Menyongsong Hari Santri yang Tak Sekadar Seremoni

Penulis: Moh. Mizan Asrori
Selasa 22 Oktober 2019 20:30

Ilustrasi: Moh. Mizan Asrori


Atorcator.Com – Jujur, bagi santri, sejatinya setiap hari adalah hari santri. Sehari-hari santri mengisi waktunya dengan antri wudu, antri mandi, salat berjamaah, mengaji kitab, sekolah, masak nasi, makan bareng, mengaji Alquran, salat Isya’ berjamaah, belajar malam, dan sesekali kongko bareng ditemani kopi dengan gayung sebagai wadahnya, lalu tidur.

Begitulah siklus kehidupan yang saya jalani selama nyantri di pesantren ujung timur Madura, Annuqayah. Sejak tahun 2011 sampai 2014, kurang lebih 3 tahun. Sebelum ada keputusan penetapan Hari Santri Nasional. Refleksi atas Hari Santri Nasional yang dari tahun ke tahun semakin semarak perayaannya, maka akan sangat sayang sekali jika hanya berhenti di perayaan seremonial belaka.

Momentum hari santri sudah saatnya dijadikan waktu yang tepat untuk mengirimkan pesan penting dengan lebih lantang tentang bukti konkret penghargaan negara kepada santri dan masyarakat secara umum yang notabene adalah lahir dari rahim pondok pesantren. Jika sebatas surat keputusan, tentu semua pemimpin negeri ini bisa melaksanakannya. Maka saat ini merupakan saat yang tepat bagi kita untuk bersuara.

Penambahan Kuota Penerima Program Beasiswa Santri Berprestasi
PBSB merupakan sebuah program pemberian beasiswa kepada santri melalui Kementerian Agama Republik Indonesia. Program ini sudah ada sejak tahun 2006 dan bertahan sampai hari ini. Sasarannya adalah santri yang lulus dari pesantren setelah mukim di pondok sekurang-kurangnya 3 tahun. Kampus tujuannya adalah kampus negeri yang telah dipilih oleh pihak Kemenag.

Dalam perjalanannya beasiswa ini mengalami fluktuasi dari segi kuota. Khusus kampus saya, UIN Sunan Ampel Surabaya, sekarang hanya mendapat jatah kuota 20 orang. Berkurang 20 dari tahun sebelumnya, 40. Angka ini sangat kecil sekali dibandingkan kuota beasiswa Bidikmisi, yang mencapai ratusan setiap tahunnya. Perbincangan tentang kuota ini sudah terjadi sejak 3 tahun lalu, saat tahun awal HSN ditetapkan. Padahal pesantren yang ada di Indonesia tentu sangat banyak, dan santri yang menetap pun ribuan.

Maka tak berlebihan kiranya jika kita menuntut penambahan kuota, bukan justru dikurangi. Sebab sudah jamak diketahui, PBSB merupakan pintu masuk favorit bagi santri untuk mendapatkan kesempatan bersekolah di kampus negeri.

Dukungan Terhadap Guru Ngaji

Di pelosok desa, guru ngaji masih sangat berperan dalam proses mencetak kader-kader santri di bidang pembelajaran ilmu keagamaan, khususnya membaca Alquran. Guru ngaji adalah peletak dasar keilmuaan dan keagamaan santri. Ibarat bercocok tanam, guru ngaji merupakan petani yang menanam dan merawat bibit dalam pot kecil, sebelum ditanam di area tanah luas. Perannya tentu vital dan urgen, menjadi penentu bagus tidaknya benih yang akan ditanam dan akan tumbuh menjadi pohon besar.

Sudah mafhum bahwa guru ngaji tidak ada yang menggaji setiap bulannya. Bahkan hanya sedikit saja dari guru ngaji yang meminta iuran kepada santrinya untuk biaya pembayaran listrik musala, tempat mereka belajar mengaji Alquran. Dukungan pemerintah atau pun wali santri terhadap guru ngaji, tidak harus berupa gaji bulanan. Pun tidak mesti berupa selalu membawa hasil tanaman pertanian. Dukungan terbesar adalah dengan mengapresiasi guru yang telah mendidik anak-anak yang seharusnya menjadi tanggung jawab orang tuanya. Masing-masing dari kita tentu bisa menentukan, apresiasi apa yang paling tepat untuk guru tersebut.

