Pesantren “Ibnul Amin Dzuriat”, Pembelajaran Klasikal dan Tuntutan Perubahan Zaman

Penulis: KH. Dr. Miftah el-Banjary, MA
Ahad 1 September 2019

Atorcator.Com – Dari kunjungan saya kemarin ke Pondok Pesantren Ibnu al-Amin Dzuriat Pemangkih Barabai, seperti biasa saya menyempatkan bertemu dan bersilaturahmi ke rumah ayahnda pengasuh, al-Allamah KH. Abdul Wahid, yang memiliki hubungan dekat sejak kakek kami dulu.


Kedatangan saya bersama istri serta paman dan tante kemarin sore yang juga kebetulan mengantar anak keponakan kami untuk mondok di sana, disambut hangat oleh pengasuh KH. Abdul Wahid dan istri beliau, Ustadzah Hj. Muhimmah (cucu pendiri; KH. Mahfudz Amin).


Seperti biasa, setiap kali bertemu, KH. Abdul Wahid, saya selalu diingatkan tentang kisah perjuangan serta wakaf yang banyak diinfakkan oleh kakek kami yang telah begitu banyak membantu pembangunan Pondok Pesantren Ibnul Amin di era tahun 80-an.


Saya pun diajak berkeliling di dalam kawasan area pesantren untuk diperlihatkan wakaf yang diinfakkan oleh kakek kami dulu bersama pendiri pertama allamah KH. Mahfudz Amin.


KH. Mahfudz Amin merupakan seorang ulama besar, pakar dalam bidang ilmu Falak (astronomi), pakar dalam bidang ilmu Nahwu-Sharaf, dan juga ahli dalam bidang ilmu hadits yang pernah berguru langsung dengan ulama muhaditsin musnid dunia, al-Alimul Allamah Syekh Yasin Fadani di Makkah al-Mukarramah.


KH. Mahfuz Amin dikenal sebagai ulama yang wara’ dan memiliki semangat disiplin yang sangat tinggi dalam mengajar dan berdakwah. Beliau selalu menyempatkan berdiskusi dan berhubungan dengan para ulama sezamannya, seperti KH. Hasyim Asy’ari ketika itu.


Dari pondok pesanten Ibnul Amin ini banyak menghasilkan para tokoh ulama yang berpengaruh serta para pengusaha yang membangunkan banyak pondok pesantren yang menjadi cabang pondok pesantren Ibnul Amin di penjuru pulau Kalimantan.


Kakek saya Allahyarham, bersahabat dan berteman dekat dengan KH. Mahfudz Amin sejak tahun 70 hingga tahun 90-an, yang diketahui kemudian, ternyata KH. Mahfudz juga termasuk golongan waliyun min aulia illah mastur yang tersembunyi maqam kewaliannya. 


KH. Mahfudz Amin yang juga turut menshalatkan jenazah sahabatnya, kakek saya di tahun 1990, yang dimakamkan di depan pondok pesantren milik beliau “Sibtul Amin”.


Dari persahabatan dan kedekatan dengan beliau lah, dulunya kakek berperan sebagai salah satu donatur dan penyokong dana bagi banyak pembangunan di pondok pesantren Ibnul Amin.


Namun, almarhum kakek kami dulu hampir tidak pernah menceritakan kedermawanan beliau yang bersedekah ratusan juta di zaman itu, di era tahun 1980-an, barangkali bisa jadi milyaran rupiah hari ini, namun semua dilakukan secara tertutup dan rahasia, hanya diketahui segelintir orang saja. Masya Allah!


Mungkin inilah salah satu bukti keikhlasan orang-orang zaman dahulu yang benar-benar tulus ikhlas berjuang demi agama. Semua cerita tentang perjuangan dan kedermawanan kakek pun hanya saya dapatkan dari orang-orang dekat beliau.


