Berani Salah, dan Siap Mengambil Hikmah dari Kesalahan

Adakah di antara kita yang tidak pernah berbuat salah? Kesalahan apakah yang paling besar menurut Anda? Makhluk macam apakah kesalahan itu sehingga terdapat ujar-ujar kuno bahwa kita harus belajar dan terus belajar dari tiap kesalahan? Di manakah kesalahan itu mengenyam pendidikan, sampai-sampai seorang Nabi dan filsufpun mengambil hikmah darinya?

Kesalahan terbesar umat manusia adalah terus-menerus takut berbuat salah, padahal dalam ilmu pengetahuan, kesalahan nyaris selalu mendahului kebenaran. Jadi, satu-satunya orang yang tidak pernah salah di planet ini adalah ia yang tidak pernah berbuat apa-apa.

Lantas, bisakah manusia menolak kenyataan hidup (jomblo misalnya) dengan alasan takut berbuat salah? Adakah standar baku bagi kesalahan dan atau orang berbuat salah, sehingga tak ada ruang bagi perbaikan? Benarkah kesalahan itu suatu keniscayaan? Beranikah Anda menikmati kesalahan itu sebagai bagian tak terpisahkan dari sebuah proses dan irama?

Sampai kapanpun Anda takkan pernah temukan kedamaian dengan menghindari kehidupan. Tak ada salahnyaโ€”terlebih dahuluโ€”berdamai dengan diri sendiri, sebelum akhirnya Anda lupa diri dan betul-betul kehilangan diri. Mau cari ke mana?

Hidup tidak harus selalu dimulai dari nol ala pom bensin. Hidup juga tidak seharusnya menjadi perjuangan tiada akhir seperti dalam roman, telenovela, iklan sabun dan janji politikus. Perjuangan hidup tidak melulu mempertahankan idealisme dan keras kepala stadium enam. Sangat boleh jadi Anda perlu merubah dan membelokkan idealisme itu, dan jika perlu merubahnya sama sekali agar lebih realistis. Kenyataan dan kenyamanan itu dinamis, keduanya bahkan sangat ritmis seiring keberanian dan kematangan dalam menentukan sikap. Kabar baiknya, Anda tidak bisa menghadapi itu semua dengan sikap infleksibel dan pesimis.

Bagaimana dengan optimisme? Harapan tak lain adalah resiko yang harus ditempuh oleh setiap orang. Dengan demikian, hidup sepenuhnya adalah keberanian untuk mengelola resiko-resiko itu dengan terus (belajar) bijaksana. Itulah kenapa Tuhan selalu mendahulukan para hamba-Nya yang berani mengambil resiko.

Nah, yang mula-mula harus dipertegas adalah keberanian itu sendiri, sebab Tuhan selalu memberi kesempatan lebih kepada para pemberani. Ya, pemberani! Apa hadiah utama jika Anda berani? Anda akan segera tahu kualitas Anda. Sementara itu, para penakut cenderung lambat dan bahkan sama sekali tak mengenal diri berikut kualitasnya.

Dan, ini adalah pembeda bagi para pemberani dan penakut. Keberanian ini pula yang memantik kegigihan, pantang menyerah dan tidak takut salah, tidak takut sakit dan kalah.

Dengan kualitas ini, Anda akan segera memiliki keteguhan hati dan kepercayaan diri (i’timad ‘alan-nafs). Jangan lupa bahwa Anda bisa sukses dan hebat seandainya tak seorang pun mempercayai diri Anda, tetapi Anda tidak akan pernah sukses tanpa percaya diri sendiri. That’s real!

Dus, dalam upaya mengejar kesempurnaan, tak pernah ada batas kecepatan. Sebagai petarung dan pemenang sejati, jika ada yang iseng mempertanyakan Anda, misalnya: “mengapa kali ini gagal?” Katakan kepada mereka para pencemburu itu, “saya tidak kalah dan gagal, saya hanya kehabisan waktu. Ayo kita mulai lagi dengan lebih berani!”

Salam takzim, semoga bahagia dan mulia.

Related Posts