Mimpi Bertemu Rasulullah

Penulis: Abdul Adzim

Jumat 19 Juli 2019

Rasulullah ﷺ bersabda:


مَنْ رَآنِي فِى الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَتَمَثَّلُ بِي. رواه البخاري وغيره

Barangsiapa yang (bermimpi) melihatku dalam tidur, berarti ia sungguh-sungguh telah melihatku. Sesungguhnya Setan tidak akan bisa menjelma menyerupai diriku. [HR. Bukhari dan lainnya]

Sementara Hadist dari riwayat Muslim dan Abu Dawud melalui jalur Abu Hurairah ra:

مَنْ رَآنِى فِى الْمَنَامِ فَسَيَرَانِى فِى الْيَقَظَةِ أَوْ لَكَأَنَّمَا رَآنِى فِى الْيَقَظَةِ لاَ يَتَمَثَّلُ الشَّيْطَانُ بِى


“Siapa yang melihatku saat mimpi, maka ia akan melihatku dalam keadaan sadar atau seakan-akan ia telah melihatku. Dan syetan tidak bisa menyerupai diriku.”

Al-Qarthubi mengatakan: Terdapat perbedaan ulama mengenai arti yang terkandung dalam hadist ini, sekelompok ulama mengarahkan hadist ini sesuai tekstualnya. Artinya barang siapa yang melihat Rasulullah ﷺ dalam mimpinya, maka dia telah melihat hakikat Rasulullah ﷺ sebagaimana dia melihat Rasulullah ﷺ saat terjaga. Sekelompok ulama lain mengatakan, bahwa arti dari hadist tersebut diarahkan pada orang yang bermimpi melihat Rasulullah ﷺ dengan wujud aslinya, maka bila seseorang melihat Rasulullah ﷺ tidak dengan wujud aslinya, bisa dipastikan mimpinya hanya bunga tidur.


Sedangkan menurut pendapat yang shahih (benar) takwil hadist ini diarahkan pada seseorang yang bermimpi melihat Rasulullah ﷺ dalam segala wujud dan keadaan. Siapa pun yang bermimpi Rasulullah ﷺ walau yang tampakberbeda dengan ciri-ciri Rasulullah di masa hidupnya, maka mimpi itu benar-benar dari Allah ﷻ bukan tipu daya syaithan. Ini adalah pendapat al-Qadhi Abi Bakr bin Tayyib dan lainnya yang dikuat dengan hadits lain riwayat Bakhari dan Muslim:


من رآني في المنام فقد رأى الحق

“Barangsiapa yang melihatku dalam mimpi, maka sungguh ia telah melihat yang sebenarnya”.

Artinya bila mimpi tersebut sangat jelas, maka tidak butuh ditakwil karena hal itu merupakan kebenaran yang bertujuan memberitahu kepada orang yang bermimpi dan bila mimpi itu kurang jelas, maka butuh ditakwil (oleh ahli takwil mimpi) jangan sampai mimpi itu dibiarkan bias tanpa arti karena mimpi berjumpa dengan Rasulullah ﷺ adakalanya sebagai kabar gembira atau peringatan,menakuti dan melarang dari berbuat kejelekan dan adakalanya sebagai penjelasan hukum baik agama atau dunia yang dialami orang yang bermimpi.

Sementara An-Nawawi sedikit memberi penafsilan yang berbeda: bahwa yang dikehendaki kata dalam hadist  “فقد رأى الحق” adalah barang siapa yang bermimpi melihat Rasulullah ﷺ dengan wujud aslinya saat Beliau hidup, maka mimpinya benar dan barang siapa bermimpi Rasulullah ﷺ bukan wujud aslinya, maka perlu ditakwil lagi.

Menurut Ibnu Hajar al-‘Asqalani, penafsiran terhadap hadist mimpi bertemu Nabi yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dibagi menjadi enam pendapat, yaitu:

1. Hadist tersebut harus dipahami secara perumpamaan (tasybih), karena diperkuat dengan riwayat lain yang redaksi lafazhnya menunjukkan arti perumpamaan (لَكَأَنَّمَا).


2. Orang yang mimpi bertemu Rasulullah ﷺ akan melihat kebenaran, baik secara nyata maupun hanya ta’bir saja.


3. Hadist tersebut dikhususkan kepada orang-orang yang sezaman dengan Rasulullah ﷺ dan bagi orang yang beriman kepada Rasulullah ﷺ yang belum sempat melihatnya.


4. Bahwa orang mimpi tersebut akan melihat Rasulullah ﷺ, seperti ketika bercermin, namun hal tersebut sangat mustahil.


5. Maknanya bahwa ia akan melihat Rasulullah ﷺ pada hari kiamat dan tidak dikhususkan bagi mereka yang telah mimpi bertemu dengan Rasulullah ﷺ saja.


6. Orang yang mimpi melihat Rasulullah ﷺ, ia akan melihatnya secara nyata. Namun pendapat ini masih diperdebatkan.

Di kesempatan lain an-Nawawi, memberi penjelasan bahwa lafazh “فسيراني في اليقظة” mengandung tiga pengertian, yaitu:

1. Bagi orang-orang yang sezaman dengan Rasulullah ﷺ. namun tidak sempat berhijrah, lalu orang tersebut bermimpi melihat Rasulullah ﷺ maka Allah akan memberikan taufiq-Nya kepada mereka sehingga bisa bertemu.


2. Akan bertemu Rasulullah ﷺ di akhirat sebagai pembenaran mimpinya, karena di akhirat setiap umat Nabi Muhammad ﷺ baik yang pernah bertemu maupun belu, akan mengalami pertemuan langsung dengan beliau.


3. Melihat melihat di akhirat secara dekat dan mendapat syafa’atnya.

Ibnu Sirin, sebagaimana dituturkan oleh Ibnu Hajar al-‘Asqalâni memberi rumusan:

إذا قص عليه رجل أنه رأى النبي صلى الله عليه و سلم قال صف لي الذي رأيته فان وصف له صفة لا يعرفها قال لم تره


“Jika seseorang berkata kepada Ibnu Sirrin bahwa ia telah mimpi melihat Nabi Muhammad ﷺ, maka ia akan bertanya kepadanya: “Jelaskanlah sifat orang yang kamu lihat (mimpikan) itu kepadaku. Maka jika orang yang bermimpi tersebut mengisahkan kepadanya denga sifat yang tidak diketahui oleh Ibnu Sirin, maka Ibnu Sirin berkata: “Kamu tidak melihat Nabi ﷺ dalam mimpimu.” Hal seperti inilah yang dilakukan oleh ahli tafsir mimpi.


Waallahu A’lamu


📖Refrensi:


•Ahmad bin Ali bin Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bar Syarh Shahih al-Bukhari (Nida’ al-Iman. Web), Hal. 587-546.
•Abu Zakariyya Yahya bin Syaraf al-Nawawi, Shahah Muslim bi Syarh al-Nawaw (Beirut: Dâr Ihya al-Turatsal-‘Arabi, 1392 H), Juz 15, h. 26.

  • Abdul Adzim Lahir di Surabaya. Domisili Bangkalan Madura. Alumni Pondok Pesantren Sidogir. Aktif mengajara di Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil Bangkalan.

Related Posts