Kalau Anda Cinta Pak Jokowi, Harus Terus Mengkritiknya

Penulis : Prof. Sumanto Al Qurtuby
Selasa 29 Oktober 2019



Saya perhatikan sejumlah postinganku beberapa hari ini yang mengkritik Pak Jokowi menjadi semacam “bola liar”. Ada yang memakainya untuk “menjustifikasi” kekecewaan dan kekalahan (seperti yang dilakukan oleh “kelompok militan” anti-Jokowi). Ada yang bilang akunku dihack. Yang lain bilang saya “nyinyir”. Yang lain lagi bilang saya sudah jadi anti-Jokowi. Bahkan ada yang bilang karena saya gak jadi menteri. Ya ampuunnn. Terlalu…


Saya dukung total Pak Jokowi sejak Pilpres 2014, tanpa embel-embel ingin ini-itu, pada saat banyak orang masih meragukannya, saat banyak ormas Islam tidak mendukungnya (bahkan NU waktu itu banyak sekali yang pro-Prabowo), saat banyak parpol tidak mengusungnya (waktu itu parpol utama yang dukung Jokowi cuma PDIP, PKB dan Nasdem), saat banyak tokoh mengelu-elukan Prabowo (sebagian dari mereka dukung Jokowi pada 2019). Saya tetap mendukungnya. Tak peduli orang bilang apa. Hal yang sama saya lakukan pada Ahok, meski banyak orang membullyku edan-edanan. EGP.


Ini bukan soal jabatan coy karena “hidup” buatku sudah selesai. Saya juga bukan tipe orang yang kemaruk harta dan jabatan yang hobi menumpuk harta benda dan mencari posisi. Lagi pula selama ini saya belum pernah bekerja di Indonesia. Mau siapapun presiden dan menterinya nggak akan ngefek sama sekali ke saya. Saya bukan PNS, bukan pegawai Kemenag, Kemendikbud, dlsb.


Saya mengkritik karena saya peduli. Mengkritik itu berbeda dengan nyinyir dan menghina. Silakan buka kamus dan ensiklopedi. Kalau yang terakhir ini spesialis si Sugik pemilik hak paten “jaran dobol picek matane” dan teman-temannya.


Saya mengkritik karena Pak Jokowi adalah seorang manusia tempat salah dan lupa. Ia bukan dewa atau malaikat. Sangat berbahaya kalau Anda mendukungnya dengan membabi buta. Sangat berbahaya kalau Anda mengultuskannya. Sangat berbahaya kalau Anda menilainya selalu benar dalam mengambil keputusan.


Anda harus menjadi pendukung yang cerdas dan kritis, bukan loyalis fanatik model bebek angsa. Anda harus ingat: tujuan utama adalah “Bangsa Indonesia” bukan Pak Jokowi. Beliau itu hanya “sasaran antara” dan jalan saja. Yang harus diutamakan adalah masa depan bangsa dan negara Indonesia.


Harus diakui ada sejumlah pos kementerian (dan wakil kementerian), bukan hanya Kemenag dan Kemendikbud saja, yang jatuh ke tangan orang-orang yang tidak pas, berdasarkan kualitas, kompetensi, kapasitas, rekam jejak, dan latar belakang mereka. Ini harus dikritik. Pak Jokowi harus “diingatkan”.


Harus diakui Pak Jokowi bukan orang yang “bebas merdeka” dalam mengambil keputusan. Ada “tangan-tangan gaib” yang sangat kuat yang ikut mengambil dan mempengaruhi keputusannya. Silakan Anda baca “teori oligarchy”.


“Tangan-tangan gaib” itu bisa bos partai, bos perusahaan, bos kampanye, bos keamanan, dlsb. Kalian jangan lugu melihat “drama politik”. Tidak benar, sama sekali tidak benar, kalau semua itu hanya inisiatif Pak Jokowi. Tahu kenapa? Karena Pak Jokowi bukan seorang raja. Raja saja kadang memutuskan sesuatu karena bisikan permaisuri atau istri tercinta.


Jabal Dhahran, Jazirah Arabia


*Tulisan ini sebelumnya dimuat di Beranda Facebook Sumanto Al Qurtuby

Related Posts