Ketika Kiai Kampung Menjawab Pertanyaan, Kenapa Tidak Langsung Kembali ke Al-Qur’an dan Hadis?

Alkisah, seorang ustad Sa-Wah mendebat seorang kiai kampung, “Kenapa pak kiai pakai kitab kuning dalam mengajarkan agama? Itu ‘kan cuma bikinan ulama? Kenapa tidak langsung kembali pada sumber aslinya, al-Qur’an dan Hadits?”

Sang kiai cuma manggut-manggut, sambil tersenyum ia balik bertanya, “Apakah anda tadi sudah mandi ketika mau datang ke mari?”

“Ya, tentu sudah, kiai. Masa’ saya gak mandi?” jawab si ustadz.

“Mandinya di jeding ‘kan?” tanya kiai.

“Ya iya lah. Emang kenapa?” tanya ustadz bingung.

Baca juga:

Perdebatan Ucapan “Selamat Hari Natal” itu Wacana Usang

Tiga Pilar Ruhani

“Air jedingnya ambil dari mana?” tanya kiai lagi.

“Ya, di sumur. Tapi, apa hubungannya dengan pertanyaan saya tadi?” tanya si ustadz makin bingung.

“Jika begitu, saya bertanya, kenapa anda masih mandi di jeding, kok tidak langsung mandi nyebur ke dalam sumur saja?” tanya kiai serius.

Kali ini si ustadz menjawab agak gelagapan, “Yah…, biar lebih mudah.”

Sambil tersenyum, kiai itu menimpali, “Begitu juga saya dan kiai-kiai lainnya. Kami pakai kitab kuning itu biar lebih mudah, toh semuanya juga bersumber dari al-Qur’an dan Hadits. Jika kami nekad mengambil langsung dari keduanya, khawatir kami tidak mampu. Sama juga anda tidak langsung mandi nyebur ke dalam sumur karena khawatir anda kelelep. Iya kan..?”

“I..iya, kiai, sekarang saya paham,” jawab si ustadz Sa-Wah.

Related Posts