IPK Tinggi Tanda Serius Kuliah

Sering terdengar orang-orang mengatakan IPK (indek pretasi komulatif) tinggi tidak menjamin keberhasilan seseorang di masa mendatang. Saya setuju dengan pendapat ini karena kenyataannya tidak sedikit orang dengan IPK rendah berhasil meraih kesuksesan. Bahkan, beberapa orang yang gagal di bidang akademik tetap berhasil mencapai karir gemilang. IPK tinggi hanya salah satu instrumen untuk meraih masa depan.

Keberhasilan seseorang ber-IPK rendah dan yang gagal kuliah itu tidak dapat jadikan tolak ukur proses hidup untuk meniti karir dan berkontribusi di tengah-tengah masyarakat. Hal yang menentukan kesuksesan itu kompetensi (keahlian), spirit, integritas, ketekunan dan sikap (moral). Siapapun orangnya dan apapun jenis bidang yang ditekuni akan berhasil jika didasari persyaratan di atas.

Untuk menjadi sukses tidak perlu melewati bangku kuliah. Syarat menjadi sukses hanya komitmen dan tekad. Setiap orang yang sukses menjalani hidupnya pasti pantang menyerah dan gigih memperjuangkan keinginan dengan berbagai cara yang memungkinkan selama tidak melanggar kode etik. Tidak sedikit orang sukses di bidang masing-masing tanpa melalui dunia perkuliahan seperti Gus Dur dan Emha Ainunajib.

Contoh keberhasilan ini seharusnya tidak diberlakukan bagi orang-orang yang memilih jalur kuliah kerena berpotensi membungkus kemalasan (munafik). Bagi orang tertentu akan berargumentasi seperti di atas untuk menutupi kenakalan dan ketidakseriusan mengikuti perkuliahan. Kesehariannya hanya sibuk nongkrong di warung kopi dan mall atau manjadi activist-follower (pegiat organisasi sebagai pelengkap dan hanya ikut-ikutan).

Jika argumentasi ini yang dipegang, sangat kecil kemungkinan untuk berhasil layaknya Gus Dur dan Emha serta Agus Muljadi, alumnus ITB dengan IPK rendahย  menjadi Asisten Professor di University of Nottingham. Orang-orang sukses dengan IPK jongkok atau gagal study ialah mereka yang memiliki prinsip dan komitmen dalam memilih hidupnya.

Mereka berpengang teguh pada prinsipnya dan berani kesepian berada di jalur yang ditempuhnya. Mereka tidak mau didekte dan diwarnai tetapi sebaliknya bertekad untuk menawarkan warna baru yang lebih bernilai. Mereka menemukan jalan kecil (path) untuk mewujudkan cita-cita yang diimpikan. Itulah mengapa mereka berhasil dan tetap percaya diri dengan apa yang mereka miliki danย  lakukan.

Selama mahasiswa belum mampu mewarnai dirinya dan masih terpengaruh lingkungan sekitar, sebaiknya tidak perlu mengikuti mazhab IPK jongkok. Kalian para mahasiswa harus memiliki tekad untuk meraih IPK tinggi minimal 3,50 meskipun itu tidak menjamin keberhasilan hidup kelak. Para mahasiswa harus menyadari bahwa orang yang mampu meraih IPK tinggi hanyalah yang serius menjalani perkuliahan.

Artinya lulus dengan IPK tinggi menandakan dirinya telah menjalankan kegiatan perkulian dengan serius dan baik. Jika suatu saat melamar pekerjaan atau beasiswa, interviewer atu penguji saat membuka dokumen aplikasi akan berasumsi pelamar dengan IPK tinggi adalah orang yang serius kuliah dan sangat probalitas kompeten di bidangnya. Sebaliknya, pelamar dengan IPK rendah diasusmikan malas kuliah dan kompetensinya dipertanyakan kecuali memiliki portofolio yang mendukung.

Logika sederhana yang perlu dikembangkan adalah pemilik IPK tinggi hanya butuh membuktikan kalau dokumen itu merepresentasikan kemampuan dirinya. Untuk itu mahasisewa tidak boleh menganggap remeh IPK tetapi tidak boleh juga menyembah IPK. Yang tidak peduli dengan IPK akan kuliah asal-asalan. Penyembah IPK akan melakukan berbagai hal agar IPK-nya tinggi termasuk dengan cara tidak fair.

Kondisi ideal pemiliki IPK tinggi mampu menunjukkan kemampuan kapasitias dirinya sebagai orang yang ahli di bidang yang diminati. Pemilik IPK rendah dapat direcognisi ketika mampu menunjukkan kompetensinya dan mampu menunjukkan bukti portofolio yang bagus. Kita tidak bisa menutup mata beberapa orang dengan nilai pas-pasan tetapi memiliki pencapaian yang luar biasa (outstanding).

Di sisi lain kita tidak bisa melihat pemilik nilai tinggi dengan mata sebelah. Jika tidak mampu menunjukkan kemampuannya, dirinya harus mengakui kekurangannya, harus berbenah dan tidak boleh bertopeng di balik dokumen. Meskipun dalam dokument terekam pencapaiannya bagus tetapi jika kemampuan substantifnya belum tercapai, ia harus berani jujur pada dirinya sendiri dan berusaha memperbaiki.

Ambil contoh sarjana pendidikan bahasa arab/Inggris dengan IPK diatas 3.50 tetapi skor TOAFL/TOEFLnya di bawah 530 berarti masih lemah penguasaan di bidang core knowledge yang digeluti. Saya beberapa kali menjumpai kasus ini dan ini yang menginspirasi saya untuk berkirim surat ke LPDP agar diberlakukan standard nilai bahasa yang beda (lebih tinggi) bagi lulusan Bahasa Ingris/Arab atau lulusan juruan bahasa yang diakui yang mendaftar beasiswa LPDP.

Nilai tinggi hanya menandakan keseriusan kuliah dan tidak menjamin kompetensi substansial. Tetapi bagaimanpun juga nilai tinggi mutlak diperlakukan agar lolos seleksi administrasi yang menyaratkan nilai tinggi. Selanjutnya pemegang nilai tinggi itu memantaskan diri dengan bersungguh-sungguh meningkatkan kapasitas diri agar setelah lolos seleksi administrasi berhasil melewati seleksi berikutnya.

Dalam berbagai kesempatan baik perkuliahan, forum ilmiah atau diskusi bahkan kepada mahasiswa/santri binaan, saya selalu menekankan pentingnya serius kuliah dengan target nilai tinggi yang melambangkan komampuan riil dirinya. Niat orang kuliah itu adalah lulus dengan mendapat ijazah untuk kepentingan dunia bukan kepentingan akhirat. Tanda orang serius kuliah itu banyak baca buku ilmiah dan jurnal, aktif di kelas dan berorganisasi tetapi tetap memprioritaskan kuliah.

Selain itu, tugas dikerjakan dengan bersungguh-sunguh. Jika tugas berupa makalah, susunlah sebaik mungkin dan tulis menggunakan gaya penulisan artikel jurnal sehingga di akhir perkuliahan bisa disubmit ke jurnal-jurnal yang open access dan free of charge. Mahasiswa yang berhasil melalakukan ini berarti mampu menjadi komunitas akademik yang baik apalagi kalau dilengkapi dengan kemampuan bahasa arab/Ingris dan kegiatan sosial.

Related Posts