Bahaya Poligami

Dalam suatu acara walimatul urs, KH. Muhyiddin Abdussomad, Rais Syuriyah PC NU Jember memberikan tausiyah tentang hikmatun nikah, yang kebetulan penulis juga hadir di situ. “Saya takut berpoligami jika mengingat kisah teman saya yang ada di Probolinggo,” ujarnya.

Beliau pun berkisah bahwa beliau punya teman seorang kiai di Probolinggo yang meninggal dunia. Banyak pelayat yang hadir ke rumah duka guna memberikan penghormatan terakhir. Semua orang berduka atas kewafatannya karena selama hidupnya ia dikenal sebagai kiai yang sangat baik.

Semua orang berduka atas kepergiannya terutama sang istri tercinta, ibu nyai, yang tak henti-hentinya menangis. Ia benar-benar terpukul dan merasa sangat kehilangan. Setiap memandangi wajah suaminya, ia langsung menangis sesenggukan meski banyak pelayat yang hadir.

Tak ada yang bisa menghentikan tangisnya. Namun karena tak kuat menahan gundahnya hati dan derasnya air mata, ia pun akhirnya bersedia masuk ke dalam kamarnya sambil dibopong, agar tak mengganggu para pelayat yang makin lama makin banyak.

Tiba-tiba, seorang wanita muda cantik masuk sambil menuntun seorang bocah kecil. Ia masuk dan langsung menuju ke ruangan di mana jenazah sang kiai dibaringkan. Semua pelayat bertanya-tanya siapa gerangan wanita muda cantik itu. Tak ada satu pun kerabat yang mengenalnya.

Semua yang hadir makin keheranan manakala wanita muda cantik itu mencoba membuka penutup wajah jenazah dan langsung menciumnya sambil mengusap air matanya.

Melihat kejadian aneh itu, seorang kerabat tergopoh-gopoh menyusul menemui ibu nyai di dalam kamar seraya melaporkan bahwa ada wanita misterius yang menciumi jenazah kiai.

Betapa terkejutnya hati sang ibu nyai. Ia bergegas ke luar dan langsung menemui wanita misterius yang dimaksud. Dengan mata sembab dan berkaca-kaca ia pun bertanya heran, “Siapa anda? Dan kenapa anda begitu lancang menciumi jenazah suami saya?”

Dengan sikap tenang dan sedikit malu-malu, wanita muda cantik itu menjawab, “Saya juga istrinya, bahkan kami sudah lama menikah, ini hasil pernikahan kami (sambil menunjuk bocah yang dibawanya).”

Bak disambar petir di siang bolong, ibu nyai yang awalnya terlihat sangat berduka dan tak bergairah, tiba-tiba berubah 180 derajat. Andrenalinnya bangkit, matanya melotot, hingga air matanya berhenti seketika. Ia kemudian melangkah tegap, bukan menuju ke wanita cantik muda itu, tetapi menuju ke arah jenazah suaminya.

Apa yang ia lakukan? Ibu nyai itu langsung membuka tutup kepala jenazah suaminya, dan dengan beringas ia memukul-mukul wajah suaminya itu sambil meracau, “Ini suami kurang ajar, gak bilang-bilang kalau nikah lagi..!”

Semua yang hadir di situ hanya bisa diam, karena mau ketawa takut dosa. Hihi…!

“Oleh karena itu, saya takut berpoligami apalagi secara diam-diam. Takut kalau mati, belum masuk kubur, sudah ‘disiksa’ di dunia. Hehe…!” tutur KH Muhyid seraya menutup tausiyahnya.

Related Posts