Mengenang KH. Fuad Hasyim Buntet

Penulis: Husein Muhammad

Sabtu 24 Agustus 2019

Ilustrasi: NU Online


Atorcator.Com – Hari ini Haul beliau ke 15. Aku masih ingat sekali, begitu beliau wafat,  aku menulis:

Kiyai Fuad Hasyim wafat, 12 Juli 2004. Maka aku merasa kehilangan pelindung dan guru tempat mengadu dan  mendiskusikan gagasan untuk sebuah gerakan demokratisasi dan pluralisme.

Tidak banyak ulama yang memiliki kepekaan begitu dalam mengenai kedua tema tersebut. Tetapi saya bersyukur karena menemukan Kiyai Fuad Hasyim. Banyak kalangan dengan latarbelakang yang berbeda-beda secara etnis, kultural, politik, agama, aliran kepercayaan dan gender datang menemui beliau di rumahnya yang sangat sederhana untuk membincangkan nasib dan problem hidupnya.


Dan beliau menerima semuanya dengan keramahan seorang Ulama dan dengan nasehat nasehat yang menyejukkan dada mereka. Tidak jarang juga beliau melakukan advokasi langsung melalui caranya sendiri.

Pandangannya tentang pluralisme disampaikannya dalam banyak kesempatan. “Perbedaan adalah sunnatullah yang sama sekali tidak akan pernah bisa dilenyapkan oleh siapapun, kecuali Allah sendiri”, ujarnya sambil mengutip ayat-ayat al Qur-an:

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا ۚ أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّىٰ يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ


“Kalau saja Tuhanmu menghendaki, niscaya semua orang di muka bumi seluruhnya beriman. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?”.

“Hal ini, katanya lebih lanjut, “harus diakui dan disadari oleh kita semua sehingga kita bisa saling menghargai dan menghormati perbedaan pandangan dan pemahaman di antara kita”.
Mengutip Imam Muhammad bin Ali bin Maymun al Yamani, kiyai Fuad mengatakan:

الشريعة مقالى والطريقة افعالى والحقيقة حالى


“Syari’at adalah ucapan-ucapanku, thariqah adalah tindakan-tindakanku dan haqiqah adalah pengalaman-pengalaman hatiku”.

Pernyataan ini ingin menegaskan bahwa kebenaran Tuhan ditangkap melalui beragam pandangan, pemikiran dan pengalaman. Tetapi Tuhan tetaplah Tunggal, Satu untuk semua ciptaan-Nya. Kepada-Nya kita semua akan pulang dan menemui-Nya dalam suka maupun duka.

Kiyai Fuad Hasyim adalah ulama yang pikirannya terbuka, yang bersahaja dan rendah hati. Namanya lebih dijenal sebagai “muballigh” atau “Da’i”. Orasinya memukau dan menyejukkan, tak pernah memprovokasi, dan tak pernah mencaci maki orang. Beliau juga seorang “qari” (pelantun ayat suci al-Quran) dengan suaranya yang merdu dan seorang sastrawan.

Manakala Gus Dur ke Cirebon, rumah Kiyai Fuad selalu menjadi tempat persinggahannya. Di sana beliau “ngobrol” lama-lama sambil lesehan dan tidur-tiduran. Kadang sampai menginap.

Kemarin siang, 19.08.19, di pesantrennya, aku bicara dalam acara ‘Ngaji Buku “Butir-Butir Kisah Sufi”, karya beliau.

Related Posts