Di sebagian daerah ada guru ngaji yang musalanya sangat sederhana, bahkan hanya terbuat dari bambu dan atapnya sudah tidak layak. Kalaupun sudah pakai genting, tak jarang terjadi kebocoran manakala hujan menerjang. Kepada guru ngaji yang bernasib seperti ini, dukungan yang lebih tepat adalah dengan membantu secara materi dan tenaga demi perbaikan musala.

Sebagian lainnya, guru ngaji sudah memiliki fasilitas yang memadai. Musala yang beralaskan keramik dan bertembok bata. Kepadanya cukup dengan tidak menyakiti perasaannya, tidak menjadikannya sebagai bahan pergunjingan, dan melampaui itu semua benar-benar menyerahkan proses pembelajaran kepada sang guru. Betapa banyak orang tua yang melaporkan guru saat anaknya dipukul atau sedikit diberikan teguran yang agak keras. Sikap orang tua yang seperti ini dalam perspektif santri akan mengurangi keberkahan ilmu yang diperoleh anak. Syukur, jika pemerintah turut memberikan apresiasi kepada guru ngaji, apa pun itu bentuknya.

Aktif Terlibat dalam Isu-isu Kerakyatan

Sebagai sosok yang memiliki ketekunan di bidang ilmu agama, santri sudah sepatutnya tidak absen manakala melihat kemungkaran dan kesewenang-wenangan dipertontonkan. Santri perlu ambil bagian dan menyatakan sikap pada proses penyusunan undang-undang yang banyak sekali hanya menguntungkan segelintir elit dan golongan. Tegas dan keras juga dalam menyikapi perampasan ruang hidup dan mata pencaharian masyarakat oleh korporasi yang didukung pemerintah.

Hal ini semata sebagai wujud pelaksanaan salah satu fatwa penting ulama tentang pengalihfungsian lahan produktif, seperti sawah menjadi pertambangan, yang sudah diputuskan haram. Kekuatan santri dari segi jumlah akan mampu menggedor dan membuka mata hati pemerintah saat kebijakannya tidak berpihak pada kepentingan umum. Bahkan cenderung memperkaya dan menguntungkan sekelompok pihak saja. Urusan banyak orang hanya diurus oleh beberapa orang, inilah definisi sederhana dari oligarki.

Untuk itu, saya pribadi sangat mendukung kegiatan istigasah kubra di Sumenep, beberapa hari lalu, yang bertujuan menolak penguasaan lahan oleh korporasi yang dialihfungsikan menjadi tambak udang. Keterlibatan kaum santri dalam mengedukasi masyarakat juga tak kalah penting. Ikut menyadarkan pentingnya menjaga tanah warisan sebagai aset masa depan dan mata pencarian, tidak tergiur dengan harga yang disodorkan oleh investor yang bernafsu membangun investasi jangka panjang.

Potensi inilah yang patut kita lihat sebagai sebuah peluang emas dalam menyongsong kemerdekaan hakiki dengan semangat keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Stop hanya memanfaatkan suara santri untuk meraih jabatan elektoral di pemerintahan. Saatnya santri berperan aktif dari bawah ke atas, mengawal proses dan kebijakan pemerintah, mengungkap perselingkuhan dan romantisme penguasa dengan pemodal, dan memutus mata rantai oligarki yang semakin hari semakin kuat saja cengkeramannya.

Tentu masih banyak peran kaum santri yang diharapkan dalam pembangunan negeri ini dan terjaminnya kesejahteraan rakyat banyak. Semua bisa ambil peran di sektor mana saja, asalkan memang untuk kemaslahatan umat. Santri sudah saatnya melampaui peran sebatas perumus hukum atau handal baca kitab. Sudah saatnya nilai-nilai penting dalam kitab diejawantahkan dalam kehidupan nyata. Selamat Hari Santri yang tak sebatas seremoni. [*]


Moh. Mizan Asrori merupakan santri alumni Pondok Pesantren Annuqayah Sumenep, peraih Beasiswa PBSB UIN Sunan Ampel Surabaya angkatan 2014.

Related Posts