Rokok Alami: Antara Nasib Petani dan Soal Selera

Penulis: Muhammad Nur Khalis
Jumat 26 Juli 2019

Ilustrasi: Pribadi

Atorcator.Com – Saya termasuk orang yang paling jengah kalau ada orang masih berdebat soal hukum merokok apalagi dengan orang yang mengatakan bahwa rokok itu haram tanpa mempertimbangkan aspek sosial. Seandainya yang berdebat itu ada dihadapan saya, mungkin kata-kata mutiara milik Mbah Tedjo akan saya keluarkan seraya menyiram mukanya dengan apapun yang ada di depan saya. Rata-rata sih kopi yang ada di depan saya. Heuheuheu.


Rokok memang hal vital bagi saya, rokok adalah hal yang paling saya butuhkan setelah internet. Tapi lebih dalam, saya mendingan hidup tanpa internet daripada hidup tanpa rokok.


Rokok yang paling saya gemari adalah rokok Alami. Ada uang atau tidak ada uang, Rokok Alami harga mati bagi saya. Dari harganya yang pas buat dompet seorang mahasiswa, bagi saya rokok alami sangat menggambarkan para petani tembakau Indonesia.


Rokok yang diproduksi dari Tulungangung ini memilih tidak mencampurkan apapun kedalam balutan kertasnya kecuali semuanya dari hasil keringat petani indonesia. Sehingga ketika saya menghisap perlahan sambil memejamkan mata yang saya bayangkan adalah para keringat petani yang menetes. Sangat nikmat dan saya sangat bersyukur.


Di saat menjadi petani sudah tidak diminati, dengan membeli rokok Alami saya merasa orang ikut andil dalam membantu dengan membeli hasil dari keringat yang mereka peras. Tidak bisa dipungkiri bahwa nasib para petani kini terombang-ambing. Mulai dari maraknya perampasan lahan produktif  dengan alasan pembangunan infrastruktur, sampai pada sifat represif kaum borjuis pada para pertani dengan memainkan harga pasar. Sungguh dengan membeli rokok Alami sebuah pertolongan yang begitu berarti bagi mereka.


Suatu ketika saya menghadiri diskusi ringan dengan teman-teman aktivis di warung kopi, dan kalian tahu sendirilah sebagai seorang aktivis kurang afdol kalau tidak merokok. Dan ketika semua teman-teman saya mulai mengeluarkan rokok yang mahal-mahal, saya cukup mengeluarkan rokok Alami.


Mugkin mereka menganggap saya sedang tidak punya uang sehingga mereka saling menawarkan rokok-rokok dengan merek-merek yang mentereng. Tapi saya menjawab dengan santai kepada mereka “aktivis rokoknya kok tidak pro petani”. Mereka terdiam dan membisu.


“Ini selera saya, selera yang tetap membela para petani.” Lanjut saya. Dan mereka akhirnya mencoba rokok saya dan ah, habis lah rokok itu tanpa mereka sadari bahwa rokok Alami itu rokok terkahir saya di akhir bulan ini.


  • Muhammad Nur Khalis Santri Mahasiswa STAI Ma’had Aly Al-Hikam Malang

Related Posts