Media Sosial: Perkawanan Tanpa Syarat?

Penulis: Teguh Afriyadi
Sabtu 5 Oktober 2019

Liputan6



Atorcator.Com – Dua hari lalu, saya mendapat kehormatan kunjungan sahabat semedsos yang selama ini saya hanya baca cerita dan tulisannya di beranda facebook. Kang Indrajati R. Sastraatmadja, Teh suster Arlena Arifin, dan Teh Fitri Safriani Buan sudi meluangkan mampir di hotel tempat saya menginap di Bandung.


Kita berbincang cair seperti sahabat pena yang lama tak berjumpa. Tak ada sungkan atau ragu berkelakar atau membagi cerita, walau sejujurnya kita saling tahu bahwa diantara kita ada perbedaan preferensi politik, latar belakang pemikiran, dan cara pandang tentang bagaimana menempatkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.

Apapun itu, bagi saya, bertemu secara nyata dengan teman daring adalah pencapaian positif yang layak disyukuri. Bertemu secara nyata, memberi ruang penerimaan yang lebih lapang terhadap sifat-sifat, kelebihan, dan kekurangan seseorang. Sisi humanis yang terpancar dari ekpresi nyata kawan yang kita temui akan menyempurnakan imajinasi kita tentang seseorang yang sering kita baca tulisan atau komentarnya.

Soal beda pendapat atau bahkan beda ideologi politik seharusnya tidak jadi penghalang untuk bertemu kawan daring kita. Di media sosial, terkadang kita lebih membutuhkan musuh debat yang cerdas berargumen dibanding kawan diskusi yang membosankan.
.
Bayangkan saja, jika anda berdebat atau berkomentar menyampaikan ketidaksetujuan terhadap sebuah pendapat di beranda medsos dengan opini logis disertai data, lalu lawan debat kita dikarenakan fakir argumen, dia tidak menanggapi opini Anda, dan justru menutup diskusi dengan kalimat “maaf, saya hanya sekedar mengingatkan..” atau mengakhiri dengan kalimat “semoga anda mendapat hidayah..”, bagaimana perasaan anda? Wakwaw bukan?

Misalkan lagi, anda mengingatkan seseorang dengan kebaikan-kebaikan universal, lalu orang yang diingatkan malah balik bertanya “emang ada dalilnya?”, bagimana respon anda? Pasti disitu anda merasa seperti unta yang tersesat!

Lanjut. Soal memilih perkawanan di fesbuk, saya sendiri beraliran bebas aktif non-blok (mirip orde baru). Saya hampir tidak pernah meng-unfriend kawan medsos karena beda pandangan politik apalagi karena baper atas komentarnya. Meski sungguh sering saya menemukan akun atau komentar di beranda kita yang block-able banget. Saya hanya berusaha memahami bahwa bisa jadi mereka yang berkomentar negatif tentang kita, bukan karena mereka benci sama kita, tapi semata karena tak kenal kita secara pribadi.

Aliran mempertahankan perkawanan model saya itu, belum tentu cocok dengan semua orang. Sebagian kita lebih memilih membersihkan beranda dan friendlist dari orang-orang yang menyebalkan dan merusak mood kita dengan tulisan atau komentar-komentar negatifnya. Boleh-boleh saja! Intinya, kita hanya perlu membaca apa yang mau kita baca dari orang-orang yang kita tentukan sendiri. Dan itu membahagiakan! Meski kadang bisa juga menyesatkan lho.

Sebagai pemilik akun, kita diberi hak penuh oleh bang Zuki (Zuckerberg) memilih tipikal akun mana yang asyik atau bermanfat untuk kita ikuti tulisan-tulisannya. Saya sendiri lebih senang menambahkan atau menerima pertemanan dari akun-akun aktif populer yang kerap menyediakan waktu untuk berinteraksi dengan pembacanya. Mereka inilah “the real influencer” yang kadang secara tidak sadar kita kutip pendapatnya di ruang diskusi nyata. Menjadi pembaca setia tulisan “Influencer” yang obyekif dan logis, turut menjaga kewarasan & kebebasan kita dalam berpendapat dan berpikir! Itu penting.

Terakhir. Bagi saya “follower” itu tidak bisa dimaknai sebagai “pengikut” dalam arti harfiah. “Follower” lebih tepat diartikan sebagai pembaca loyal. Mengikuti setiap tulisan bukan berarti harus menyetujui semua gagasan. Tidak ada larangan “follower” berbeda pendapat, sepanjang disampaikan dengan santun, tidak kasar, apalagi merendahkan.

Related Posts