Prof. Quraish Shihab Pun Masih Suka Bercanda

Penulis: Ahmad Ishomuddin
Ahad 22 September 2019



Atorcator.Com – Hari Rabu pagi ini, 18/09/2019, saya mendapat berkah dan kegembiraan yang wajib saya syukuri. Saat sarapan pagi sambil berbincang ringan dengan Prof. Dr. Komaruddin Hidayat dan Mas Ulil Abshar Abdalla, tiba-tiba guru kita, mufasir kebanggaan Bangsa Indonesia, Prof. Dr. Quraish Shihab, M.A., beserta isteri dan puteri beliau sudah berada di restoran Double Tree Hilton, Cikini, Jakarta. Beliau yang juga akan sarapan pagi, segera kami persilakan untuk bergabung satu meja. Dengan wajah berseri, mengekspresikan kebahagiaan, beliau berkenan duduk bersebelahan dengan saya dan Mas Ulil.


Kesempatan baik tersebut tidak saya sia-siakan untuk bertanya tentang tafsir al-Quran, karena beliau memang pakarnya. Saya bertanya tentang nama pengarang kitab “al-Burhan fi Taujihi Mutasyabih al-Quran”, itu karya al-Karmaniy atau al-Kirmaniy? Pak Quraish menjawab bahwa boleh dibaca keduanya, di-fathah-kan atau di-kasrah-kan huruf “kaf”nya, yakni boleh al-Karmaniy atau al-Kirmaniy.


Kata Pak Quraish, melanjutkan penjelasannya, bahwa beliau bersahabat dengan cucu al-Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, nama nisbatnya oleh cucunya itu dibaca dengan mem-fathah-kan huruf “jim”nya, yakni al-Jailani.
Saya langsung teringat tiga jilid kitab tebal berjudul” al-Lubab fi Tahdzib al-Ansab” karya Ibn al-Atsir yang secara spesifik membahas cara baca nama yang ada nisbatnya.


Saya katakan kepada Pak Quraish bahwa dalam kitab tersebut nama nisbat al-Jailani itu dibaca dengan meng-kasrah-kan huruf “Jim” nya, yakni al-Jilani. Mendengar itu pak Quraish menimpali dengan menjelaskan nama marga beliau sendiri, yakni Shihab yang tertera di belakang nama beliau. Beliau pernah mendapat penjelasan dari ayahnya tentang mana yang dipilih jika ada nama marga yang salah namun terkenal (al-khatha’ al-masyhur), seperti nama “Syahab”, atau nama nisbat marga yang benar namun tidak populer (al-shawab al-mastur)? Ayahnya mengatakan perlu ada yang berani menyampaikan untuk menggunakan nama nisbat marga yang al-shawab al-mastur (benar yang meskipun tidak populer), yakni “Syihab”.


Guru kita, Pak Quraish Shihab, saat kuliah di Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir, pernah bertanya kepada salah seorang gurunya tentang kaidah fikih “al-‘adah muhakkamah” atau “muhakkimah”? Guru beliau menjawab, boleh kedua-duanya, yang penting jangan dibaca “al-adah mahkamah”. Mendengar candaan pak Quraish Shihab dari gurunya itu kami pun tertawa bersama.


Begitulah beliau sebagai seorang ulama besar pun masih mau bercanda, tertawa, sambil terus menularkan ilmunya dengan santun, cinta, dan kelemahlembutan. Nyatalah bahwa guru kita yang layak diteladani bukanlah mereka yang beragama dengan senang marah-marah dan sulit untuk tersenyum. Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah bagimu. Menggembirakan hati saudaramu juga sedekah bagimu.[Source: Status Facebook Ahmad Ishomuddin]

Related Posts