Pengalaman Mondok di Al-Anwar dan Dua Nasihat Kritis KH Maimoen Zubair - Atorcator

Pengalaman Mondok di Al-Anwar dan Dua Nasihat Kritis KH Maimoen Zubair

Penulis: Umar Farouq Marsuchin
Ahad 1 September 2019

Atorcator.Com – Tahun 1993, setelah lulus dari Perguruan Islam Mathali’ul Falah (PIM) saya sempat mengalami ‘status quo’ (tidak tahu hendak ke mana), suatu fenomena yang lumrah dialami sebagian lulusan. Meski dicalonkan dapat beasiswa ke Jamiah Madinah tapi kabar yang beredar tidak memberikan harapan. Sedangkan untuk ke Azhar Mesir tidak cukup berani ‘nekad’. Akhirnya kaki terbawa melangkah ke ibu kota, Jakarta, dengan status pekerja urban. Namun karena hati kecil merasa tidak nyaman dengan status demikian makalangkah kaki kembali surut kekampung halaman untuk melakukan reorientasi masa depan. Keputusannya adalah berangkat mondok di Sarang. Pilihannya adalah PP Al Anwar, asuhan Mbah Moen (KH Maimoen Zubair).

Mondok di Sarang sejak dahulu kala menjadi destinasi utama bagi santri bahkan keluarga kiai-kiai Kajen. Sebagian besar para kiai Kajen-pun pernah mondok di Sarang, baik pada masa Mbah Moen maupun Mbah Zubair  (KH Zubair Dahlan, ayahanda Mbah Moen). Oleh karena itu sepanjang masa setiap angkatan lulusan PIM-pun ada yang melanjutkan mondok ke sana.

Saya berangkat ke Sarang diantar oleh Ayah untuk dipasrahkan ke Mbah Moen. Mbah Moen juga sedang di ndalem. Demi mengetahui bahwa kami datang dari Tasikagung Rembang, Mbah Moen menanyai beberapa hal agak mendetail. Sowan kami diakhiri dengan makan di ruang makan ndalem, bersamaan satu meja dengan Mbah Moen. Saya ingat betul saat itu Mbah Moen ngendika, “Ayo ma’em dhisik, mengo mondhoke ben krasan”.

Kenapa saya ingat betul ngendikan itu, karena justru tidak sampai setengah tahun saya boyong dari Sarang. Karena malu jika Mbah Moen pirso, maka saat boyong saya sengaja tidak ijin pamit. Dalih (sekedar dalih) saya saat itu adalah agar tetap berstatus santri Al Anwar. Dan yang ironis, saya boyong untuk kemudian kerja cari uang, sebagai karyawan toko emas di daerah Batu Malang. Di sini saya sempat kerja selama hampir setengah tahun, setara lamanya dengan waktu mondok di Sarang.

Praktis sejak boyong dari Sarang, saya tidak lagi berhubungan dengan Al Anwar dan amat sangat jarang sowan Mbah Moen. Karena itu Mbah Moen saya kira supe atau setidaknya oangling pada saya secara pribadi. Sowan saya terakhir adalah Idul Fitri  terakhir ini, dengan keperluan utama memintakan doa untuk anak laki-laki saya yang sebelumnya ikut ngaji posonan pada beliau.

Pernah dulu suatu ketika saya mendapat surat dari panitia pembangunan PP Al Anwar yang dilampiri wesel pos. Dengan sukacita saya penuhi hak sekaligus kewajiban saya mengisi dan mengembalikan wesel pos tersebut. Dan oleh karena saya tidak lama nyantri di Sarang, tidak banyak yang tahu saya pernah nyantri di sana. Acara-acara yang diselenggarakan oleh alumni –terutama yang tergabung dalam PASSTI (Persatuan Santri Sarang dari Pati)—jarang mengundang saya. Hanya sekali saya diundang dalam acara PASSTI. Saat itu  tahun 2005an saya diundang untuk mengisi ceramah ilmiah bertema “Kontekstualisasi Kitab Kuning” dalam rangka halal bi halal bertempat di gedung LPBA Kajen.

Saat masuk di Sarang saya ikut tes di program Muhadlarah kelas III, karena teman-teman lulusan dari Kajen kebanyakan masuk di kelas itu. Muhadlarah adalah program pengajaran yang diselenggarakan untuk mewadahi santri-santri yang sudah pernah tamat dari sekolah jenjang aliyah. Program ini tidak bisa disebut sebagai pasca aliyah karena materi-materi ajarnya setara dengan jenjang menengah. Di kelas III ini materi pendukungnya adalah musyawarah intensif kitab Matn al Ghayah wa at Taqrib karya Imam Abu Syuja’.

