Keistimewaan Khusus Pada Diri Nabi dalam Kitab “Maroqil ‘Ubudiyah”

Nabi Muhammad adalah manusia. Benar, pernyataan ini tak ada yang membantah. Nabi Muhammad sehari-hari makan, tidur, dan beraktivitas selayaknya manusia lain. Beliau bukan malaikat yang tak berayah dan tak beribu. Ayahnya Abdullah, ibunya Aminah. Jadi tidak ada yang perlu diragukan, Nabi Muhammad adalah manusia dan memiliki sisi-sisi kemanusiaan, tentunya. Walaupun demikian, sisi kemanusiaan tersebut adalah sisi kemanusiaan yang tak mengurangi luhurnya martabat beliau sebagai nabi dan rasul. Keterangan ini terdapat dalam pelajaran ‘Aqidatul ‘Awam pada bagian tentang sifat jaiz rasul.

Namun, yang menjadi pembeda adalah sabarnya Nabi tidak seperti sabarnya manusia biasa lainnya. Ibadah Nabi tidak seperti ibadah manusia lain. Kita tentu tahu seperti apa ibadah shalat tahajud Nabi, kaki beliau sampai bengkak, padahal sudah dijamin surga. Jawaban beliau saat ditanya sahabat, kenapa sangat tekun beribadah, “Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur?”

Selain itu ada beberapa keistimewaan yang khusus hanya ada pada diri mulia Nabi. Keistimewaan yang tentunya merupakan anugerah dari Allah dan khusus menjadi milik Nabi ini termaktub dalam kitab Maroqil ‘Ubudiyah karya Syekh Nawawi al-Bantani. Kitab tersebut sebagai syarh kitab Bidayatul Hidayah karya Imam Al-Ghazali.

Pertama, Nabi tidak pernah bermimpi basah (ihtilam). Manusia pada umumnya saat mencapai usia baligh ia akan mengalami tanda-tanda pubertas. Bagi laki-laki pubertas ditandai, salah satunya, dengan mengalami mimpi basah. Rasulullah tidak pernah mengalaminya.

Kedua, Rasulullah tidak pernah menguap. Merupakan hal yang biasa, jika seseorang sudah mulai kelelahan dan merasa mengantuk, ia akan mengeluarkan suara lirih (kadang dibuat-buat menjadi nyaring) dari mulut. Seorang muslim dianjurkan menutup lisannya ketika menguap untuk menjaga kesopanan di depan orang lain dan supaya tidak dimasuki setan atau jin. Sedangkan Nabi tidak pernah menguap selama hidup beliau.

Ketiga, semua binatang tunduk dan patuh kepada Nabi. Jika manusia masih butuh bantuan pawang untuk mengendalikan ular dan makhluk berbisa lainnya, kepada Nabi Muhammad semua hewan tunduk. Bukankah beliau diutus untuk sekalian alam? Tak hanya manusia dan jin, melainkan hewan dan tumbuhan serta semua yang terkandung dalam alam. Maka Rasulullah sangat kecewa manakala ada dari sahabat Nabi yang memberikan beban kepada hewan tunggangan melebihi kemampuan si hewan.

Keempat, tubuh Nabi tidak pernah dihinggapi lalat. Lalat adalah binatang yang suka hinggap di tempat kumuh dan kotor. Sedangkan tubuh mulia Nabi Muhammad adalah sebaik-baik tubuh manusia. Tak kan pernah berani lalat yang kotor singgah pada badan yang api neraka haram menyentuhnya. Tubuh yang dilindungi oleh segenap kaum muslimin dalam setiap peperangan, supaya tak sedikit pun tergores pedang musuh.

Kelima, sama saja antara Nabi melihat ke depan maupun ke belakang. Berbeda dengan kita, yang harus menoleh dan memutar badan untuk bisa melihat ke arah belakang, Nabi Muhammad bisa melihat yang ada di belakang beliau ketika sedang menghadap ke depan.

Keenam, air seni (kencing) beliau tidak berbekas. Konon, dalam penuturan guru saya, orang Arab zaman dahulu buang air kecil di padang pasir, dengan tabir yang menutupi sekelilingnya. Lumrahnya, saat ada air yang jatuh ke tanah, akan ada bekas basah, namun tidak dengan air seni Nabi Muhammad. Ia hilang sekejap mata dan tak berbekas.

Ketujuh, hati Nabi tetap terjaga walau kedua kelopak mata mulia terpejam. Umumnya, orang yang dalam kondisi tidur ia akan berada dalam alam bawah sadar, tidak merasakan apa yang terjadi di sekelilingnya, bahkan beberapa kasus sampai sulit dibangunkan. Sedangkan Nabi Muhammad tetap terjaga hatinya, meski dalam kondisi tidur.

Kedelapan, di bawah terik matahari tidak tampak bayangan Nabi. Orang yang berjalan di bawah sinar terang benderang, apalagi matahari, biasanya akan memunculkan bayangan. Hal demikian tidak terjadi pada sosok Nabi Muhammad. Meski di bawah cahaya terang matahari, tubuh beliau tidak ada bayangannya. Apakah hal ini karena beliau nurun ‘ala nur (cahaya di atas cahaya)? wallahu a’lam.

Kesembilan, kedua pundak Nabi unggul saat duduk bersama sahabat lain. Nabi duduk sama rendah, berdiri sama tinggi dengan para sahabat. Keistimewaan saat duduk, pundak beliau lebih unggul dibandingkan sahabat lain. Hal ini tentu bukan tanda kesombongan, tetapi tanda kemuliaan.

Kesepuluh, Nabi lahir dalam kondisi sudah terkhitan. Khitan atau sunat diwajibkan bagi lelaki muslim. Khasiat dan hikmah di balik khitan berupa kesehatan dan terbebas dari kotoran. Rasulullah saat lahir sudah dalam keadaan terkhitan.

Kesepuluh, keistimewaan ini terangkum dalam 5 baris syair yang jika dihafalkan akan mendapatkan karunia berupa selamat dari kejahatan atau mudarat yang ditimbulkan oleh api, pencuri, dan bencananya. Semoga setiap dari kita mampu menjadi juru bicara akhlak Nabi dan menjadi pengamal ajaran-ajaran luhur yang dibawa beliau.

Related Posts