Hari-Hari Kita yang Tidak Asyik Lagi

Miris sekali menyimak tokoh yang mengucapkan selamat Natal, untuk mengantisipasi serangan kelompok sebelah, harus berdalil dulu. Mbak Yeni Wahid misalnya, menyebut Grand Syeikh Azhar, King Abdullah Jordan, dan tokoh lain bahwa mereka setiap tahun memberi ucapan natal.

Setelah itu Mba Yeni Wahid baru mengucapkan selamat natal. Rasanya aneh, wagu dan miris banget mengucapkan natal saja sekarang kita tidak leluasa, karena kita tahu sewaktu-waktu bisa diserang secara brutal. Rasanya malu kepada umat Kristiani, serigid, sekaku dan seproblematik itu persoalan mengucapkan selamat natal.

Pada dasarnya mengucapkan selamat hari raya agama lain, termasuk natal ulama berbeda pendapat. Boleh dan tidak boleh, Habib Ali jufri, Dr. Qardhawi, Syeikh Ramadhan al-Bouthi memperbolehkan karena menganggap ilat hukum (alasan keharaman) yang menjadi dasar fatwa ulama dahulu dan keadaan sekarang sudah berubah.

Bahkan Ibn Taimiyah menurut Syeikh Abdullah bin Bayah memperbolehkan ucapan selamat natal.

Jika dahulu ucapan selamat sama dengan pengakuan keabsahan keyakinan trinitas, kalau sekarang berbeda sebab ucapan selamat saat ini sebatas menjaga harmoni antar sesama anggota masyarakat dalam sebuah bangsa.

Jadi yang mau ikut ulama yang mengharamkan atau yang memperbolehkan monggo. Persoalannya yang ikut pendapat ulama yang mengharamkan ko maksa umat yang mengikuti pendapat ulama yang memperbolehkan harus mengikuti mereka.

Apa tidak puas dengan keyakinannya bahwa pendapatnya paling benar, tanpa harus memaksa orang lain mengikuti pendapatnya. Yang jadi masalah sekarang, yang membuat ucapan selamat natal dari para tokoh jadi tidak asyik karena didahului dalil untuk mengcounter serangan pengikut ulama yang mengharamkan.

Seribet ini kehidupan beragama kita, ada kelompok yang sudah kita toleransi untuk berbeda pendapat dengan kita, sudah kita amini bahwa pendapat mereka juga sama dengan fatwa yang kita pegang; masing dalam naungan madzhab fikih, dan fatwa sebagian ulama. Eh mereka malah selalu maksa kita harus ikut mereka dan harus seragam dengan mereka.

Mau kalian apa sebenarnya? Apa tidak cukup menjalani keyakinan masing-masing fatwa ulamanya lah paling benar, dan mentoleransi orang lain untuk mengikuti fatwa ulama yang berbeda dengan mereka tanpa mengusik, menggangu, membuli, dan menganggap kami telah kafir hanya karena tidak mengikuti fatwa ulama kalian.

Kita semua, kami dan Anda hanya santri dari ulama terdahulu, jadi sesama santri, sesama siswa sebaiknya jangan saling mengisi nilai raport. Sebaiknya fokus memperbaiki diri sendiri agar nilai raport di semester berikutnya lebih baik.

Ingat sesama siswa jangan saling mengisi raport. Biar guru masing-masing yang mengisi, yaitu ulama madzhab kita.

Related Posts