Tantangan Pengibaran Bendera Merah Putih di Desa

Penulis: Moh. Syahri
Rabu 14 Agustus 2019



Atorcator.Com – Menyambut ulang tahun Indonesia yang ke 74, tak banyak sebenarnya kalau saya melihat orang-orang di pelosok desa yang mampu merefleksikan kemerdekaan Indonesia dengan mengibarkan bendera merah putih di depan rumahnya masing-masing. Saya sangat bangga ketika teman-teman saya di desa punya semangat untuk mengibarkan bendera merah putih menyambut 17 Agustus ini.


Saya berpikir bahwa tak semua anak muda di desa punya semangat seperti ini. Ternyata betul, tidak perlu jauh-jauh. Di Desa saya tak semua orang bisa mengibarkan bendera merah-putih lebih-lebih di kampung. Sebenarnya tidak salah. Namun cukup miris ketika melihat ada sekolah dengan gedung mewah tapi tak mengibarkan bendera merah putih. Padahal UU nya sudah jelas.


Dan saya terkejut dengan salah satu teman saya santri salaf mengatakan “Kita sudah tidak ikut berjuang, masa mau mengibarkan bendera merah putih saja nggak mau”. Di era itu sekitar pertengahan tahun 1990-an, bentuk pagar dan cat semuanya harus seragam, yaitu dengan cat merah putih. Dan tentu saja juga dipasangi bambu dengan bendera yang berkibar di ujung. Dan itu sangat antusias sekali dilakukan dengan gotong royong. Namun hal demikian tak ditemukan di desa saya.


Bahkan untuk memasang bendera di kampung saya masih cukup berat tantangannya. Selain dicibir tetangga juga dianggap kurang kerjaan. Hal ini wajar dilakukan oleh orang-orang kampung saya. Bukan berarti ia tak paham dengan sikap Nasionalisme dan patriotisme. Karena di kampung saya tidak biasa saja melakukan pengibaran bendera merah putih di rumah masing-masing ketika 17 Agustus. maka tak heran jika dianggap aneh, bahkan dianggap pekerjaan yang sok-sokan.


Kesibukan yang padat dan cukup banyak menguras tenaga para petani di kampung memang tak punya waktu untuk hanya sekadar mengibarkan bendera merah putih. Bertani jauh lebih penting dan segalanya. Dan itu cukup membuat saya berpikir bahwa hal ini wajar dilakukan oleh masyarakat desa saya ketika melihat pengibaran bendera merah putih. Hal semacam ini tak perlu dijelaskan dengan seolah-olah menceramahi mereka soal pengibaran bendera merah putih yang merupakan perwujudan penghormatan paling tinggi atas peringatan kemerdekaan.


Kita perlu paham. Petani juga termasuk penolong negeri, orang yang memerdekakan Indonesia dari pedesaan, mensejahterakan masyarakat dari pinggiran lewat petani. Begitulah kira-kira dauh Hadlrotussyaikh kiai Hasyim Asy’ari.


Pengibaran bendera di daerah saya khususnya sepertinya masih menjadi persoalan pelik yang tak berujung. Sebab tak hanya satu orang saja yang menganggap bahwa pengibaran bendera dianggap sesuatu yang aneh. Makemang berat sekali. Tapi itu tak menyurutkan anak-anak muda takluk karena tantangan itu. Tetaplah dikibarkan. Kali ini teman-teman saya berinisiatif sendiri tanpa digerakkan imbauan kepala desa. Di saat yang sama saya jadi ingat dauh Gus Dur “Kalau ingin melakukan perubahan jangan tunduk pada kenyataan asal yakin di jalan yang benar”.


Denyut kehidupan di kampung dalam mengingat kemerdekaan tidak dapat ditafsirkan ke dalam pengibaran bendera di halaman rumah. Ya betul, pengibaran bendera belum bisa memberikan imajinasi wujud dari penghormatan tersendiri atas sebuah kemerdekaan.


Saya jadi ingat perkataan salah seorang aktivis muda pancasila ketika saya mengikuti pelatihan jurnalistik tentang kebangsaan “Bendera memang lebih dari sehelai kain. Padanya terbentang ruang yang mengandung jejak. Kibarannya bukan sekadar digoyangkan angin. Ada gelombang perjuangan supaya bisa tegak. Imajinasi itu sudah tertanam di masing-masing batok kepala masyarakat Indonesia”.


Selamat Ulang Tahun yang ke 74 Republik Indonesia


Moh. Syahri Founder Atorcator | Santri Darul Istiqomah Batuan Sumenep Madura

Related Posts