Karomah Wali Qutb : Habib Abu Assegaf Gresik

Penulis: Akhmad Fauzan Rofiq

Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf Gresik adalah sosok Wali Quthub yang luar biasa. Beliau khalwat kurang lebih 15 tahun. Haul beliau menjadi salah satu haul terbesar di Indonesia. Makamnya diziarahi para habaib sedunia.

Menurut Abah Guru Sekumpul, ada 3 orang auliya Allah yang nama dan maqomnya sama, yaitu Habib Abu Bakar bin Abdullah Alaydrus, Habib Abu Bakar bin Abdullah al-Atthos, dan Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf Gresik.

Habib Abu Bakar mengisi hidupnya dengan mengajar dan membersihkan hati. Dalam majlis pengajiannya, beliau mengkhatamkan Kitab Ihya Ulumiddin sebanyak 40 kali. Sedangkan di rumahnya sendiri, beliau mengkhatamkan Kitab Ihya’ sebanyak 90 kali. Totalnya adalah 130 kali khatam. Beliau wafat pada malam Senin, tanggal 17 Dzulhijjah 1376 H. Usia beliau saat itu 91 tahun.

Ada banyak kisah nyata tentang karomah Habib Abu Bakar Assegaf ini, di antaranya adalah saat wafatnya beliau. Saat semua penduduk Kota Gresik sepi karena mensholati jenazah beliau, ada seseorang bapak membeli daging kambing di Pasar Gresik. Kemudian bapak itu tanya kepada penjual daging, ”Pak, mengapa pasar ini sepi? Dan kenapa engkau terlihat tergesa-gesa?”

“Itu Pak, Habib Abu Bakar wafat, sekarang waktunya mensholatkan jenazah beliau, ayo ke sana,” jawab penjual daging itu.

Si bapak pembeli daging itu langsung berangkat ke masjid jami’ untuk ikut serta mensholati jenazah beliau sambil membawa “bungkusan daging”.

Saat jenazah beliau akan diangkat, namun ternyata sama sekali tidak terangkat sehingga para jamaah yang jumlahnya mencapai ratusan ribu itu heran. Di tengah kebingungan itu, salah seorang dzurriyah Habib Abu Bakar ingat bahwa Habib senang dibacakan Sholawat Nabi. Akhirnya ribuan pelayat secara bersama-sama membacakan sholawat. Subhanallah!!!! Jenazah beliau naik ke atas dan berjalan sendiri tanpa ada yang mengangkat.

Yang menakjubkan lagi, bapak yang ikut mensholatkan beliau itu pulang dan daging yang dibeli di pasar dimasak, namun anehnya daging kambing tersebut tidak bisa matang, bahkan digoreng pun tetap tak bisa. Si Bapak ini kemudian menangis menceritakan kejadian daging itu.

Para ulama santri Habib Abu Bakar bercerita bahwa dulu beliau pernah dawuh: “Barang siapa yang kelak ikut menyolati jenazahku, maka aku doakan dia tidak terkena panasnya api neraka dan api dunia.”

Subhanallah…, si bapak menangis tersedu. Dia tak menyangka bahwa daging kambing yang ikut menjadi saksi ketika mensholati jenanazah Habib Abu Bakar itu ternyata benar-benar tidak bisa terlalap api dunia. Hal ini merupakan isyarat yang nyata bahwa doa beliau sangat mustajabah.

Wa lahul fatihah…!

*Akhmad Fauzan Rofiq, M.Pd.I Pengasuh Pesantren Babul Ulum Nyalaran Blumbungan Larangan Pamekasan. Dosen Tafsir Ayat Ahkam di STAI Miftahul Ulum Pamekasan

Related Posts