Hati-Hati dengan Kaum Takfiri, dan Belajarlah dengan Kiai-Kiai NU

Penulis: Muhammad Salim
Ahad 6 Oktober 2019
Atorcator.Com – Pengasuh Pondok Pesantren Buntet Cirebon KH Muhammad Abbas Billy
Yachsyi Fuad Hasyim peringatkan umat Islam agar waspada terhadap kelompok
takfiri, hal tersebut disampaikan dalam acara haul ke-45 KH Abdal Adzim bin Mad
Nahri di Pesantren Sarongge Desa Cigintung Kecamatan Singajaya, Garut, Jawa
Barat, Kamis (3/10).
Dalam tausyiahnya, KH Abbas
menjelaskan bahwa kelompok takfiri bersembunyi dibalik ayat Al-Qur’an dan
hadits sebagai tameng. Karena tanpa hal tersebut, mereka tidak akan mendapatkan
simpati dari masyarakat. 
“Sejak
zaman Khulafaurrasyidin, kaum takfiri berani mengkafir-kafirkan sahabat
Nabi, terutama sayidina Ali RA yang jelas termasuk calon ahli surga serta
menantu Nabi Muhammad SAW,” ujarnya.
Dijelaskan, kaum muslimin pada saat
itu banyak terpengaruh terhadap doktrin tersebut, sehingga banyak kaum muslimin
yang juga ikut mengkafirkan Sayidina Ali.
“Kelompok takfiri gunakan
Al-Qur’an dan hadits sebagai tameng, terutama untuk mengambil simpati
masyarakat. Pada zaman Khulafaur Rasyidin, kaum takfiri doktrin masyarakat awam
dengan Al-Qur’an dan hadits sebagai senjata, sehingga mereka ikut mengkafirkan
Sayidina Ali pada saat itu,” tegas KH Abbas
Selain itu, KH Abbas juga ingatkan
kepada warga NU Singajaya agar jangan sampai membenci ulama NU, membenci
pemerintah, TNI, dan Polri apalagi Banser karena propaganda kelompok takfiri
melalui bendera HTI. Karena sejatinya kalimat tauhid diagungkan oleh warga NU
melalui tahlil yang diucapkan, bukan dituliskan di bendera.
“Jangan sampai bapak dan ibu benci
terhadap ulama NU, benci pada pemerintah, benci pada TNI dan Polri, apalagi
pada Banser, karena mereka adalah penjaga NKRI. Apalagi dengan bendera HTI,
karena sejatinya yang mengagungkan kalimat tauhid itu NU, karena setiap warga
NU membaca tahlil saat wirid dan tahlilan, bukan dituliskan pada bendera,”
tuturnya.
“Jangankan ulama NU, Sayidina
Ali RA yang jelas-jelas sahabat nabi dan termasuk Khulafaurrasyidin saja
dikafirkan, apalagi ulama zaman sekarang. Jadi kita harus hati-hati dalam
menerima doktrin agama karena dikhawatirkan berisi radikalisme,” imbuhnya.
Kiai Abbas juga berpesan agar
masyarakat masuk ke dalam NU atau kembali ke NU dan memahami NU secara holistik
(menyeluruh). Karena tidak sedikit kiai, santri, dan masyarakat yang mengaku
NU, walaupun secara keseharian mengamalkan dzikir, shalawat, qunut, dan
lainnya. 
“Namun harakah (gerakan) dan
fikrahnya (pemikiran) bertentangan dengan NU. Sehingga Allah akan mencabut
keberkahannya dan disatukan dengan pengkhianat,” tutupnya.
Terlihat dalam acara tersebut Wakil
Ketua PWNU Jawa Barat KH Aceng Abdul Mujib Pengasuh Pesantren Safinatul Faizin
Fauzan 2 KH Aceng Abun Sohibul Burhan, Pengasuh Pondok Pesantren Fauzan 1
sekaligus Rais Syuriah MWCNU Sukaresmi KH Aceng Muhammad Ali, Pengurus MWCNU Kecamatan
Singajaya.
Hadir pula Kapolsek Kecamatan
Singajaya Iptu Sahono, Kepala Desa Cigintung Dida, puluhan ajengan, pimpinan
pesantren, alumni, dan ratusan masyarakat Garut dengan khidmat mengikuti acara
haul sampai akhir.

*Tulisan ini sebelumnya dimuat di NUonline

Related Posts