Mencemari Islam dengan Perilakunya Sendiri

Penulis: Iyyas Subiakto
Ahad 25 Agustus 2019



Atorcator.Com – Indonesia adalah sebuah rahmat dan anugrah dari Tuhan, negara indah dibawah garis khatulistiwa ini sangat mempesona. Hadirnya, awal mula agama-agama tidak menimbulkan gesekan karena tanpa penundukan, agama berkembang sesuai kodratnya, islam si bungsu, sekarang tumbuh melampaui kakak²nya, Hindu dan Budha yang dulu memberinya ruang utk berkembang tanpa halangan. Sekarangpun masih sama, tidak menjadi kakak yang iri atau merasa bersalah karena adiknya sudah melampaui batas rasional dalam beragama, karena nusantara yang semula pusat Hindu dan Budha, sekarang menjelma menjadi negara dengan penduduk beragama islam terbesar didunia.


Konon zaman Majapahit, saat raja Kertabhumi raja ke 10 berkuasa pada tahun 1400an, dimana islam mulai ada, saat itulah sang Raja berinisiatif karena melihat kebutuhan batiniah rakyatnya dalam agama baru yang menjadi pilihan. Raja melihat agar tidak menjadi pengikut yang salah, maka didatangkanlah guru² agama dari Champa, sekarang Kamboja.


Dalam ruang dunia setiap benda berkembang bahkan berevolusi, tak terkecuali agama, budaya dan mindset, ini semua karena dampak dari teknologi, yang sejatinya dari Tuhan sendiri. Semua bersumber dari akal yang diizinkanNya berpikir dengan output yang luar biasa tak terbatas. Namun demikian, akses kemudahan itu, membuat semua jadi dimudah²kan, bahkan menjurus kepada pemurahan, termasuk agama, lihat saja bagaimana mereka dengan mudah memanfaatkan google, twitter, fb, dst dalam mempelajari agama, refrensi itu mereka pakai, beli kopiah atau kupluk, baju taqwa, sarung, lalu ceramah. Lha yang diceramahi seng pikirane ora jangkep, dikasi penggalan ayat dikit, janji surga dan bidadari langsung syahwatnya menari². Pikiran mesum, surga dianggap komplek murahan cerita cuma senggama. Orang² jenis ini tidak bisa berpikir yang lain, karena pikirannya cuma sebatas selangkangan saja.


Islam itu toleran, sebagaimana tauladan nabinya, tidak ada kesombongan, tidak pula sok pintar apalagi sok kuasa, karena pada dasarnya sifat itulah yg mencemari diri, menebar virus pada lingkungan. Perumpamaan perbuatan buruk dalam ruang tertutup agar bisa dimaklumi, apalagi dikalangan sendiri, sulit dimengerti, karena sesuatu yang buruk akan menularkan keburukan dan menghasilkan kesesatan.


Bila agama adalah rumah besar yang dihuni bersama, maka tidak boleh ada perbuatan yang bisa menghasilkan stigma buruk karena ulah salah satu penghuni yang berprilaku menyimpang akan membangun image secara keseluruhan, tapi hal ini sulit dihindari karena pengeneralisiran adalah umum dilakukan dan paling gampang, ini sebuah konsekwensi yang sulit dihindari, sehingga satu²nya cara penghuni rumah harus ditertibkan agar tabiat pribadinya tidak merusak seisi rumah.


Fenomena akhir² ini pencemaran nama baik islam dilakukan oleh oknum yang mengaku islam, tapi berprilaku menyimpang dalam hal menjalankan keberagamaannya. Agama yang membawa pesan sosial sangat dalam dirusak dengan prilaku dangkal dan cenderung amoral. Bagaimana dia bisa menjalankan tuntunan kebaikan bila prilakunya sangat menjijikkan, tapi sebagian kita membiarkannya, malah ada yg membelanya, dan yang luar biasa kalimat maaf bisa jadi begitu mahal, luar biasa bengalnya, begitu kok bisa merasa bangga.


Farid Esaq, ulama Afrika Selatan keturunan Banten mengatakan: Kita selalu terpenjara oleh kesantunan formal, dalam hal apa saja termasuk agama, namun begitu kita lepas, prilaku kita cenderung buas, ini akibatnya kalau ilmu hanya dijadikan aktualisasi diri, ia akan kehilangan makna dan intisari yg sesungguhnya, ini juga akibat dari lemahnya memaknai antara ritual dan spiritual, shalat khusuk dan hanya duduk ngantuk.


Jangan selalu merasa dinistakan, jangan pula selalu merasa kita tidak pernah membuat nista, kalau kita sendiri yang selalu mencemari rumah kita sendiri.


MARI INTROSPEKSI AGAR KITA TAK LUPA DIRI.

Source: Beranda Facebook Biakto-biakto

Related Posts