Demo Mahasiswa dan Demo Gelandangan Khilafah

Penulis: Ninoy N Karundeng
Selasa 1 Oktober 2019



Atorcator.Com – Demo mahasiswa. Makin terkuak. Yang menunggangi? Di belakangnya sama. Benang merahnya sama. Pemainnya ya itu-itu saja. Foto-foto demo di DPR 23-24 September 2019 membuka mata aparat. Jadi titik menguak lebih dalam.


Juga rancangan pertemuan para begundal politik. Makin ke sini muncul benang sangkut merah. Kerikil begundal demokrasi. Termasuk demo gelandangan pendukung khilafah, Sabtu (28/9/2019).


Muncul Permadi. Politisi Gerindra. Ada juga si Khattath. Soenarko. Lalu 212 Mujahid yang gagal total. Poster mahasiswa dikerek-kerek.


Demo kemarin Sabtu (28/9/2019) mendatangkan kalangan pendukung gelandangan Khilafah. Artinya para begundal berbaju agama yang memimpikan negara khilafah.


Tidak mendapat sambutan. Berkedok membela NKRI, tapi mereka menenteng bendera HTI, bendera khilafah. Merah Putih tidak mereka bawa.


(Dua hari menjelang Sabtu, timbul perpecahan internal. Judul demo Tauhid atau 212. Bingung. Tauhid jika dibawa akan meruntuhkan gerakan khilafah. Titik kompromi diambil. 212 yang udah tak laku dikorbankan. Yang di bawah bingung. Haha.)


Kenapa? Karena dua bohir utama rezim lama tidak turunkan logistik. Beda dengan ketika 212 karena SBY saat itu menjadi provokator utama dan pendorong kasus Ahok. Sampai serak dia berteriak. Karena di belakangnya ada motif. AHY naik jadi Gubernur. Walau akhirnya disalip oleh JK – yang mendorong Anies.


Bohir lainnya? Cendana pun konsentrasi membiayai gerakan lain yang lebih panas. Luas. Dari politikus sampai organisasi dan yayasan. Dari orang per orang sampai ke masjid. Dan, media.


Mahasiswa tidak buta politik. Analisa profil laporan pertemuan di beberapa universitas swasta dan negeri di Jakarta dan Jabodetabek, serta Jogja dan Bandung, menyimpulkan beberapa hal.


Sebagian para anggota mahasiswa mengambil jalur sesuai dengan keyakinan politik. Keyakinan politik ini paralel dengan ideologi mereka. Jika mereka terpapar gerakan khilafah, radikal, pengaruh orang tua, maka gambarannya menjadi mirip. Meski mereka membungkus dengan rapi. Kasus briefing mahasiswa/BEM di KPK itu salah satu wujud ideologi politik mereka. Warna mereka.


Kalaulah mahasiswa itu steril dari dunia ideologi khilafah, radikal, maka mereka akan menolak tegas kebenaran disusupi kejahatan – atas nama agama atau pun kepentingan politik. Ini muncul dalam video ketika seorang mahasiswa menolak keras komporan politisi Gerindra yang meneriakkan demo-demo untuk menjungkalkan Jokowi.


Warna kepentingan ditunggangi kepentingan politik dari demo-demo mahasiswa menjadi semakin jelas. Salah satu ciri demokrasi dan gerakan mahasiswa adalah mementingkan dialog. Demo dilakukan ketika ruang dan kesempatan untuk berdiskusi hilang. Mampat.


Ketika Jokowi mengundang mahasiswa/BEM. Dengan pongahnya BEM menolak. Tidak tahu diri. Undangan kepala negara dianggap sebagai ajang PR. Mental buruk mahasiswa di sini muncul. Merasa di atas angin, para mahasiswa itu memberikan syarat-syarat untuk bertemu Presiden Jokowi. Aneh.


Terlepas dari kesalahan Istana ingin mengundang ke Istana para BEM/mahasiswa yang lagi naik daun pekan lalu – (sekarang gerakan BEM/mahasiswa ini sudah mati. Karena ditunggangi – meski gagal total yang menunggangi. Mahasiswa yang otaknya normal sudah ogah ikut demo lagi.)


Undangan Jokowi pada BEM menjadi pisau yang mencabik mahasiswa/BEM. Menolak undangan Jokowi adalah bentuk arogansi. Siapa elu? Begitu publik kini melihat gerakan mahasiswa.


Sombong. Songong. Tidak memiliki etika – karena memang dari PAUD sampai PT tidak ada pelajaran budi pekerti. Yang untung justru PR bagi Jokowi – dia orang sipil yang demokratis.


Fakta berikutnya. Bangkrutnya 212 pada acara Sabtu (28/9/2019) hanya diikuti oleh anak-anak kecil, gelandangan dari Bekasi, Depok, Tangerang, Sukabumi, Jakarta Utara. Plus ibu-ibu khilafah berbaju daster hitam bertutup kain celemek di muka mereka.


Walau dengan bangganya mereka memunculkan para mahasiswa di poster yang menjadi inisiasi lanjutan – dari skenario besar untuk membuat gerakan seperti 212. Mahasiswa dan pelajar akan diajak untuk membuat skenario besar. Demo. Kerusuhan. Jokowi turun. Persis seperti kata Permadi. Edan.


Maka, dengan munculnya gerakan mahasiswa 23-24 September 2019, begitu banyak yang tampak di permukaan. Para penjahat dan begundal kelihatan di depan mata. Tinggal setelah 20 Oktober 2019 akan terlihat Jokowi memilih para pembantunya.


Yang diharapkan akan membersihkan NKRI dari Khilafah – yang selalu menunggangi agama sebagai kedok kejahatan mereka. Dengan membuat peraturan yang jelas. Agar penyebar khilafah perorangan bisa diperlakukan sejajar dengan PKI.


Sesungguhnya para mahasiswa tidak buta. Yang buta adalah para penumpang gelap seperti HTI dan khilafah, plus politikus begundal penjual negara. (Penulis: Ninoy N Karundeng).

Related Posts