Media Sosial Pembuat Gaduh? - Atorcator

Media Sosial Pembuat Gaduh?

Penulis: Syaefudin Achmad
Jumat 6 September 2019

Ilustrasi: Poslovni



Atorcator.Com – Selain karena sifat ego yang dimiliki masing-masing orang, kegaduhan sangat rentan muncul di sebuah forum yang diisi oleh orang yang heterogen, berasal dari beraneka ragam model, latar belakang, status sosial, agama, dan aspek yang lain. Sifat ego pada masing-masing orang membuatnya merasa pendapatnya paling benar sehingga jika ada pendapat lain yang bertolak belakang dia akan langsung protes keras. Berkumpulnya berbagai macam model orang turut andil dalam memperbesar kegaduhan.


Sebuah tema yang dibahas dalam forum yang diisi oleh orang yang sejenis, mungkin tidak akan gaduh. Tapi tema itu bisa menjadi gaduh ketika dibahas oleh orang lain yang berbeda jenis. Tema-tema seputar agama yang sudah lumrah dikaji, dibahas, dan didiskusikan di forum akademik bisa menjadi sebuah kegaduhan jika diangkat ke forum di luar akademik.


Dalam ranah akademik, tema-tema kontroversi seperti Disertasi Abdul Aziz sudah lumrah dibahas, dikaji, dan didiskusikan di forum akademik. Sama sekali tidak ada kegaduhan. Tapi hal itu langsung menjadi kegaduhan dalam sekejap mata ketika dingkat ke media sosial yang diisi oleh berbagai macam model orang.


Siapapun saat ini bisa aktif dalam forum bernama media sosial. Dari mulai presiden, menteri, pejabat, intelektual, akademisi, pengusaha, orang dari berbagai macam agama, mahasiswa, santri, buruh, dokter, pedagang, bu-ibu rumah tangga, ustadz, kyai, dan sebagainya. Fakta ini membuat apapun yang diangkat di media sosial akan cepat gaduh.


Yang selayaknya mengomentari disertasi Abdul Aziz adalah akademisi, jadi nyambung dan jika ada kritikan, itu kritik yang membangun. Tapi yang banyak ngasih komentar justru di luar akdemisi, bahkan mungkin ada orang yang belum tahu disertasi itu apa, Syahrur itu siapa, dll. Mereka hanya tahu dari judul berita, Abdul Aziz membolehkan hubungan intim di luar nikah berdasarkan Konsep Milk Al-Yamin.


Kegaduhan di media sosial karena disertasi Abdul Aziz bukan barang baru. Sebelum ini sudah banyak sekali kegaduhan-kegaduhan di media sosial, misalnya saat kasus Ahok, Pilkada, Pilpres, Habib Rizieq, UAS, dan sebagainya. Semua pemilik akun media sosial merasa berhak untuk mengomentari setiap
kegaduhan di media sosial tanpa melihat apakah dirinya layak untuk memberikan komentar.


Tanpa tahu duduk persoalannya, Jokowi dituding anti Islam lah, mengkriminalisasi ulama lah, antek PKI lah. Belum nyinyiran soal hutang negara, soal tarif listrik, akuisisi freeport, pindah ibu kota, hingga kerusuhan di Papua.
.
Inilah realita kehidupan zaman sekarang. Semua orang bebas berbicara dan berkomentar apapun di media sosial, tak peduli latar belakang pendidikan dan sosialnya bagaimana. Endingnya, yang ada hanya kegaduhan. Peristiwa sepele menjadi dibesar-besarkan.


Dia zaman media sosial seperti ini, kegaduhan memang semakin mudah muncul. Tak seperti zaman dulu dimana orang tidak punya wadah untuk mengomentari apapun yang terjadi. Terlepas dari manfaat keberadaan media sosial, saya kira tak keliru jika media sosial dianggap sebagai pembuat kegaduhan.


(SA)


Syaefudin Achmad Dosen IAIN Salatiga Asal Purbalingga Jawa Tengah

komentar

Related Posts