Jangan Takut Berbeda Pendapat

Penulis: Saefudin Achmad
Ahad 15 September 2019

Ilustrasi: NU online

Atorcator.Com – Setiap manusia punya pemikiran khas, berbeda dengan yang lain, dan orisinil untuk memilih sikap atau berpendapat. Jangan pernah takut untuk berbeda pendapat dengan siapapun, karena:


Berbeda pendapat bukan tentang salah dan benar. Misal kita berbeda pendapat dengan orang lain, bukan berarti kita yang pasti benar dan orang lain yang salah. Pun sebalikanya bukan kita yang pasti salah dan orang lain benar.


Berbeda pendapat bukan tentang hormat dan tidak hormat. Misal kita berbeda pendapat dengan guru kita, bukan berarti kita tidak menghormati beliau. Bukan berarti juga beliau tidak menghormati kita.


Berbeda pendapat adalah hal yang sangat manusiawi dan diperbolehkan. Tidak ada larangan untuk berbeda pendapat dengan siapapun karena Allah menciptakan akal manusia itu dengan ciri khas masing-masing dan tidak pernah sama.


Oleh karena itu, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan terkait dengan kebebasan berpendapat:


Jangan pernah memaksakan agar orang lain sependapat dengan kita. Kalau kita memaksa orang lain sependapat dengan kita, tak ada bedanya dengan penjajah. Kita mengebiri kebebasan berpendapat tiap-tiap individu.


– Janhan pernah memaksa diri untuk sependapat dengan orang lain. Kita tidak pernah menjadi manusia yang benar-benar merdeka kalau masih memaksa diri untuk sependapat dengan orang lain.


Misalnya kita punya sosok idola. Ada beberapa pemikiran dan beliau yang kita suka dan merasa sama dengan pendapat kita. Lalu pada sebuah kesempatan, ada satu pendapat beliau yang tidak sesuai dengan pendapat kita. Pada posisi ini, apa yang harus kita lakukan?


Tetap kedepankan pendapat diri sendiri. Berbeda pendapat dengan sosok idola bukan berarti kita tidak menggormatinya. Bukan berarti pula beliau yang benar lalu kita yang salah, atau sebaliknya. Buang jauh-jauh pemikiran seperti itu.


Maka dari itu, jangan kaget, galau, risau, apalagi sedih jika melihat sosok idola berbeda pendapat dengan kita, atau melihat dua sosok idola yang pada sisi tertentu mereka sependapat, lalu pada sisi yang lain mereka berbeda pendapat. Kembalikan persoalan itu ke teori pendapat yang sudah saya kemukakan di atas.


Misalnya, sebelum Pilpres 2019, kita melihat Jokowi didukung oleh Mahfud MD, putra-putri Gus Dur, Ernest Prakosa dan sebagainya. Kita mungkin senang karena idola-idola kita berkumpul pada posisi yang sama. Namun setelah Pilpres 2019, mereka-mereka yang dulu mendukung Jokowi berbeda pendapat soal RUU KPK. Mahfud MD, Ernest, dan putri-putri Gus Dur menyayangkan sikap Jokowi soal RUU KPK. Endingnya, kita mungkin yang dibuat jadi galau harus ikut pendapat yang mana karena mereka idola kita.


Kalau kita kembali ke teori pendapat yang sudah saya kemukakan di atas, kita tidak akan pernah bingung, gundah dan galau. Kalau mau sependapat dengan Jokowi silahkan, kalau mau tidak sependapat juga silahkan. Saya pun meskipun sering tidak sependapat dengan Fahri Hamzah, tapi soal perseteruan antara Djarum Foundation dan KPAI, saya sependapat denganya yang membela Djarum dan meminta KPAI lebih baik mengurus anak jalanan saja.


Ingat, berbeda pendapat bukan tentang benar salah, bukan tentang hormat dan tidak hormat. Berbeda pendapat adalah tentang orisinalitas berpikir yang dimiliki oleh setiap individu. Pada hakikatnya kebenaran versi manusia itu relatif, tetapi orisinitas berpikir dalam berpendapat harus kita perjuangkan.


(SA)


Syaefudin Achmad Dosen IAIN Salatiga Asal Purbalingga Jawa Tengah

Related Posts