Ketika Ulama Difitnah?

Penulis: Ust. Miftah el-Banjary

Jumat 23 Agustus 20119
Ilustrasi foto: Fondazione

Atorcator.Com – Ketika ulama difitnah, ulama dikriminalisasi, sesama ulama dibenturkan, sesama ulama dibuat bersebarangan, memang seperti itulah ujian sunatullahnya. Jika kita lihat sejarah perjalanan para ulama, kita akan menemukan kisah-kisah miris dan memilukan dalam ujian hidup mereka menghadapi tantangan dakwah, terlebih ketika berseberangan dengan para penguasa.


Kita bisa melihat dari kalangan para sahabat Nabi, Tabi’en, tabi’it tabien hingga akhir zaman insya Allah. Sebut saja diantara mereka:

Sahabat Nabi Saw, Ibnu Al Asy’ats, terbunuh di tangan gubernur Baghdad, al-Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqafi. Termasuk juga Sa’id bin Jubeir, ahli tafsir, murid terbaik Ibnu Abbas, dipancung ditangan al-Hajjaj juga. Demikian, Abdullah bin Az Zubeir, cucu Abu Bakar Ash Shidiq, putra Zubeir bin Awwam, juga dibunuh pasukan al-Hajjaj.

Imam Abu Hanifah wafat saat dipenjara, karena tidak berkenan diangkat menjadi Hakim Agung dan tidak berkenan menyatakan al-Qur’an sebagai makhluk, sebagaimana disebutkan dalam Akhbar Abi Hanifah.


Imam Malik, dihukum cambuk dengan rotan secara telentang oleh Khalifah Abu Ja’far al-Manshur, seperti yg diceritakan Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam An-Nubala. Imam Asy Syafi’i, diusir oleh Gubernur Yaman atas perintah Khalifah Harun ar-Rasyid, dengan cara diikat, dari Yaman ke Baghdad, seperti yang diceritakan Imam al-Baihaqi dalam Manaqib Asy-Syafi’i, karena difitnah melakukan konspirasi jahat bersama kelompok Syi’ah Rafidhah menggulingkan kekuasaan Khalifah.

Imam Ahmad bin Hambal, disiksa selama tiga masa kekhalifahan, karena perbedaannya dengan mereka tentang kemakhlukan al-Qur’an, mereka meyakini al-Quran sebagai makhluq, sementara Imam Ahmad teguh bahwa al-Qur’an kalamullah bukan makhluk.
Imam ‘Izzuddin bin Abdissalam, Sulthanul ‘Ulama (pimpinan para ulama) dijual oleh penguasa ketika itu.


Imam An Nawawi, tegas terhadap Malik Zahir yang telah menginginkan fatwa pembenaran memungut biaya jihad dari rakyat yang sudah susah, akhirnya dia diusir dari negerinya.
Sikap Imam An Nawawi ini menyadarkan ulama lain yang telah dimanfaatkan oleh Malik Zahir, mereka akhirnya mencabut dukungannya. Akhirnya, Raja minta maaf kepada Imam An Nawawi tapi Beliau tegas, tidak akan kembali sampai raja itu wafat. Syaikh Sayyid Quthb dihukum gantung oleh Jamal Abdul Nashir, begitu pula Syaikh Abdul Qadir Audah, Syaikh Yusuf Thal’at, Syaikh Muhammad Farghalli.

Buya Hamka dipenjara pada masa Sukarno, karena sikapnya yang Anti Lekra, dan juga tuduhan akan melakukan pembunuhan terhadap presiden. Masih banyak lagi para ulama yang menanggung penderitaan yang sama, disebabkan ketegasan prinsip mereka menyampaikan kebenaran agama.

Mengapa para ulama menghadapi sedemikian cobaan yang berat?


Di dalam al-Qur’an, Allah telah menetapkan ujian dan cobaan bagi mereka, sebagaimana salah satu firman Allah Swt:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِىٍّ عَدُوًّا شَيَٰطِينَ ٱلْإِنسِ وَٱلْجِنِّ يُوحِى بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ ٱلْقَوْلِ غُرُورًا ۚ وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan dari jenis manusia dan dan jenis jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu manusia.” [Q.S al-An’am:112]

Jadi, ketika para ulama difitnah dan diterjang badai ujian yang berat, di sana sebenarnya kita sedang melihat kemuliaan ulama itu sedang diangkat oleh Allah dengan cinta-Nya.


Wallahu ‘alam.

Related Posts