06/04/2020

Menelisik Gelar ” Sulthonul Awliya’ ” Syaikh Abdul Qodir al-Jailani

Penulis: Hilmi Ridho
Ahad 6 Oktober 2019

Atorcator.Com – Kitab Al-Fawaid al-Mukhtarah (Yaman:
Dar al-Ilmi wa ad-Da`wah, 2018) karya Habib Ali Hasan Baharun merupakan bunga
rampai dari perkataan-perkataan gurunya, yaitu Habib Zain bin Ibrahim bin
Smith. Kitab tersebut berisi tentang wejangan-wejangan para ulama, wali,
habaib, dan termasuk kisah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam perjalanannya
memperoleh gelar sulthanul auliya (raja dari seluruh para wali).

Di waktu menimba ilmu, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani berteman dengan dua orang
yang bisa dibilang cukup cerdas dan pandai yaitu Ibnu Saqa dan Ibnu Abi `Asrun.
Pertemanan itu berlanjut hingga mereka bertiga ingin mengunjungi seorang wali
berpangkat wali al-ghouts, rumah wali tersebut cukup jauh dari hiruk pikuk
keramaian kota. Mungkin lebih tepatnya bisa dikatakan pelosok banget. Tapi,
keinginan mereka untuk bertemu sang wali tidak terhalang walau jarak yang
demikian jauh dan sudah barang tentu kunjungan mereka tak lepas dari maksud dan
tujuan.

Dalam perjalanan, mereka saling bertanya satu sama lain terkait tujuan dan niat
masing-masing. Dengan polosnya Ibnu Abi `Usrun memulai pertanyaan kepada Ibnu
Saqa.

“Hei Saqa, kamu mau ngapain bertemu wali itu?” 

“Aku akan mengajukan sebuah pertanyaan yang begitu sulit, hingga ia bingung dan
tidak mampu untuk menjawabnya, ha.. ha.. Aku ini kan orang cerdas, jadi, sudah
sepatutnya menguji kedalaman ilmu seorang wali,” jawabnya. 

Tak menunggu lama Ibnu Abi `Asrun pun mengatakan maksudnya. 

“Kalau aku ingin bertanya tentang sesuatu yang aku yakin dia tidak mampu untuk
menjawabnya,” tuturnya.

Pada hakikatnya tujuan dari keduanya sama yakni ingin menguji ketinggian ilmu
dari seorang wali. Mungkin karena Syekh Abdul Qadir Al-Jailani tidak segera
mengutarakan niatnya, akhirnya mereka berdua bertanya.

“Qadir, kamu mau mengajukan pertanyaan seperti kami atau ada hal lain?” 

“Saya tidak mau bertanya apa-apa?” jawabnya. 

Lalu mereka pun bertanya lagi. 

“Lho, terus kamu ini mau apa? Hanya mau mengikuti kami?” 

“Saya itu gak punya pertanyaan yang mau diajukan. Saya hanya ingin sowan saja
dan mengharap berkah darinya. Itu saja cukup kok, karena orang seperti ini
biasanya hanya disibukkan dengan kekasihnya yaitu Allah SWT,” jelas Syekh Abdul
Qadir Al-Jailani.

Dari dialog mereka, kita sudah bisa melihat sifat dan sikap mereka terhadap
kekasih Allah SWT. Kesombongan dan rendah diri manusia, juga bisa diukur dengan
sebuah perkataan. Kesombongan terhadap orang lain terjadi ketika kita
memposisikan diri kita lebih tinggi atau lebih hebat daripada orang lain.
Sementara, orang yang rendah hati tetap memposisikan dirinya sebagai penerima
anugrah ilahi yang tidak sempurna dan lemah. Dia merasa memperoleh segala
sesuatunya karena karunia Allah bukan karena kegagahan dan kehebatannya.

Sesampainya di kediaman wali al-ghouts, mereka mengetuk pintu rumahnya. Tapi,
sang wali tak kunjung membuka pintu, malahan ia memperlambat jalannya.
Kemudian, wali tersebut keluar dalam keadaan marah seraya bertanya. 

