Konspirasi di Balik Iklan “Rokok Membunuhmu”

Penulis: Akhmad Fauzan Rofiq

Kamis 13 September 2019

Ilustrasi: pixabay

Atorcator.Com – Mengapa ada iklan “Rokok Membunuhmu”, namun rokok masih diproduksi dan pabrik rokok tidak ditutup?


Taukah Anda bahwa di balik logika kesehatan itu ada keserakahan kaum kapitalis asing yang hendak menguasai bisnis global di bidang kretek. Pertarungan politik bisnis internasional menyebabkan Indonesia kehilangan kekayaan negerinya sendiri.

Tak lama setelah Soeharto jatuh, medio 1999, menyeruaklah isu perlunya pembatasan kadar kandungan tar dan nikotin. Dengan berlindung di balik isu kesehatan, beleid pembatasan tembakau akhirnya disahkan tahun 2009.


Industri rokok kretek terpukul, sementara rokok putih diuntungkan. Dengan slogan “low tar, low nicotin”, rokok kretek sempoyongan, sementara rokok putih yang menggunakan tembakau Virginia masih di atas angin. Padahal selama ratusan tahun rokok putih tak pernah bisa menggeser rokok kretek.


Dalam buku “Membunuh Indonesia: Konspirasi Global Penghancuran Kretek” diulas tentang adanya perang global melawan tembakau. Kampanye anti tembakau sesungguhnya bermula dari persaingan bisnis nikotin antara industri farmasi dengan industri tembakau di Amerika Serikat. Perusahaan farmasi berkepentingan menguasai nikotin sebagai bahan dasar produk Nicotine Replacement Therapy (NRT).


Di dalam negeri ada dua sisi bertolak belakang. Di satu sisi kebijakan anti tembakau sukses besar. PP tembakau sudah direvisi berkali-kali, puluhan Perda anti tembakau, UU Kesehatan dan RPP Pengamanan Produk Tembakau sebagai Zat Adiktif sedang digodok, kawasan dilarang merokok, iklan rokok tak selonggar dulu.


Sementara di sisi lain impor tembakau meningkat tajam. Tahun 2003 sebesar 29.579 ton naik menjadi 35.171 ton di 2004. Hingga 2008 mencapai 77.302 ton. Dalam waktu lima tahun ada kenaikan 250 persen. Impor cerutu juga naik. Rata-rata kenaikan 197,5 persen per tahun. Tahun 2004 impor cerutu masih US$ 0,09 juta, di tahun 2008 naik menjadi 0,979 juta.


Apalagi juga ada fakta raksasa rokok dunia masuk ke Indonesia. Philips Morris mencaplok Sampoerna (2005) dan BAT mengakuisi Bentoel (2009). Perusahaan farmasi yang menjual terapi rokok juga kian populer di Indonesia. (Industri kretek yang masih berada di tangan pihak Indonesia adalah Djarum, Gudang Garam, Djeruk dari daerah Kudus, Wismilak)
Selamat datang penguasa rokok dunia, selamat tinggal industri rokok kretek yang megap-megap menjelang ajal kematian. Industri kretek dalam negeri yang memayungi hampir 30 juta orang yang bekerja di sektor ini. Lambat tapi pasti rokok kretek menuju liang kematiannya.


Iklan “Rokok Membunuhmu” hadir melalui Peraturan Pemerintah (PP) 109/2012, spirit PP tersebut menghancurkan industri kretek nasional untuk digantikan oleh rokok putih milik Phillip Morris dan BAT, dll.


Kampanye “Rokok Membunuhmu” disponsori oleh Bloomberg Initiative, sebuah lembaga berkedudukan di Amerika Serikat. Bloomberg Initiative mengumumkan bahwa lembaga itu menyeponsori (membiayai) ilmuwan, kaum profesional, lembaga penelitian, lembaga yang mengamati produk dan kenyamanan hidup masyarakat yang membelinya juga, termasuk menyeponsori lembaga keagamaan, agar membuat fatwa haram atas rokok, maka jelas bahwa ada suatu tingkah laku yang mencerminkan keserakahan global.


Ada juga Gerakan Anti Rokok demi kesehatan lingkungan. Tapi tak tahukah mereka, bahwa di balik logika kesehatan itu ada keserakahan kaum kapitalis asing yang hendak menguasai bisnis global di bidang kretek?


Kretek kita sangat khas. Dan di negeri orang bule, kretek kita mengantam telak perdagangan rokok putih mereka. Kretek unggul. Dan karena itu mereka berhitung bagaimana kretek bisa mereka caplok.


Berbeda dengan penemuan Prof Sutiman Bambang Sumitro dari Pusat Penelitian Peluruhan Radikal Bebas di Malang. Setelah penelitian belasan tahun, salah satu bukti ilmiah yang ditemukan adalah, asap rokok memang mengandung zat merugikan, namun tak cukup kuat sebagai penyebab kanker.


Lebih jauh lagi, teori Prof Sutiman menyatakan, rokok menyebabkan kanker kebanyakan hanya hasil pengolahan data di rumah sakit, bukan di lapangan. Jadi, asal ada pasien mengidap kanker, dan kebetulan dia merokok, serta-merta rokok lah yang dituding sebagai penyebab tunggalnya.


Variabel-variabel lain yang terkait dengan gaya hidup si pasien, semisal ‘asupan’ polusi asap kendaraan, konsumsi MSG, dan sebagainya, diabaikan. Metode semacam itu jelas melanggar kaidah eksperimen ilmiah.


Dengan teori baru hasil penelitian ilmuwan bangsa sendiri tersebut, menjadi cukup jelaslah kenapa di sekitar kita banyak perokok aktif yang tetap sehat sampai lanjut usia. Banyak tokoh nasional yang perokok kretek tetap bugar dan produktif hingga usia senja.


Sebut saja misalnya Haji Agus Salim, mantan Menteri Pendidikan Prof Fuad Hasan, penulis besar Pramoedya Ananta Toer, master menggambar Pak Tino Sidin, tokoh Muhammadiyah Prof Malik Fadjar, dan masih banyak contoh lain.


Mengapa industri kretek menjadi sasaran Amerika? Karena industri ini sudah memberikan sumbangan berharga bagi struktur ekonomi Indonesia.


Kekuatan industri kretek itu setidaknya karena beberapa hal: Pertama, tumbuh berkembang dan bertahan lebih dari satu abad tanpa ketergantungan modal pada negara. Kedua, menggunakan hampir 100% bahan baku dan konten lokal. Ketiga, terintegrasi secara penuh dari hulu ke hilir dengan melibatkan tak kurang dari 30,5 juta pekerja langsung maupun tak langsung. Keempat, industri melayani 93% pasar lokal.


Dengan karakter sekokoh itu, tak ayal industri kretek menjadi salah satu prototipe kemandirian ekonomi nasional. Kekuatan inilah yang diincar neo-kolonialis gaya baru yang ingin menguasai industri rokok, tapi dengan mematahkan ketangguhan industri kretek Indonesia. Caranya lewat kampanye ANTI ROKOK melalui iklan ROKOK MEMBUNUHMU.
Sejatinya, bukan “Rokok Membunuhmu”, tapi “Konspirasi Global Membunuh Indonesia”.


Selamat merokok kretek…!!!
#komunitaspembelapetanitembakau


Akhmad Fauzan Rofiq, M.Pd.I Pengasuh Pesantren Babul Ulum Nyalaran Blumbungan Larangan Pamekasan | Dosen Tafsir Ayat Ahkam di STAI Miftahul Ulum Pamekasan

Related Posts