Seorang teman alumni PP Salafiyah Kajen yang tahun kelulusannya sama dengan saya mendapati saya masuk kelas III merasa sayang. Dia bilang setidaknya saya masuk kelas V seperti dia. Entah dia sedang ngibul atau berniat memotifasi, saya jadi tergerak juga. Akhirnya respon saya tidak berupa mengajukan kenaikan kelas, karena tentu yang seperti itu termasuk su’ al adab atau bahkan tidak mampu. Respon saya adalah segera beli kitab Fath al Wahab karya Syaikh Zakariya al Anshari, lalu ikut majlis pengajian Mbah Moen.

Saat itu di Al Anwar, Fath al Wahab adalah jenjang setelah  Fath al Qarib dan Fath al Mu’in. Dan oleh karena musyawarah intensif kitab Fath al Qarib juga ikut terhenti karena boyong, kelak ketika mondok di Kwagean saya bikin gantinya, yaitu musyawarah kitab Fath al Mu’in, setiap malam, hanya dengan anggota tetap 5 orang ustadz. Musyawarah di gotha’an kecil ini menggunakan penerangan lampu uplik, dan al hamdulillah berjalan bertahun-tahun.

Ada nasehat kritis Mbah Moen yang saya ingat betul, selain juga sering beliau sampaikan dalam beberapa kesempatan. Nasehat itu sasaran utamanya adalah 2 kelompok santri, yaitu santri yang suka mendalami ilmu kanuragan dan santri yang sedang menekuni tahfidh Al Quran. Kepada kedua kelompok santri ini beliau menekankan agar tidak salah niat dan orientasi. Bahkan yang saya dengar jika ada santri sowan minta pangestu beliau enggan, bahkan kadang ndukani. Beliau memberi catatan bahwa selama ini kebanyakan dari kedua kelompok itu salah arah. Semoga saya selalu mendapat ridla dan doa beliau, karena tercatat melibatkan diri dalam kedua bidang itu. Amin.

Mbah Moen berguru pada pemuka-pemuka ulama Nusantara, terutama pada Abah sendiri  saat masih di Sarang, lalu saat mondok di Lirboyo, di Lasem, di Rembang, di Demak, di Mranggen, di Buntet Cirebon, dan mengaji kepada para syaikh besar di Makkah. Menulis beberapa kitab yang diantaranya menjadi bahan ajar di Sarang. Bergaul dengan para ulama kontemprer dunia. Semua itu menempatkan beliau sbagai salah seorang ulama khosh di negeri dan dunia ini. Beliau sempat menjadi anggota DPRD, anggota MPR dan hingga kini  menjadi Majlis Syariah Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Sebagai ulama yang berkiprah di dunia politik, beliau merupakan contoh yang langka atau mungkin satu-satunya, karena integritas dan keulamaan beliau yang tak terpengaruh sama sekali oleh tarik-menarik kepentingan pragmatis dunia politik. Karena disegani oleh siapa saja, kadangkali nama besar beliau ‘dicatut’ untuk kepentingan satu atau beberapa pihak. Di usia yang sudah lebih dari 90 tahun, beliau masih terlihat sehat (dan semoga selalu sehat) dan masih rawuh di Pengajian umum, berbagai event nasional maupun internasional, terutama saat menunaikan ibadah haji.

Di era media sosial (medsos), sebagaimana beberapa ulama panutan lainnya, saya dengar Mbah Moen juga berkenan memiliki admin. Dengan cara demikian, disamping menanggulangi ‘catutan-catutan’ tak beretika, kebajikan dan kebijakan beliau bisa menjadi tersebar di dunia maya dan memberi kesejukan di media milenia itu. Matta’anallahu bi hayatihi, wa nafaana bi ulumihi wa afadla alaina min barakatihi.
Amin.

[Tulisan ini sebelumnya dimuat di akun Facebook Umar Farouq Pati, 21 Oktober 2017]

Umar Farouq Marsuchin

(Catatan ini sekedar kenangan sekilas saya. Tidak saya maksudkan untuk menggambarkan para kiai saya, karena saat menulisnya saya sama sekali tidak melakukan semacam penelusuran, wawancara, bahkan klarifikasi apapun kepada pihak yang relevan, terutama keluarga. Saya hanya ingin mengenang orang-orang mulia nan tercinta. Semoga di balik catatan ini ada keteladanan yang menginspirasi, meskipun untuk menggiring ke sana, saya tidak pandai menggurui orang lain)

komentar

Related Posts