Mengabdi di NU tapi Tidak Ingin Dimusuhi? Akan Kujual Sawah dan Sapi

Penulis: Shuniyya Ruhama
Jumat 29 Nopember 2019

Ilustrasi : Wikipedia



Sewaktu remaja dulu alhamdulillah masih sempat menyaksikan, ada Kyai Muda sowan ke Kyai Sepuh (Mbah Yai Anshor-Bantul Alm) Waktu itu, saya bertugas di belakang, menyediakan kopi bagi tamu Kyai Sepuh sembari menunggu di balik hek (pembatas dari kayu yang bisa dilipat atau digeser). 


Dengan ijin Kyai Sepuh aku bisa ikut mendengarkan, dan siap menghadap Kyai setiap saat diperlukan. 


Kyai Muda mengadukan keberatan dalam berjuang menegakkan aqidah aswaja. Beliau merasa berat sekali. Diserang di sana sini. Dianggap sesat, dianggap menyebarkan bid’ah, melestarikan budaya jahiliyah dan sejenis itu.


Kyai Sepuh mendengarkan dengan penuh perhatian. Sesekali menyeruput kopi,  diselingi dengan menyedot rokok dengan sangat dalam. Namun, wajah beliau tetap tenang.


“Apa yang harus saya lakukan, Yai? ” tanya Kyai Muda.


Kyai Sepuh tersenyum. Beliau menjawab,  ” Memang sudah gawan bayi (genetika) bahwa memperjuangkan kebenaran itu pasti akan dimusuhi.


Ketika Kanjeng Nabi akan berdakwah, sudah ada pesan dari paman beliau Waroqoh Bin Naufal. Beliau dawuh : Tidaklah datang seorang dengan membawa kebenaran sebagaimana yang engkau bawa wahai Muhammad, kecuali akan dimusuhi.


Jadi, kalau kita tidak dimusuhi, tidak disesat-sesatkan, dibid’ah-bid’ahkan, dicaci maki bahkan difitnah, malah kita harus mikir panjang. Jangan-jangan yang kita perjuangkan ini nggak benar. Karena menyelisihi sunnahnya Kanjeng Nabi. 


“Seandainya dalam memperjuangkan aqidah Aswaja, mengabdi di NU sampai tidak dimusuhi, akan kujual semua sawah beserta sapi-sapinya. Terus uangnya aku bagikan gratis buat siapa saja yang mau memusuhi NU yang aku yakini ini. “


Kyai Mudapun tertunduk. Kepalanya manggut-manggut. Ada semacam aliran aneh yang mengalir di darahku mendengar petuah luar biasa dari Kyai Sepuh.


Alhamdulillah. Matur sembah nuwun ya Syaikhina. Sejak saat itu, apapun yang terjadi, selama ikut nguri-uri NU dan Aswaja,  semakin digegeri, semakin dimusuhi, semakin haqqul yaqin bahwa NU yang benar.


NB: Mereka memusuhi kita, kita balas permusuhan mereka, sehingga sama-sama merasa dimusuhi dan didzolimi. Terus apa bedanya?


Shuniyya Ruhama Pengajar di PPTQ Al-Istiqomah Kendal dan Murid Mbah Wali Gus Dur

Related Posts