Komentar Atas Dauhnya Kiai Marzuki Mustamar yang Melarang Warga NU Turun Jalan

Penulis: Muhammad Al-Fayyadl
Rabu 25 September 2019



Atorcator.Com – Statemen dan dawuh Kiai Marzuki Mustamar mengenai larangan warga NU turun jalan adalah manifestasi kasih sayang kiai kepada jamaahnya, khususnya santrinya. Seperti kasih sayang bapak kepada anak, karena kuatir anak terjerembab dalam perilaku yang salah akibat pengaruh orang lain.


Namun, aksi mahasiswa juga manifestasi kasih sayang dan kepedulian generasi muda terhadap rakyat, akibat akumulasi penderitaan dan ketertindasan yang selama ini dibiarkan oleh pemerintah, malah diperparah dengan segala proyek investasi dan represi tanpa penegakan hukum. Ribuan korban konflik agraria di negeri ini saksinya. Juga kesewenangan di Papua.


Sama-sama “ngรฉmani”. Masing-masing ada keterbatasan dalam pandangan, namanya juga manusia, memiliki sisi dan sudut pandang berbeda.


Mungkin Kiai secara pribadi tidak turut langsung merasakan berpeluh dan berdarahnya para mahasiswa dan petani yang dipukuli di tempat-tempat konflik, juga para buruh yang ditangkap ketika demo membela temannya yang di-PHK. Sehingga beliau tidak secara langsung merasakan gelegak protes anak muda dan frustrasi mereka menghadapi situasi tersebut. Beliau kuatir teriakan “Revolusi” kaum muda adalah susupan orang-orang yang hendak menggulingkan negara, padahal sejatinya teriakan itu adalah suara suci sebagai bentuk kemuakan atas pembiaran kesewenangan selama ini. Suara kemanusiaan untuk menolak segala bentuk praktik politik yang kotor dan korup di negeri ini. Maka, jargon yang muncul bukan “Dirikan Khilafah atau Negara ISIS”, tapi “Bangun Politik Alternatif”. Artinya, politik kemanusiaan yang baru, atas dasar demokrasi kerakyatan sejati, di luar oligarki ekonomi dan elitisme.


Kaum mahasiswa yang turun di jalan punya keterbatasan dalam memahami kedalaman dan keluasan kasih sayang para ulama kepada umat. Sehingga mereka tidak perlu menuduh statemen itu sebagai bentuk ketidakberpihakan. Itu semata bentuk kekhawatiran seorang kiai yang selalu mengharuskan mencari jalan paling selamat dunia-akhirat bagi semua umatnya, juga bangsanya.


Bukan berarti Kiai anti-aspirasi Jalanan. Tidak. Para kiai tidak masalah dengan aksi jalanan sejauh jelas aspirasinya untuk kepentingan umum. Seperti aksi jalanan kaum santri menolak Full Day School tempo hari. Atau berbagai aksi massa dalam doa-doa bersama.


Saya, santri dan alfaqir, memahami larangan itu ibarat larangan “makruh”, bukan larangan mengharamkan (nahyu tahriim). Larangan “makruh” adalah semata soal selera atau preferensi. Sebagai suatu pendapat atau opini (qawl, ra’y, nazhar), ia bisa diambil atau tidak diambil, asalkan dengan argumentasi yang jelas. Pertimbangannya adalah mudarat. Mana lebih mudarat: membiarkan negeri ini dirongrong oleh korupsi dan pelanggaran kemanusiaan kelas berat, daripada membiarkan umat turun ke jalan? Silahkan dipikir.


Muhammad Al-fayyadl adalah Redaktur IslamBergerak.Com dan Master Filsafat Sorbonne University

Related Posts