Madura dan Hilangnya Peradaban Maritim (2)

Penulis: A Dardiri Zubairi
Ahad 28 Juli 2019

Ilustrasi foto: Kompas

Atorcator.Com – Jembatan Suramadu sebagai iconic hilangnya peradaban maritim Madura sudah selesai dan tidak menyisakan perdebatan lagi sebagaimana Ulama Bassra dulu yang dianggap oposan oleh pemerintah Orde Baru. Keberadaannya sudah diterima, dinikmati, dan dibanggakan oleh orang Madura. Jika Anda masih berpikir kritis terhadap jembatan sepanjang 5 km itu, Anda akan dicemooh. Paling sial jika Anda diintrogasi karena ikut menikmati jembatan itu.


Justru bagi saya di sinilah masalahnya. Secara budaya, cara pikir kita soal Madura sudah ditaklukkan. Ditundukkan. Tak banyak orang yang menyoal efek domino jembatan Suramadu. 


Yang paling miris justru diamnya kita ketika “tanah madura” yang kita injak dipaksa lepas dan kita dibiarkan tak berjejak di tanah itu. Entahlah, sejak Bangkalan sampai Sumenep berapa ratus ribu hektar yang berpindah kepemilikan ke tangan investor, sosok ghaib yang bentuk kumisnya saja orang Madura tidak tahu? 


Di tanah itu kemudian dibangun aneka ragam industri atau bisnis yang sepenuhnya bersifat privat. Tak peduli di pedalaman yang jarang penduduk atau di bibir pantai yang keindahannya di renggut keserakahan atas nama reklamasi. Ini pembangunan(isme) bung. 


Tak perlu ditanya untuk siapakah pembangunan itu. Cukuplah orang Madura menjadi buruhnya, mengais rizki dengan membuka warung kopi, mencari botol air mineral dan aneka macam sampah yang bisa dijual, atau jadi sekuriti.  Sementara dari pembangunan yang digaungkan, orang Madura menunggu tetesan air kran. Cukup tetesnya. Soal sumber air pembangunan biar pemodal dan elit penguasa yang maha tahu dan yang menguasai. 


Lengkap bukan? Peradaban maritim dihilangkan tetapi sumberdayanya dikeruk. Ingat, eksplorasi migas di Madura banyak offshore. Ketika peradaban maritim hilang, daratan juga sudah diacak-acak. Tanah-tanah dikuasai. Tentu dengan isi perutnya. Ekslorasi migas kemudian beralih dari offshore ke onshore. Lihat misalnya di Kecamatan Saronggi, Sumenep, perusahan migas berdiri kokoh meski kabarnya menyisakan banyak masalah di sana. 


Sekali-kali lihat ketika melintas ke arah surabaya baik jalur  selatan maupun pantai utara, begitu banyak alih fungsi lahan. Atau tanah diratakan untuk disulap menjadi bangunan. Belum lagi rencana proyek besar yang (akan) segera di bangun semisal Islamic Saince Park di Bangkalan yang butuh lebih 100 ha, pabrik Gula dan perkebunan tebu di Pamekasan (sebagaimana saya baca di Kompas, lupa edisi berapa), dan Sport Centre yang saat ini sedang dibangun dan rencana pembaungan PLTG (Saronggi) di Sumenep sebagai cadangan listrik yang dipersiapkan untuk industri di Madura. 


Itu baru pembangunan yang kita dengar. Belum yang masih ada dalam otak investor. Pokoknya ke depan Madura akan menjadi surga bagi para investor yang sudah kadung dipercaya akan menjadi penyelamat perekonomian Madura dan menjadikan (orang) Madura beradab, makmur, dan sejahtera. 


Luput dari perhatian yang pro kebijakan ini, rakyat akan kehilangan “tana sangkolnya“, persoalan ekologis akibat alih fungsi lahan akan makin akut, tradisi lokal masyarakat petani yang guyub tak lagi menemukan jejaknya. Dan pelan-pelan rakyat yang belakang hari makin tidak punya apa-apa akan terus dipinggirkan. Atau bertarung diantara mereka memperebutkan tetesan pertumbuhan ekonomi yang tak seberapa, dibanding sumbernya yang dikusai secara privat dengan penuh rakusnya.


Inilah gambaran Madura kini dan akan datang. Peradaban maritim dihancurkan kemudian daratan diacak-acak. Persis seperti petuah kearifan lokal Madura, “etapok ekala’ odengnga” alias rugi dua kali. Sampai di sini saya tak mampu meneruskan imaginasi saya, karena tak lagi menemukan pijakannya. Madura seperti “tada’ ajina”, “tada’ kalangmante’na” alias tidak sakti lagi.


Wallahu A’lam 


Matorsakalangkong


Pojok Madura, 28 I 7 I 2019


  • A. Dardiri Zubairi Peminat Kebudayaan Madura Mengabdi di PCNU Sumenep dan PP Nasy’atul Muta’allimin Gapura

Related Posts