Sampai hari ini, di dalam komplek itu masih tetap kokoh berdiri sejumlah asrama, mushala, dapur umum dan sejumlah bak penampungan air wudhu yang dulunya hasil sumbangan kakek kami. Semoga menjadi amal jariyyah kebaikan yang terus mengalir pada beliau.


Saya ditunjukkan semuanya sebagai motivasi sekaligus “tadzkiratul kheir” mengingat kebaikan para pendahulu yang telah berbuat besar untuk untuk agama ini. Meski ini bukan untuk kali pertamanya. Setiap kali berkunjung selalu terus diingatkan perjuangan dari kakek kami.


KH. Abdul Wahid, sebagai pengasuh Pondok Pesantren, selalu mendorong dan memotivasi saya untuk melanjutkan perjuangan kakek, meneruskan pondok pesantren “Sibthul Amin” milik kakek saya. Beliau selalu mengatakan, “Sudah saatnya kamu mengemban amanah, melanjutkan memimpin pesantren itu!”


“Insya Allah.”
                           =============


Di kampung kakek saya, di Muara Komam Kaltim di tahun 1980-an, sangat langka orang yang alim berilmu agama. Masyarakat di sana mayoritas muslim, namun mereka minim sekali mengenal ilmu pengetahuan agama.


Bahkan, hanya sekedar mencari para pembaca do’a saja, terkadang harus mendatangkan orang alim dari kampung lain yang berjarak ratusan kilometer. Belum lagi, untuk bisa mengajari mereka ilmu-ilmu hukum syariat, belum ada sama sekali.


Atas saran, pendiri KH. Mahfudz Amin, di tahun 1984 kakek kami pun mendirikan pondok pesantren -di Muara Komam Kab Paser di Kalimantan Timur yang menjadi pintu gerbang masuk perbatasan dengan Kalimantan Selatan- dengan nama Pondok Pesantren “Sibthul Amin” yang berarti cucu yang terpercaya.


Barangkali, nama itu tidak sekedar penamaan saja. Saya yakin ada harapan dan doa dibalik penamaan pesantren itu dari para pendahulu kami yang merupakan orang-orang memiliki perhatian besar dalam memperjuangkan agama Islam. Sedangkan pesantren induknya bernama “Ibnul Amin” (Putra yang terpercaya).


Barangkali pondok pesantren “Sibthul Amin” di masa itu menjadi salah satu pondok pesantren pertama di wilayah Kabupaten Paser dan Kalimantan Timur pada umumnya yang kemudian banyak menghasilkan lulusan para santri yang menjadi tokoh-tokoh agama di kampung halaman mereka.


Demi kelangsungan pesantren, kakek kami mengirim salah satu paman kami, H. Ibrahim untuk menimba ilmu di Makkah al-Mukarramah, setelah sebelumnya juga sudah pernah mengaji di pondok pesantren “Ibnul Amin” di era tahun 80-an.


Di Makkah, tepatnya di Sholatiyyah, paman saya, H. Ibrahim berguru dengan Syekh Yasin al-Fadani bersama beberapa rekan beliau, diantaranya: KH. Abdul Wahid (pengasuh Ibnul Amin Dzuriat hari ini), alm. KH. Muhammad Abrar Dahlan pengasuh Pesantren Darul Amin, Sampit Kalimantan Tengah.


Sampai hari ini, paman saya, H. Ibrahim lebih memilih sebagai seorang pengusaha yang menjadi donatur tetap keluarga untuk membiayai kelangsungan Pondok pesantren peninggalan itu. Sedangkan sejak wafatnya kakek kami di tahun 90-an, hampir 29 tahun ini, belum ada pengasuh utamanya.


Dari dorongan dan doa restu dari KH. Abdul Wahid, H. Ibrahim, dan dukungan keluarga besar meminta saya untuk turut membantu memimpin Pondok Pesantren “Sibthul Amin”. Bismillah bi’aunillah.


                         ===========


Dari obrolan kemarin, saya mendapatkan banyak masukan, bimbingan serta arahan bagaimana cara memulai memanajemen sebuah pondok pesantren. Saya mendapat banyak pelajaran dan inspirasi dari pengalaman-pengalaman beliau.