“Siapa di antara kalian yang bernama Ibnu Saqa?” 

“Saya, wahai Syekh,” jawab Ibnu Saqa. 

Tak banyak bicara, wali itu pun langsung menebak pertanyaan Ibnu Saqa dan
langsung memberikan jawabannya secara detail, begitu pula dengan pertanyaan dan
jawaban Ibnu Abi `Asrun dan langsung mengusir mereka berdua dari hadapannya.
Sebelum mereka berdua beranjak dari kediamannya, wali itu  meng-kasyaf
(membaca lewat batin) mereka berdua dengan karamahnya. 

“Hai Ibnu Saqa, dalam pandangan batinku, aku melihat ada api kekufuran yang
menyala dalam tulang rusukmu. Dan kamu Ibnu Abi `Asrun, sesungguhnya aku
melihat dunia berjatuhan menimpa tubuhmu.”

Sampai pada giliran Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, wali al-ghouts hanya
memandang sekujur tubuhnya, dan tak lama kemudian, ia pun berkata.

“Wahai anakku, Abdul Qadir, aku tahu tujuan kamu ke sini hanya ingin berkah
dariku, dan insyaallah tujuan baikmu akan tercapai.” 

Sebelum menyuruh pergi Abdul Qadir, ia berkata, “Aku melihat kamu berkata
padaku, ‘kakiku ini berada di leher seluruh para wali di dunia ini’, sekarang
pergilah anakku!”

Selang beberapa hari dari kejadian aneh itu, Ibnu Saqa dipanggil oleh raja di
negerinya dan diperintahkan untuk pergi menemui ulama Nasrani agar ia berdebat
dengan para ulama pentolan-pentolan Nasrani. Dalam perjalanan menuju ulama
Nasrani, ia bertemu dengan seorang gadis cantik keturunan Nasrani dan jatuh
cinta kepadanya. Namun, hubungan cinta mereka berdua tidak direstui. Tanpa
pikir panjang akhirnya dia menemui ayahnya dan menyampakan bahwa dia sungguh
mencintainya dan siap berkorban apa pun. 

Akhirnya terbukti perkataan wali al-ghouts bahwa ada api yang menyala dalam
tulang rusuknya dan benar, ia telah menggadaikan agamanya dengan agama
Nasrani. 

Sedangkan Ibnu Abi `Asrun, diberi jabatan oleh raja di negerinya untuk
mengurusi harta wakaf dan sedekah dan jabatan itu datang terus menerus dari
seluruh penjuru kota tersebut. Kemudian dia sadar bahwa ini merupakan doa dari
wali al-ghouts. 

Sementara Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mendapatkan maqam tertinggi dari Allah
SWT berkat sikap rendah dirinya kepada seorang wali dan beliau diangkat menjadi
raja dari seluruh para wali di muka bumi. 

Pada saat mengajar muridnya, dia pun berkata seperti apa yang dikatakan wali
al-ghouts, “kakiku ini berada di atas lehernya seluruh para wali,” dan
perkataannya didengar oleh seluruh wali di penjuru dunia, lalu mereka berikrar
“sami`na wa atha`na.”

Ada sedikit hikmah yang bisa kita ambil pelajaran dari kejadian ini, bahwa
siapa pun kita tidaklah pantas mengedepankan kelebihan karena di atas langit
masih ada langit. Sikap rendah diri haruslah menjadi prioritas utama setiap
manusia, mengingat ilmu tidak lebih diutamakan daripada akhlak. Sebagaimana
perkataan Sayyid Muhammad Alwi Al- Maliki, “Al-Adab qabla al-`Ilmi (adab lebih
didahulukan daripada ilmu).” Wallahu a’lamu bish-shawab.
Hilmi Ridho, santri Ma`had Aly Pondok Pesantren
Salafiyah Syafi`iyah Sukorejo
Jl. KHR. Syamsul Arifin, Sukorejo, Banyuputih, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur
Email: hilmikamila241@gmail.com

*Tulisan ini sebelumnya dimuat di NU online

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *