Karomah Sholawat Nabi dan Seribu Dinar

Diriwayatkan, pada suatu hari kami berada di Negeri Bagdad untuk mengambil qiroah pada Syaikh Abu Bakar [¹]. Kemudian ada seorang laki-laki tua, memakai surban, gamis dan selendang (Syal) yang kumuh memasuki majlis Syaikh Abu Bakar Ibnu Mujahid.

Melihat laki-laki itu, Syaikh Abu Bakar menghentikan qiroahnya sembari berdiri menyambut kedatangannya laki-laki itu. Konon laki-laki tua bernama Muhammad bin Malik.

Setelah mempersilahkan duduk sang tamu, Syaikh Abu Bakar menanyakan kabar dan keadaan putra putrinya.

Laki-laki itu menjawab lalu bercerita: “Pada suatu hari, istriku melahirkan. Aku sangat membutuhkan minyak samin dan madu, tapi aku tidak mempunyai sepeser uang pun untuk membelinya. Karena lelah, mencari kesana kemari tidak menemukannya, aku tertidur dalam keadaan hati yang sedih. Dalam tidur itu aku bermimpi bertemu Rasulullah ﷺ. Beliau bersabda padaku: “Apa yang membuatmu sedih, jangan bersedih? Pergilah engkau pada Ali bin ‘Isa, seorang menteri kerajaan. Sampaikan salamku dan katakan kepadanya: “Setiap malam Jum’at engkau tidak pernah tidur kecuali setelah engkau membaca sholawat 1000 kali kepada Nabi Muhammad ﷺ. Di malam Jum’at itu engkau baca sholawat kepada Nabi Muhammad sebanyak 700 kali. Setalah itu datang kepadamu seorang utusan dari kerajaan yang mengajakmu menemui raja. Lalu Engkau pergi bersamanya mengahadap raja kemudian engkau pulang ke rumah dan engkau tidak tidur sebelum engkau menyempurnakan hitungan shalawatmu hingga genap 1000 kali. Dengan bukti cerita ini, berilah laki-laki yang ada dihadapanmu ini 100 Dinar”.

Setelah ngobrol lama dengan laki-laki tua itu, Syaikh Abu Bakar bin Mujahid al-Muqarriy berdiri menyudahi qiroah pada hari itu lalu mengajak laki-laki tua itu berkunjung ke rumah Ali bin ‘Isa, sang menteri.

Sesampainya dirumah sang menteri, mereka berdua dipersilahkan duduk kemudian laki-laki tua itu memulai bercerita dan menyampaikan pesan Nabi ﷺ pada sang menteri. Mendengar cerita dan pemaparan laki-laki tua itu, sang menteri memerintahkan pada pelayan kepercayaanya agar memberikan laki-laki tua itu sekantong uang yang berisikan 100 Dinar.

“Wahai orang tua! Semua apa yang telah engkau ceritakan tadi adalah benar, kisah tadi adalah rahasia antara aku dan Allah. Sekarang terimalah uang 100 Dinar ini karena engkau adalah duta Rasulullah ﷺ. Ujar sang menteri pada laki-laki tua itu.

Tidak lama kemudian, sang menteri memberi 100 Dinar lagi pada laki-laki tua itu lalu berkata: “Ini 100 Dinar lagi, Terimalah! Sebagai hadiyah dariku karena Rasululluh Syaikh Abu Bakar telah mengtahui bahwa aku telah bershalawat kepadanya dan ini 100 Dinar lagi sebagai upah atas jerih payahmu yang sudi mendatangiku dan menceritakan semuanya padaku”.

Sang menteri tidak henti-hentinya memberi laki-laki itu kantongan dinar, hingga jumlahnya mencapai seribu dinar.

Namun tumpukan Dinar dari sang menteri tidak buat laki-laki tua itu gembera dan lupa daratan. Dia malah menolak pemberian sang menteri kemudian berkata: “Wahai Menteri! Aku tidak bisa menerima semua pemberian darimu kecuali nilai uang yang telah diperintahkan Rasulullah ﷺ kepadaku.
________
[¹] Abu Bakar Ahmad bin Musa bin al-Abbas bin Mujahid at-Tamimiy al-Muqarriy yang masyhur dikenal dengan ssbutan Ibnu Mujahid (245 H/ 859 M-324/936 M).

Waallahu A’lamu

📍 Refrensi:

📖 Sa’adu ad-Daraini fi as-Sholati ala Sayyidi al-Kaunaini| Daru al-Kutub al-Ilmiyah| Syaikh Yusuf bin Ismail an-Nabahaniy| Hal, 139-140.

📖 Hadaiqu al-Aulia| Daru al-Kutub al-Ilmiyah| Ibnu al-Mulaqqin, Al-Imam Sirajuddin Abu Hafs Umar bin Ali Al-Andalusi At-Tukuruwi Al-Mishri Asy-Syafi`i| Juz, hal 27-28.

Related Posts