Dari obrolan yang cukup panjang, saya memperoleh pencerahan dari sistem pendidikan dan kurikulum yang dikembangkan dari pondok pesantren Ibnul Amin Dzuariat yang mengkombinasikan antara keunggulan sistem klasikal Ibnul Amin dengan beberapa pondok pesantren di Pasuruan dan Dalwa.


Salah satunya, sistem pembelajaran dasar.
Jika dulunya di Ibnul Amin hanya berfokus pada penekanan pada hapalan matan Nahwu dan Sharaf, seperti kitab “Tashrif” pada 3 bulan pertama dan kemudian dilanjutkan dengan hapalan matan “al-Jurumiyyah” pada 3 bulan selanjutnya, dan kemudian baru kitab “al-Mutammimah” tanpa ada selingan kitab dan materi lainnya.


Maka, dengan sistem pembelajaran yang baru hari ini, sistem klasikal itu masih tetap dipertahankan, tapi dengan pendalaman lanjutan materi Nahwu Sharaf dengan kitab pendalaman lanjutan, seperti kitab “Syarah Ibnu Aqil” hingga menghapal matan “Alfiyyah” yang berjumlah seribu bait lebih.


Selain juga ada tambahan-tambahan materi tafaqquh fi dien lainnya, seperti: Fiqh, Tauhid, Tasawuf, Lughah dan lainnya sedari tahun pertama masuk.


Hari ini, sistem pembelajaran di Pondok Pesantren “Ibnul Amin Dzuriat” yang diasuh oleh KH. Abdul Wahid bersama istri beliau; Ustadzah. Hj. Muhimmah (cucu pendiri Ibnul Amin) banyak mengadopsi dan mengkombinasikan dengan sistem dari pondok pesantren yang memiliki banyak keunggulan di pulau-pulau Jawa.


Bahkan, pondok pesantren yang dulunya terkenal mempertahankan gaya pembelajaran klasikalnya pun turut menyesuaikan dengan tuntutan perubahan zaman yang lebih relevan berkembang secara kekinian.


Sistem pendidikan “Ibnul Amin Dzuriat” hari ini lebih terbuka dan moderat menyongsong perubahan masa kini. Hingga akhirnya, mau tidak mau- Ibnul Amin Dzuriat berbenah diri dengan melengkapi pendidikan semi-formal, setingkat Madrasah Tsanawiyyah di sela-sela kegiatan utama belajar kitab kuning klasikal.


Dengan tambahan pembelajaran pendidikan semi-formal, diharapkan para santri-santriwati bisa menunjang tuntutan pendidikan kekinian, sehingga keduanya bisa menyeimbangkan antara pendidikan diniyyah dengan pendidikan formal yang umum.


Hari ini, out put lulusan pondok pesantren tidak mesti hanya menjadi ulama “kitab kuning” saja, namun mereka harus mampu tampil sebagai pemimpin di masyarakatnya dengan keilmuan kompherehensif yang mereka miliki, dunia akhirat.


Teringat ketika membaca biografi pendiri pertama KH. Mahfudz Amin, pesan yang dulu selalu dipegang dan dinasihatkan:


โ€œBiar kita hidup di puting tajak asal agama jangan kucar-kacir.โ€ Maksudnya, “Biar hidup dengan bertani miskin, namun perjuangan untuk meninggikan agama Allah jangan sampai terhenti.”


Semoga kisah singkat bisa menjadi peyemangat dan motivasi untuk memulai langkah melanjutkan perjuangan para ulama pendahulu yang telah mewakafkan diri mereka untuk perjuangan agama ini fillah, billah, lillah ta’ala.


KH. DR. Miftah el-Banjary, MA Penulis National Bestseller | Dosen | Pakar Linguistik Arab & Sejarah Peradaban Islam | Lulusan Institute of Arab Studies Cairo Mesir.

Related Posts