Pesan Habib Jindan bin Novel Saat Maulid Nabi di Jerman - Atorcator
Latest Update
Fetching data...

Sabtu, November 02, 2019

Pesan Habib Jindan bin Novel Saat Maulid Nabi di Jerman

Sabtu 2 November 2019


Hari Sabtu, 1 Desember 2018 yang lalu menjadi kebahagiaan yang sangat besar dan sebuah pengalaman yang sangat langka dirasakan oleh jamaah Muslim di kota Bremen, Jerman. Peringatan Maulid Nabi Shallallahu alahi wassalam yang dihadiri mencapai 150 Orang oleh majelis taklim Maulid Amsterdam dan jamaah Indonesia dari berbagai kota di Jerman dan beberapa warga Muslim Turki, Afrika, Jerman dan Yaman. Sebagai inti acara adalah mauidhah hasanah oleh Habib Jindan bin Novel bin Salim bin Jindan yang dilakukan secara online.
Kebahagiaan ini juga yang menjadi pesan sambutan yang disampaikan oleh Muhammad Husein Al-kaff selaku wakil ketua Tanfidziyah PCINU Jerman. Ia mengutip penggalan dari Surat Yunus ayat 58 yang berarti "Katakanlah: 'Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira.'" Ia menekankan bahwa rahmat dan nikmat yang terbesar adalah terlahirnya manusia teragung sepanjang masa, yakni Nabi Muhammad Saw.
Peringatan Maulid ini menjadi cara kita mengekspresikan kebahagiaan kita dengan banyak bershalawat, bedzikir, berdoa dan mendengarkan nasihat dari para ulama. Sambutan juga disampaikan sebelumnya oleh tuan rumah, Gery Vidjaja yang juga Mustasyar PCINU Jerman dan ketua Keluarga Muslim Indonesia Bremen (KMIB). Ia beliau menyampaikan pentingnya peringatan Maulid Nabi sebagai syiar Islam untuk kita sendiri, keluarga dan masyarakat sekitar kita, di mana di dalamnya kita dapat lebih mengenal dan mengenalkan Rasulullah.
Acara yang merupakan kerja sama dari Keluarga Muslim Indonesia Bremen (KMIB) dan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Jerman ini dimulai setelah shalat ashar berjamaah dengan pembacaan Asma’ul Husna yang dipimpin oleh Habib Salim bin Husein Al-Atas. Acara berlanjut dengan pembacaan Al-Fatihah yang dipimpin oleh Syaikh Umar Jaelani sebagi pembuka pembacaan Maulid Simtudduror Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi. Lantunan nasyid dan qasidah yang dibawakan oleh Puji Luna dan Grup Nasyid Pemuda Bremen yang dipimpin oleh Fadhlan Vidjaja, putra keempat dari Gery Vidjaja, turut mengiringi.
Pembacaan Maulid ditutup dengan doa dilanjutkan dengan pementasan teater oleh anak-anak yang tergabung dalam TPA Ar-Raudhah Bremen tepat menjelang waktu maghrib. Menjadi inti acara tersebut adalah Mau’idhah Hasanah yang disampaikan oleh Al-Habib Jindan bin Novel bin Salim bin Jindan setelah shalat Maghrib. Pesan-pesan yang disampaikan beliau adalah kehadiran Rasulullah untuk mempersatukan dan mengeratkan kasih sayang antaranggota masyarakat dengan akhlak yang mulia, jauh dari permusuhan.
Sehingga, acara Maulid Nabi ini diharapkan juga menambah kasih sayang dan mengeratkan hubungan persaudaraan di antara kita. "Rasulullah adalah tauladan kita. Beliau shallallahu alaihi wassalam selalu mengajak kita untuk berkasihsayang dan menjaga akhlak. Beliau adalah pemimpin para pejuang. Bahkan ketika marah pun beliau tetap menjaga akhlak dan kasih sayang.
Beliau marah karena ingin menyelamatkan manusia, bukan untuk memaki, menyumpah dan jerumuskan orang," papar Habib Jindan. Marahnya Rasulullah indah, lanjut Habib Jindan. Marah Nabi dengan akhlak mulia. Jadi kalau ada di antara orang yang mengaku pejuang tetapi suka memaki-maki orang lain dengan dalih membela agama atau membela Rasulullah, sesungguhnya dia bukan membela agama, bukan membela Rasulullah. "Syaitan sifatnya ingin selalu menjerumuskan manusia ke neraka, sedang Rasulullah ingin menyelamatkan manusia. Jadi hendaknya kita selalu berkasih sayang, mendoakan saudara kita termasuk mendoakan orang yang berbuat maksiat agar kita semua selamat dan dapat berkumpul bersama Rasulullah di akhirat kelak," pesannya.
Sementara itu Habib Husein menyampaikan kerinduan dari para jamaah Eropa mendengarkan nasihat dan tausyiah dari para habaib dan kiai dari Tanah Air. "Saat ini kami hanya bisa mendengarkan lewat jalur online, menjadi harapan dan mimpi kami tahun depan Habib Jindan bisa hadir bersama kami di Jerman dan Eropa," kata Habib Husein. Maulid Nabi Muhammad Saw 1440 H akan menjadi pengalaman yang tidak terlupakan bagi PCINU Jerman, KMIB Bremen dan seluruh jamaah yang hadir.
Setelah shalat Isya acara ditutup oleh Gery dengan lantunan nasyid berirama burdah dalam bahasa Jerman yang liriknya diubah berisi asas-asas Ahlussunnah wal Jamaah yaitu Islam (Fikih), Iman (Aqidah) dan Ihsan (Tasawuf). Sesi ini dengan bantuan Tobias, seorang mualaf Jerman yang menikah dengan orang Indonesia. Juga dilakukan pemutaran video tentang Maulid Nabi oleh anak-anak TPA Ar-Raudhah Bremen. Acara ditutup dengan pembagian bunga mawar kepada tamu undangan dan ramah tamah sambil menikmati jamuan khas Indonesia, berupa nasi kuning, rendang dan lauk pauk lainnya. Di dalam diskusi saat makan malam muncul sebuah gagasan agar Majelis Akbar Maulid Nabi Saw di Eropa dapat diadakan secara rutin tiap tahunnya selama 4-5 kali di bulan Rabi’ul Awal di Belanda, Belgia dan Jerman. (Muhammad Husein Al Kaff/Kendi Setiawan)