Asal-Usul Madura: “Menyambut Kebenaran Emha Ainun Najib”

Penulis: Imam Nawawi
Ahad 1 Desember 2019

Ilustrasi: Indonesia travel



Saya meyakini kebenaran Emha atau Cak Nun tentang pendapatnya bahwa India modern hanyalah salah satu provinsi dari Kerajaan Hastinapura, yang terletak di Kediri modern. Cerita Mahabarata adalah peride historis di Kerajaan Kediri.


Namun, argumentasi saya berbeda dari Cak Nun. Argumentasi saya diambil dari teks kitab suci Mahabarata itu sendiri [seperti terlampir]. Di sini, saya akan berbicara tentang asal-usul Madura. Pada jaman Mahabarata, Madura bukan nama pulau, tetapi nama sebuah kota. Kota Madura.


Kota Madura adalah kota suci, karena menjadi tempat kelahiran Dewa Kresna. Harus diketahui bahwa Dewa Kresna adalah Tuhan yang mewahyukan Kitab Bagavadgita. Jadi, Agama Hindu itu adalah Wahyu Tuhan Kresna yang lahir di kota Madura. Kota ini pada saat itu adalah Ibu Kota Kerajaan Surasena.


Di mana letak Kerajaan Surasena yang beribukota Madura ini? Di jaman modern kita, Kerajaan Surasena ini terletak di ujung timur Pulau Madura, kota Sumenep. Jadi, agama Hindu yang diciptakan oleh Kresna adalah agama ciptaan dewa kelahiran Sumenep.


Kerajaan Surasena ini berdekatan dengan kerajaan-kerajaan lain, seperti Kerajaan Panchala (Panjalu), Kerajaan Bhalika (Bali), Kerajaan Kalingga (Pekalongan-Jepara), Kerajaan Matsya (Malaysia), Kerajaan Salwa ( Sulawesi), Kerajaan Wideha (Nepal).


Nama-nama Kerajaan di atas muncul sebagai usul alternatif Arjuna ketika Yudistira bingung, kemana hendak bersembunyi pada tahun ke-13 masa pembuangannya. Para Pandawa sepakat aka ke Matsya (Malaysia). Tetapi, demi visi menyamar, mereka harus melepaskan semua kehebatan mereka dan berganti pekerjaan. Dalam teks Mahabarata, diceritakan, semua Pandawa memilih pekerjaan orang rendahan, tak pantas dilakukan oleh keturunan Bharata.


Nah, di sini menarik, kesedihan yang tertanam dalam alam bawah sadar Yudistira keluar lewat kata-kata puitis. Yudistira mengatakan: “Keturunan Bharata seharusnya perkasa seperti Gunung Mahameru yang menjulang tinggi.”


Secara psikologis, Yudistira berharap Pandawa tidak lemah, nista, dan terusir dari Hastinapura (Kediri), tapi harusnya gagah seperti Gunung Mahameru (Malang-Lumajang). Psikologi kesedihan Yudistira terungkap secara verbal, dan ungkapan psikologi itu terbantu oleh pengetahuannya tentang simbol ideal bangsa yang perkasa, yaitu kokoh menjulang bagai gunung Mahameru di Lumajang-Malang. Kesucian Gunung Semeru di Jawa Timur ini akan selamanya abadi dalam teks suci Mahabarata.


Sampai di sini, teks suci Mahabarata cukup sebagai bukti kebenaran ajaran Cak Nun tentang status Mahabarata sebagai Kitab Suci yang dikarang di India untuk membahas Peristiwa di Nusantara. Bukti teks, psikologis, sosiologis, dan sejarah dalam Mahabarata merujuk pada fenomena di Nusantara.


Imam Nawawi, kelahiran Mandala Gapura Sumenep. Alumni PP Annuqayah Guluk-guluk, PP Hasyim Asyari Yogyakarya, Ketua Yayasan PP Baitul Kilmah Yogyakarta, Wakil Pengasuh PP Bahrul Kamal Kediri. Bekerja sebagai penerjemah literatur klasik Islam.

Related Posts