Menjadi Orang Indonesia yang Nasionalis-Religius - Atorcator

Menjadi Orang Indonesia yang Nasionalis-Religius

Penulis: Saefudin Achmad

Jumat 13 September 2019

Ilustrasi: Artikula

Atorcator.Com – Menjadi orang Indonesia yang baik secara konsep sebenarnya mudah dan sederhana, hanya saja implementasinya yang sulit. Cukup dua hal yang harus dimiliki oleh orang Indonesia, yaitu menjadi nasionalis dan religius.


Dua hal ini bisa saling mendukung satu sama lain, nasionalis bisa memperkuat religiusitas, pun begitu sebaliknya, religius bisa memupuk nasionalis. Dua hal.tersebut juga bisa menjadi landasan sikap-sikap positif yang lain.

Menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), nasionalis bisa bermakna pencinta nusa dan bangsa sendiri; orang yang memperjuangkan kepentingan bangsanya; patriot: ia adalah seorang pejuang — sejati. Saya rasa makna nasionalis tidak perlu dijelaskan lebih lanjut karena mayoritas dari kita sudah memahami definisinya, meskipun belum tentu bisa mengaplikasikannya dengan baik di dalam kehidupan tanah air.

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, re·li·gi·us /réligius/ diartikan bersifat religi; bersifat keagamaan; yang bersangkut-paut dengan religi: ia sangat terkesan akan kehidupan — di Indonesia. Sedangkan menurut ahli, religius dimaknai sebagai suatu sikap dan perilaku yang taat/patuh dalam menjalankan ajaran agama yang dipeluknya, bersikap toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, serta saling menjalin kerukunan hidup antar pemeluk agama lain.

Apakah nasionalis bisa memperkuat religius? Jawabaannya bisa.

Orang yang nasionalis tidak sekedar cinta kepada tanah air, tetapi berusaha mengimplementasikan nilai-nilai luhur pancasila dalam kehidupan sehari-hari, serta patuh terhadap undang-undang dan aturan yang berlaku. Sila pertama pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Implementasi dari nilai Ketuhanan Yang Maha Esa adalah menjadi orang yang ber-Tuhan (agama) dengan mematuhi segala perintah dan larangan-Nya.

Lalu apakah religius bisa memperkuat nasionalis? Jawabannya bisa.

Karena saya muslim, saya akan menyampaikan menurut perspektif ajara  Islam. Menurut KH Ahmad Ishomuddin, sebagaimana yang dilansir oleh nu.or.id, ada beberapa dalil tentang cinta tanah air dalam perspektif ajaran Islam:

Pertama, cinta tanah air dalam al-Qur’an dan menurut para ahli tafsir. Allah berfirman, “Dan sesungguhnya jika seandainya Kami perintahkan kepada mereka  (orang-orang munafik): “Bunuhlah diri kamu atau keluarlah dari kampung halaman kamu!” niscaya mereka tidak akan melakukannya, kecuali sebagian kecil dari mereka…” (QS. An-Nisa’: 66)

Dalam Tafsir al-Kabir, al-Imam Fakhr Al-Din al-Razi menafsirkan ayat di atas, “Allah menjadikan meninggalkan kampung halaman setara dengan bunuh diri.”

Kedua, cinta tanah air dalam hadits dan penjelasan ulama pen-syarah-nya. “Diriwayatkan dari Anas, bahwa Nabi SAW. ketika kembali dari bepergian dan melihat dinding-dinding Madinah, beliau mempercepat laju untanya. Dan apabila  beliau menunggangi unta maka beliau menggerakkannya (untuk mempercepat) karena kecintaan beliau pada Madinah.” (HR.  Al-Bukhari, Ibn Hibban dan al-Turmudzi)

Mengomentari hadits di atas, dalam Fath al-Bari, al-Hafidz Ibnu Hajar menyatakan, “Hadits ini menunjukkan keutamaan kota Madinah dan disyariatkannya cinta tanah air.” Hal yang sama juga dikemukakan dalam kitab ‘Umdat al-Qariyoleh Badr al-Din al-‘Aini.

Ketiga, cinta tanah air menurut para ahli fiqih. Bahwa hikmah berhaji dan pahalanya yang besar karena mendidik jiwa menjadi lebih baik dengan meninggalkan tanah air dan keluar dari kebiasaannya. Dalam kitab al-Dakhirah, al-Qarafi menyatakan, “Manfaat haji adalah mendidik diri dengan meninggalkan tanah air.”

Keempat, cinta tanah air menurut para wali. Orang-orang yang saleh senantiasa mencintai tanah air. Dalam kitab Hilyat al-Awliya’, Abu Nu’aim meriwayatkan dengan sanadnya kepada pimpinan kaum zuhud dan ahli ibadah, Ibrahim bin Adham, ia berkata, “Saya tidak pernah merasakan penderitaan yang lebih berat daripada meninggalkan tanah air.”

Karena bisa saling memperkuat, maka orang yang mengaku nasionalis tapi tidak menjadi religius, berarti ada yang salah dari konsep nasionalis yang dipahami. Sebaliknya, jika ada orang yang mengaku religius, tapi tidak mencintai tanah air, artinya ada yang keliru dari konsep religius atau ajaran agama yang dipahami.

Selain hubungan saling memperkuat antara nasionalis dengan religius, keduanya juga bisa menjadi landasan bagi sifat, perilaku, karya, hal-hal positif lain yang bisa memajukan Indonesia. Orang yang cinta tanah air akan terus berjuang sesuai bidangnya masing-masing untuk mengharumkan ibu pertiwi. Religius membuat orang Indonesia tidak melakukan perbuatan tercela seperti menipu, zalim, curang, khianat, dan sebagainya.

Cukup dua aspek saja untuk menjadi orang Indonesia yang baik, yaitu nasionalis-religius. Meskipun begitu, dua aspek itu cukup berat implementasinya.


(SA)


Syaefudin Achmad Dosen IAIN Salatiga Asal Purbalingga Jawa Tengah

komentar

Related Posts