di Jakarta. Di ibukota, Mbah Din bekerja dengan berjualan. Penulis lupa berjualan apa saat itu. Beliau juga kenal dengan salah satu tokoh Lesbumi, yakni Jamaluddin Malik. Saat penulis berkesempatan mendampingi beliau bertemu dengan Imam Besar Masjid Istiqlal saat itu, KH Ali Mustofa Yaqub, beliau menunjuk salah satu jalan di Menteng. Di sana, beliau sering jumpa Jamaluddin Malik, katanya.


Pada tahun 1958, beliau bertolak ke Inggris guna melepaskan dahaga intelektualnya. Di negeri Ratu Elizabeth itu, beliau memperdalam ilmu ekonomi. Keahliannya pada bidang tersebut kerap kali menjadi rujukan. Tahun lalu, beliau diundang oleh Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardoyo untuk mengisi seminar ekonomi syariah bersama beberapa pengasuh pesantren lainnya. Saat KH Abdurrahman Wahid menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia, konon beliau juga turut memberikan saran dan sumbangsih pemikiran guna menaikkan perekonomian Indonesia.


Pak Royandi, di Inggris beliau akrab disapa, selalu menduduki ranking pertama. Saingan ketatnya adalah orang Jerman. Saat ujian, beliau sangat menyesal karena beliau harus mengakui kehebatan mahasiswi asal Jerman itu.


Saat pertama kali didirikannya Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Inggris, beliau didapuk sebagai Rais Syuriyah. Kini, kepengurusan itu beliau serahkan ke orang-orang yang lebih muda.


Setahun sekali beliau pulang ke Indonesia sepeninggal kakaknya, KH Abdullah Abbas. Beliau meneruskan tongkat estafet kepemimpinan Pesantren Buntet sejak tahun 2007. Tiba di Jakarta, beliau beberapa hari akan istirahat di kediaman putranya di Pejaten, Jakarta Selatan. Sejak tahun 2014, penulis selalu menyempatkan sowan ke beliau. Tiap kali sowan, tentu selalu saja dijamu makan. Suatu kehormatan bisa makan satu meja bersama beliau. Sebagai santri biasa, tentu ada kebanggaan dan pastinya merasa tidak sopan dan tidak pantas. Tapi begitulah beliau. Siapapun diajaknya makan bersama, satu meja. Persis seperti yang beliau terima dari guru-gurunya.


Ikhlas, Jujur, dan Tawadlu


Beliau senantiasa mengingatkan pentingnya ikhlas, jujur, dan tawadlu. Pesan itu disampaikan berulang kali dalam setiap momen. Tiga hal itu, sepertinya, pondasi penting Mbah Din dalam berkehidupan.


Sehari sebelum Haul Almarhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren Cirebon tahun 2017, penulis bersama rekan-rekan alumni Buntet Pesantren yang tergabung dalam wadah Forum Silaturahim Buntet Pesantren Cirebon (FORSILA BPC) Jakarta Raya sowan ke ndalem beliau di sebelah selatan Masjid Agung Buntet Pesantren. Saat itu, beliau ngendika, “Kalau kita ikhlas dan jujur, sebentar saja Indonesia akan makmur.”


Kalimat tersebut bukan sekadar ritmik, tapi penuh kedalaman makna. Indonesia saat ini krisis kejujuran dan keikhlasan. Hal tersebut dibuktikan dengan fakta banyaknya korupsi yang terungkap di berbagai sektor.


Saat sambutan pada Haul 2017 Buntet, beliau sampai berujar, “tak bosan” untuk mengingatkan tiga hal tersebut.


Hal Lain dari Sosok Mbah Din


Pada sowan kali itu juga, beliau bercerita banyak tentang sejarah dunia, tentang berdirinya berbagai negara semenjak pecah perang dunia pertama dan perang dunia kedua. Saat penulis sowan sendiri di kediaman putranya, beliau juga bercerita perihal sejarah Korea, bagaimana pecahnya hingga perkembangannya saat ini yang begitu pesat. Cerita beliau tak pernah tuntas. Di akhir cerita, beliau selalu dawuh, “Wislah, ngkoe sirae bli maca (sudahlah, nanti kamu gak baca.” Dari sini pesan beliau tentu saja meminta penulis untuk membaca.


Ada hal lain yang begitu menarik dari sosok beliau. Meskipun beliau lebih lama tinggal di Inggris, tapi bahasa Indonesia dan bahasa Jawa dialek Cirebonnya tidak begitu saja lepas. “Deneng,” begitu katanya tiap kali mendengar cerita yang baru kali itu beliau dengar dengan sedikit keheranan. Tiap kali penulis berbincang dengan beliau, beliau juga selalu berkata, “sira kuh…,”.


Hal lain yang kerap dilakukan Mbah Din adalah membagikan pakaiannya. Sebelum beliau tindak ke Inggris pada Mei lalu, penulis dipanggil beliau masuk ke kamarnya di rumah anaknya.


“Ini tolong dilipat,” pintanya.


Penulis pun melipat dua potong baju yang beliau serahkan. Lalu, beliau mengambil sebuah goody bag dan meminta penulis untuk memasukkan dua baju itu ke dalamnya. Penulis kira, baju tersebut akan dimasukkan lagi ke dalam koper yang akan beliau bawa. Tetapi beliau malah menyerahkan kepada penulis, “bil barkah, yaa,” katanya.


Ternyata, hal tersebut juga tidak saja dialami oleh penulis. Kakak sepupu penulis pun pernah beliau beri tiga potong celana. Mungkin santri lainnya juga pernah mendapat hal yang sama dari beliau.


Selain itu, hal menarik lainnya dari sosok teduh ini adalah kebugaran badannya. Meskipun kini sudah berusia 84 tahun, beliau masih terlihat tegap, walaupun sudah menggunakan tongkat. Sepertinya, hal ini disebabkan pola hidup beliau yang sangat menjaga kesehatannya. Setiap Subuh, beliau berjamaah di Masjid Agung Buntet Pesantren. Selepas itu, beliau berjalan-jalan mengelilingi komplek Pondok Buntet Pesantren. Penulis pernah sekali mendampingi beliau jalan pagi saat Haul Buntet 2017. Sampai di kediamannya sekitar pukul enam pagi. Beliau duduk di teras sembari menikmati teh atau kopi. Lalu sarapan. Karena saat itu penulis turut, beliau pun mengajak penulis sarapan dan ngetehbersama beliau.


Tapi sebagaimana manusia biasa, beliau tetap saja punya daya tahan tubuh. Saat ini beliau tengah menjalani perawatan medis di Hammersmith Hospital, London. Semoga penyakitnya segera Allah angkat dan dapat kembali beraktifitas seperti sedia kala.


Source Selengkapnya bisa dibaca di Islami.co

  • Muhammad Syakir Niamillah Fiza Santri yang sedang berkelana di ibu kota untuk kembali ke kota ibu

Related Posts