Kaya itu Soal Mental, Bukan Soal Seberapa Banyak Uang

Penulis: Teguh Afriyadi
Jumat 18 Oktober 2019
msn

Atorcator.Com – Ketika masih menjadi mahasiswa dulu,
yang muda, kere, ugal-ugalan, namun tidak berprestasi, saya sempat berpikir
bahwa kelak saya dianggap sukses secara ekonomi jika saya bisa membeli makanan
yang saya mau tanpa harus melihat harganya terlebih dahulu. Maklum, zaman
mahasiswa, harga makanan jadi pertimbangan sebelum membeli. Jiwa miskin saya
selalu tersiksa jika melihat harga makanan mahal tak terbeli. “Kapitalis
banget!”, kata saya dalam hati, padahal itu jelas karena kesal tak mampu
beli.

Beberapa minggu lalu, selesai mengajar kelas jaksa di Surabaya, saya kelaparan.
Berhubung waktu yang mepet, saya memutuskan untuk makan di bandar udara Juanda.
Saya memilih stand makanan terdekat dengan gate keberangkatan. Warung nasi
rawon, pilihan saya!

Sebagai bakal calon orang kaya, tanpa ragu, saya langsung memesan seporsi rawon
dan sebotol minuman kemasan. Selesai memesan, iseng saya tanya, “Berapa ya mas
harga seporsi rawon dan satu minuman kemasan?” kata saya. “Delapan puluh lima
ribu perak pak”, kata penjualnya dengan santai. “Astaghfirullaaaah, mahal
amaaat woii!!! Mau naik haji berapa kali lagi masss???”. Itu teriakan saya,
tapi dalam hati.

Kenyataanya, saya tetap kalem, bernafas dengan teratur, jaga gengsi, jaga
wibawa. Saya lanjut makan dengan tetap ceria macam orang kaya. Saya lumat habis
semua daging rawon yang tidak banyak itu, saya tak rela menyisakan setetes kuah
rawonpun di mangkuk.


Hati saya ini yang belum bisa terima, meski sebenarnya uang saya lebih dari
cukup di dompet, entah kenapa saya merasa masih belum rela untuk melepas
kepergian lembaran uang biru, hijau, dan merah untuk seporsi rawon dan minuman
yang bahkan rasanya biasa saja dan porsinya tak banyak. Ironinya, waktu saya
makan di negara-negara yurop, yang sekali makan bisa belasan Euro (ratusan ribu
rupiah), saya tak pernah merasa mahal. Duh.

“Dasar pelit! Dasar pelit!”. Saya memaki-maki diri sendiri. Meski tujuan
utamanya ya agar saya tak terlalu menyesal ketika membayar rawon nanti.

Usai makan, saya sudah bisa kendalikan diri, saya tanya lagi. “Berapa mas
semuanya?”. Lagi-lagi mas-mas penjual menjawab dengan santai, “Total tiga ratus
dua puluh ribu perak pak”. Reflek, saya langsung ngegas gigi lima, “Apaaaaa?
Mahal amat bosss!!”. Suara saya meninggi 3 oktaf. Tangan saya yang sedang
mengambil uang di dompet, tiba-tiba nyangkut di kantong. Bola mata saya mau
keluar. Mas-mase penjual langsung kaget, diam sejenak, sadar dia salah,
langsung segera meralat. “Maaf pak, saya kira tiga orang berbaju batik di
samping bapak itu teman bapak juga..saya hitung sekalian tadi”. Katanya,
cengengesan. Cesssss, lega banget sodara-sodara, ternyata itu harga untuk empat
orang.

Rupanya benar, kaya itu bukan soal seberapa banyak uang yang kita miliki, tapi soal
MENTAL!

Related Posts