Mengapa Bendera Indonesia Merah Putih?

Penulis: Nyai Shuniyya Ruhama

Ilustrasi foto/ gosomut.com
Kamis 12 Juli
2019 06:00



Atorcator.Com – Jauh sebelum Indonesia ada, wilayah Nusantara pernah
memiliki sebuah kerajaan besar bernama Majapahit. Menurut prasasti Gunung
Buthak, bendera Majapahit dikenal sebagai Sang Panji Gulo Klopo, atau warna
merah putih.

Setelah di Nusantara berdiri “pagar-pagar” dakwah berupa
kerajaan-kerajaan Islam, semuanya bermakmum dalam satu barisan yakni Dinasti
Turki Utsmani yang juga benderanya berunsur merah putih.

Merah putih sejalan dengan nilai budaya adiluhung sekaligus nilai pemersatu
umat. Hingga Pangeran Diponegoro juga memakai merah putih sebagai bendera
perlawanan kepada Belanda.

Setelah menyadari bahwa jika diteruskan perang melawan Belanda, akan terjadi
kekacauan berupa punahnya peradaban Jawa, maka Pangeran Diponegoro mengambil
sikap ngalah, memilih berdamai untuk mempersiapkan perjuangan lebih dahsyat
lagi.

Pada masa itu diperkirakan sepertiga penduduk Jawa habis terbunuh oleh perang
ini. Sebenarnya, jika hanya melawan Belanda tidak akan kalah. Sayangnya,
Belanda memperalat orang Jawa yang rela menjadi kaki tangan Belanda untuk
melawan Pangeran Diponegoro.

Siasatpun diubah Pangeran Diponegoro ditipu Belanda. Beliau bersedia berkorban
untuk masa depan Nusantara.

Seluruh pengikut setia beliau menyebar ke seantero Sumatera, Jawa dan Madura.
Sebagian kecil di Kalimantan, Sulawesi dan Maluku.

Di Jawa khususnya, simbol merah putih tetap digelorakan, dijaga sedemikian rupa
secara sengaja selama hampir 125 tahun supaya tetap terjaga.

Pertama, melalui ritual setiap bayi lahir, dibuatlah bubur merah putih. Ketika
Belanda menanyakan maksudnya, dijawab: merah simbol ibu, putih simbol bapak.
Dibuatkan bubur merah putih supaya anak berbakti kedua orangtuanya. Belandapun
tertipu.

Kedua, setiap malam Jumat setiap warga diminta membuat bucu (tumpeng kecil) berwarna
putih, diberi berbagai bumbu dapur kemudian di atasnya diberi cabe merah besar.
Simbol merah putih.

Ketika Belanda bertanya, dijawab: untuk memberi makan ruh nenek moyang.
Belandapun tertipu.

Ketiga, setiap akan mendirikan rumah, bagian kuda-kuda rumah diberi simbol kain
merah dan putih. Supaya Belanda tidak curiga, kain merah putihnya ditemani
tebu, kelapa dan pisang.

Masih belum cukup, ditambah dengan tumpeng, jajan pasar dan urap, jika perlu
dikasih ingkung ayam. Ketika Belanda bertanya, dijawab: ini ritual Jawa.
Belandapun tertipu.

Hingga ketika Ulama sudah mendapat suara dari langit bahwa Indonesia akan
segera merdeka, maka Hadlrotussyaikh Hasyim Asy’arie saat Muktamar NU di
Banjarmasin 1937 memberikan pesan supaya ketika Indonesia merdeka, warna
benderanya ialah merah-putih.

Dan segera setelah proklamasi kemerdekaan dikumandangkan, maka Habib Ali
Abdurrahman Kwitang langsung mengibarkan Bendera Merah Putih yang diikuti oleh
seantero warga Jakarta.

Jadi, Merah putih bukan sekedar kesepakatan para pendiri bangsa melainkan
warisan dari nenek moyang bangsa Nusantara.

Kenali merah-putihmu, Cintai merah putihmu. Salam cinta merah-putih lambang
martabat Bangsa .


  • Shuniyya Ruhama Pengajar PPTQ Al Istiqomah Weleri-Kendal
    Murid Mbah Wali Gus Dur

Related Posts