Ada Empat Orang Masuk Surga tanpa Hisab

Penulis:
Romli
Senin 2
September 2019
Ilustrasi: NU.or.id
Atorcator.Com
Semua orang pasti ingin masuk surga.
Apalagi masuk surga tanpa hitungan amal. Karena salah-satu diantara suasana
yang mencekam pada hari kiamat adalah pada saat timbangan amal.

Imam Ghazali dalam kitabnya, Mukasyafatul
Qulub
 (h-65), mengutip sabda Nabi shallallahu
alaihi wasallam
sebagai berikut:

وقال صلى الله عليه وسلم إذا كان يوم القيامة يدخل أربعة الجنة بغير حساب:
العالم الذي يعمل بعلمه ومن حج ولم يرفث ولم يفسق حتى مات والشهيد الذى قتل فى
المعركة لإعلاء كلمة الاسلام والسخي الذي إكتسب مالا من الحلال وأنفقه فى سبيل
الله بغير رياء فهؤلاء ينازع بعضاهم بعضا أيهم يدخل الجنة أولا.

“dan Nabi SAW bersabda: ketika hari
hari kiamat datang ada empat orang yang masuk surga tanpa hisab (yaitu) orang
alim yang mengamalkan ilmunya, orang berhaji dan dia tidak berkata-kata keji
dan dan berbuat fasik sampai dia meninggal, tentara yang gugur mati syahid
dalam medan pertempuran dalam menegakkan kalimat Islam, dan orang yang dermawan
yang membelanjakan hartanya kepada yang halal dan menafkahkannya di jalan Allah
tanpa diikuti sikap riya’. Mereka saling berbantah-bantahan pertama yang memasuki
surga.

Setidaknya ada empat orang yang masuk
surga tanpa hisab:

Pertama, orang alim yang mengamalkan ilmu. Menuntut ilmu merupakan kewajiban
manusia secara personal. Karena dengan ilmu manusia dapat membedakan yang Haq
dan yang bathil.

Namun tidak berhenti di situ saja.
Orang berilmu memiliki tanggung jawab atas ilmu yang dimiliki untuk
mengamalkannya sesu
ai dengan kaidah-kaidah yang ada. Ilmu bila tanpa pengamalan maka
hanya menjadi wacana belaka.

Tujuan orang menuntut ilmu agar dia
mengetahui yang mana yang wajib atau yang sebaiknya dikerjakan, dan yang haram
atau yang lebih baik ditinggalkan. Bila mana tujuan ilmu tidak tercapai maka
sia-sialah ilmu itu. Orang berilmu tanpa mengamalkan dia cendrung sebagai orang
munafik.

Abdullah bin Mu’taz ra. Berkata:

علم المنافق فى قوله وعلم المؤمن فى عمله

Ilmunya orang munafik hanya diucapannya
dan ilmunya orang mukmin adalah dengan 
perbuatannya.( Dikutip dari Mu’adz.com).

Orang berilmu tanpa ada langkah
nyata maka kecenderungannya hanya memelintir pengetahuannya demi egonya
sendiri. Jika ada kepentingan pribadi maka selalu ada dalih sebagai alasan,
walaupun menyakiti orang lain.

Kedua, orang berhaji yang tidak lagi rafast dan fasik. Rafast
artinya berkata kotor dan fasik artinya bermaksiat. Diantara hikmah haji adalah
untuk memohon ampunan atas dosa-dosa yang telah diperbuat.

Nabi bersabda:

من حج لله فلم يرفث ولم يفسق رجع كيوم ولدته امه
Orang yang berhaji karena Allah,
tidak melakukan rafast dan fasik, niscaya ia kembali (ke tanah air) seperti
hari ketika ibunya melahirkannya.
(HR.
Bukhari).

Jika dosa diibaratkan noda maka
orang yang dihapus dosa-dosanya seperti kapas. Maka janganlah terkena noda
lagi.

Ketiga, orang syahid yang gugur di medan pertempuran demi membela Islam. Orang
yang nyata mati syahid maka tidak ada keraguan lagi tempatnya di akhirat nanti
adalah surga. 

Orang yang mati syahid haram hukumnya dimandikan dan dishalati dan
wajib dikubur dengan baju yang berlumuran darah.

Imam Nawawi mengatakan:

وتحرم صلاة على شهيد كغسله – وكفن شهيد فى ثيابه لا حرير.(نهاية الزين
: 161-162).
Dan haram menshalati orang mati
syahid seperti memandikan- dan orang mati syahid dikuburkan bersama pakayannya
bukan dengan sutera.

Keempat, orang dermawan yang membelanjakan hartanya dengan cara-cara yang
halal dan menafkahkannya fii sabillah tanpa riya’. Orang yang suka
bersedekah dan berinfak tidak akan mengurangi hartanya. Bahkan ia selalu
mendapatkan rahmat dan ridha Allah.

Pesan Nabi kepada Ali bin Abi
Thalib:

قال عليه الصلاة والسلام: يا على إن أولياء الله تعالى لم ينالوا سعة رحمة
الله ورضوانه بكثرة العبادة لكن نالوا بسخاوة النفس والإستهانة بالدنيا.(المنح السنية
: 6)

Nabi bersabda: wahai Ali,
sesungguhnya para kekasih Allah tidak akan mendapatkan luasnya rahmat dan
ridhaNya dengan banyaknya ibadah, tetapi mereka mendapatkannya dengan kedermawanan
diri dan tidak cinta dunia.

Kedermawanan harus dilandasi dengan
keikhlasan. Sekecil apapun pemberian dengan landasan keikhlasan maka akan
sangat bermanfaat bagi si pemberi dan bagi si penerima. Begitu pula sebaliknya,
sebesar apapun pemberian jika tanpa diikuti rasa ikhlas maka akan menjadi hal
yang tidak berguna.

Syekh Sayyid Abdil Wahhab As-Sya’rani
berkata:

وٱحذر من دقائق الرياء خوفا من ضياع الاجور وظلمة القلب. (سرح المنح
السنية: 5)

Takutlah kamu dari benih-benih riya’ karena khawatir akan hilangnya pahala
dan gelapnya hati.
Romli Santri pondok Pesantren Darul Istiqomah
Batuan Sumenep

Related Posts