Tempo, Sensasi, Kebebasan yang Kebablasan - Atorcator
Latest Update
Fetching data...

Selasa, September 17, 2019

Tempo, Sensasi, Kebebasan yang Kebablasan

Penulis: Saefudin Achmad
Selasa 17 September 2019
ilustrasi: MajalahTempo
Atorcator.Com - Jika Majalah Tempo memasang cover foto presiden Soeharto dengan bayangan hidung panjang ala pinokio di era Orde Baru, mungkin saat itu juga pemerintah akan langsung membrendel atau menjebloskan pimrednya ke penjara. Masih mending kalau cuma dibrendel. Bukan tak mungkin pimrednya akan langsung di-dor.

Untungnya  Majalah Tempo memasang foto presiden dengan bayangan hidung panjanh ala pinokio di era Jokowi. Tenang, pemerintah tidak akan membrendel, menjebloskan ke penjara, apalagi sampai melenyepakan pimrednya dari muka bumi. Jelas tak mungkin terjadi. Paling-paling Majalah Tempo hanya akan mendapat sanksi sosial, dikecam masyarakat atau paling parah banyak pelanggan yang berhenti berlangganan.

Jokowi tidak akan sedikitpun merasa marah atau tersinggung dengan ulah Tempo, apalagi sampai menjebloskan ke penjara. Jokowi akan tetap fokus bekerja. Apa yang dilakukan Tempo bukan hal baru. Sudah lima tahun Jokowi dihina dan dicaci maki entah lewat tulisan maupun gambar. Tak pernah satupun yang dituntut olehnya. Yang tidak terima biasanya rakyat yang masih waras.

Blunder yang dilakukan Tempo adalah bukti dunia jurnalistik di Indonesia sedang sakit. Media cenderung lebih mementingkan membuat berita yang  berpotensi viral, dengan judul dan gambar kontroversi yang memancing orang untuk membaca. Semakin banyak pembaca, keuntungan finansial akan berlipat-lipat. Sebatas itu. Maka jangan heran kalau kita sering membaca judul-judul berita media mainstream yang seperti tidak ada bedanya dengan judul berita di media abal-abal.

Tempo memang sejak dulu dikenal media yang kerap mengkritisi pemerintah. Saya kira hal ini sebenarnya bagus, asalkan kritikan ini berbasis data yang valid, serta tidak membubuhkan gambar yang merendahkan seorang presiden. Bagaimanapun presiden adalah simbol negara. Meskipun kita tidak sepakat dengan kebijakannya, sebagai warga negara yang baik tetap harus menghormatinya.

Pinokio adalah boneka kayu yang menggambarkan orang yang berbohong. Jika berbohong maka hidungnya memanjang. Menggambarkan Jokowi seperti pinokio tentu sudah kebablasan meskipun sebagai media jurnalistik Tempo punya kebebasan dalam membuat konten. Bahwa masih ada janji-janji Jokowi yang belum bisa dipenuhi, itu hal yang manusiawi.

Sepengetahuan saya, tidak ada presiden di negara manapun yang berhasil menepati 100 persen janji kampanye. Tapi dengan kinerja, karya, dedikasi, dan prestasi yang ditorehkan oleh Jokowi, sangat tidak beradab ketika beliau digambarkan seperti pinokio, apalagi oleh media nasional yang terdaftar di dewan pers.

Parahnya, Tempo masih membela diri dengan pembelaan yang sangat tidak argumentatif, sekedar ngeles saja. Redaktur Eksekutif Majalah Tempo, Setri mengaku tidak bermaksud menghina Jokowi selaku kepala negara seperti yang dituduhkan. Alasannya yang tergambar dalam sampul Majalah Tempo itu adalah bayangan Pinokio dan tidak mengubah gambar pada Jokowi.

"Tempo tidak berniat menggambarkan Presiden sebagai Pinokio. Yang tergambar adalah bayangan Pinokio," katanya. (sumber: detik.com)

Saya jujur tak menyangka sekelas Tempo akan membuat pembelaan yang demikian receh. Namanya bayangan, pasti bentuknya sama dengan benda. Hanya beda ukuran besar atau kecil. Tapi kalau bentuk bayangan, sudah pasti sama dengan bentuk benda (pelajaran IPA kelas 6 SD). Ketika ada bayangan foto Jokowi hidungnya panjang, artinya terbentuk dari foto Jokowi yang hidungnya panjang juga. Meskipun yang hidungnya panjang adalah bayangannya, sama sekali tidak menghilangkan esensi bahwa Jokowi yang sedang digambarkan sebagai pinokio yang hidungnya panjang.

Saya berharap ulah Tempo dalam membuat sensasi agar majalahnya laku keras tidak ditiru media lain. Masih ada cara-cara yang lebih beradab untuk memproduksi karya jurnalistik yang berkelas dan berkualitas. Saya juga berharap Tempo mau berbenah dan memperbaiki diri lagi. Sebagai media besar, yang terdaftar di dewan pers, dan sudah cukup lama berkiprah tentu tidak ingin citra baiknya langsung hancur seketika karena sebuah blunder yang tidak perlu.

Saya sudah baca Majalah Tempo sejak lama. Kebetulan di rumah ada koleksi Majalah Tempo edisi lama sebelum saya lahir milik bapak yang kebetulan suka membaca dan megoleksi majalah politik. Tidak ada cover yang aneh-aneh seperti sekarang ini.
(SA)

Syaefudin Achmad Dosen IAIN Salatiga Asal Purbalingga Jawa Tengah