Berdebat dengan Orang Fanatik itu Sama Seperti Berdebat dengan Tembok

Pagi-pagi ada teman WA saya, ia nyuruh hapus status saya yang mengucapkan selamat hari natal di media sosial. Ia santri tulen yang insya Allah tak bisa diragukan bacaan kitab kuningnya, poll, dan top. Segera saya tanggapi dengan jawaban “iya”. Tak mau banyak diskusi soal agama. Bosen. Tak ada untungnya. Dan tak perlu ribet menghadapi manusia yang kepalanya hanya bermanfaat untuk tukang cukur.

Selain memang sudah pensiun soal debat agama, terutama hal-hal yang tidak terlalu prinsipil, saya lebih memilih menulis saja tentang sesuatu yang ringan yang saya tahu. Soal nanti banyak orang yang nggak setuju dengan tulisan saya, itu hal biasa. Dan saya tak pernah membatasi orang untuk berbeda pendapat di depan umum selama tidak keluar dari kode etik pergaulan hidup sehari-hari.

Jadi, selama ini saya sering dipancing untuk berdebat oleh seseorang yang kadang oleh teman sendiri yang lama tak jumpa, tiba-tiba muncul langsung ngajak debat (wihh……), dan kadang oleh orang yang tak dikenal.

Ada yang lewat messenger, WhatsApp, DM Instagram, SMS. Semuanya sama, dan memiliki visi yang sama yaitu menyerang dengan dalil yang mereka tau dan dalilnya itu-itu saja. Itulah kenapa saya tak suka. Sebab selain dalil-dalilnya pas-pasan, biasanya orang seperti itu ngeyelan dan tak mau mendengarkan pendapat orang lain. Dan maunya menang sendiri alias fanatik.

Misal, perdebatan natal kemarin, ada puluhan inbox dan WhatsApp masuk, tapi hanya satu dua yang saya tanggapi. Itu pun saya melihat pesan-pesan yang berbobot saja untuk saya balas. Supaya balasannya juga berbobot gitu.

Ada satu pesan yang bikin saya agak sedikit emosi dari orang yang tak dikenal “kamu tau kenapa fatwa ulama itu muncul? Sebabnya apa dan illatnya kira-kira apa?”, Jawaban saya setelah ia menyodorkan dalil.

“Anda ini ikut siapa klo bukan ulama? Jangan merendahkan gitu. Anda ini siapa kok berani-beraninya nentang ulama, maunya apa?”. Ini contoh sederhana yang saya alami sebagai kado buruk di penghujung 2019 dari orang yang memiliki sikap fanatik. Orang-orang seperti ini tak perlu digubris lagi, cukup hindari saja. Saya sudah bosen meladeni orang yang memiliki gaya debat dan pola hidup seperti itu. Bukan gaya debat sih sebenarnya, tapi lebih ke ngajak berantem.

Orang seperti itu memang nggak niat diskusi apalagi debat. Bisanya menyerang tanpa arah. Pokonya menyerang walaupun sebenarnya tanpa sengaja’ memperlihatkan kebodohannya sendiri. Semakin nampak kebodohannya manakala seseorang itu tidak bisa bertanggungjawab atas apa yang ia sampaikan alias ngeles.

Saya sebagai orang yang dianugerahi otak yang bisa mikir, tentu tak banyak menanggapi tantangan-tantangan debat seperti itu. Pendebat yang norak itu berdebat dengan cara-cara yang menggebu-gebu tapi sesat pikir dan fanatik. Ini harus dihindari, supaya virus-virus seperti itu tak mencemari lingkaran otak yang waras. Apa bedanya kita berdebat dengan tembok. Sangat berbahaya jika otak sudah tertutup terumbu karang. Cairan nutrisi otaknya terhambat.

Mari kita lawan kebodohan-kebodohan yang selalu menghantui aktivitas kita dengan cara-cara yang bisa menghormati kebodohan itu sendiri. Dan sebaik mungkin menghindari vitamin otak yang tidak beres. Supaya kita memiliki nutrisi otak yang minimal hasilnya tidak ngeyelan dan mau mendengarkan pendapat orang lain.

Ini tidak lebih hanya tulisan sampah dari pengalaman penulis untuk jadi pelajaran. Tentu anda punya cara masing-masing untuk menyikapi hal-hal konyol seperti itu.

Related Posts