Mazhab Anti Mainstream

“Think and act differently to be excellent” sebuah ungkapan sederhana sampai detik ini saya jadikan landasan dalam bersikap dan menentukan pilihan. Belakangan ini hak mandiri masyarakat dikalahkan oleh arus mayoritas. Saya melihat masyarakat ikut-ikutan tanpa mengetahui dasar pijakan dan goal setting yang hendak diraih. Mereka melakukan banyak hal tanpa memperhatikan apa manfaatnya tetapi pertimbangannya agar sama dengan kebayakan warga sekitar.

Kebenaran dan asas manfaat kurang diperhatikan karena yang terpenting bagi mereka adalah membangun citra agar sama dengan lingkungan. Saya teringat sebuah pristiwa di mana para orang tua memondokkan putra-putrinya ke sebuah pesantren yang cukup terpandang hanya didasari trend pasar.

Orientasi mereka agar anak-anaknya tidak berbeda dengan yang lain bukan karena visi besar untuk menyiapkan mereka sebagai figur masa depan yang bermanfaat kepada orang lain secara terukur. Karena pertimbangan mereka tidak ilmiah dan berbasis muttabi’ mahdhah (pengikut militan tanpa dasar yang kuat) seringkali sikap mereka ekseklusif dan cenderung fanatik.

Saya mempunyai pengalaman pribadi yang menarik diungkap sebagai refleksi dan ilustrasi model. Sewaktu itu saya hendak melanjutkan tradisi belajar orang tua saya sebagai masyarakat santri. Ibu saya santri K Imam, Ambunten sedangkan ayah saya santri K Muhammad, Karay.

Memperhatikan situasi yang berkembang, secara dhahir saya tidak mengikuti jejak ayah-ibu dalam memilih guru tetapi tetap menjaga tradisi belajarnya. Misi yang ingin saya capai melalui pendidikan pesantren adalah mampu membaca kitab kuning dan mendalami ilmu pengetahuan melalui pendidikan formal-original. Pendidikan formal original maksud saya adalah sekolah dengan guru yang sesuai bidangnya.

Sebelum menentukan pilihan, saya dibimbing paman saya, Fauzan, satu-satunya orang alim dan berwawasan luas di keluarga saya meskipun tidak berpendidikan formal, berkunjung ke beberapa pesantren yang berada di Sumenep dan Pemekasan. Saya harus memastikan bahwa kiai yang menjadi guru saya nanti pilihan saya berdasarkan penelitian dan istikhorah bukan mengikuti arus.

Pendek cerita, saya atas dukungan orang tua dan paman saya memutuskan untuk berguru kepada K. Hafidhi Syarbini, waktu itu beliau belum melaksanakan ibadah haji, jadi saya tidak menyebutnya “Kiai Haji”. Hampir semua masyarakat di sekitar saya belum mengenal kiai ini kerena selain masih muda beliau juga baru merintis pesantren tradisional sendiri bukan warisan orang tuanya. Modal saya memilihnya adalah keyakinan yang kuat bahwa saya di bawah bimibingannya bisa baca kitab kerena kiai ini santri terbaik Mbah Maemon dan terkenal kealiman dan kesederhanaanya.

Saya menyadari pilihan berbeda penuh risiko minimal dipandang remeh (underestimated) dan tidak mendapat dukungan eksternal keluarga. Bahkan pil pahit itu datang dari salah satu famili saya sendiri. Saya masih teringat komentarnya, “Jangan-jangan kamu hanya jadi tukang bikin kandang sapi dan ngarit rumput di sana!”. kalimat itu sarkasme sekali dan menyangsikan kualitas keilmuan kiai yang saya pilih. Saya diam tidak menanggapi kecuali menjadikannya energi positif untuk menjaga ritme effort (usaha) saya untuk meraih target yang telah saya bidik.

Ini gambaran kecil dari kejadian-kejadian yang mengindikasikan sikap underestimate orang-orang merespon langkah saya yang sering kali melawan arus dan berbeda dari kebiasaan. Saya mengemukakan peristiwa ini untuk menekankan bahwa berfikir dan bertindak dengan cara yang berbeda itu prinsip yang melandasi aktivitas saya. Jalan berbeda ini bukan untuk meraih perhatian publik bukan pula untuk mencari perbedaan tapi karena bertekad meraih pencapaian (achievement) yang tidak banyak orang lain meraihnya.

Berfikir dan bertindak dengan cara berbeda hakikatnya adalah mengembangkan sensitifitas berkreasi dan berinovasi. Kreativitas-inovatitif selalu lahir dari pemberani, setidaknya berani berbeda mengambil teknik dan metode lain yang anti mainsteam. Orang yang berani berfikir dan bertindak di luar kebiasaan harus berani berdiri sendiri sebagai inovator/mujaddid dan dituntut menghabiskan banyak waktu untuk merumukasn strategi-strategi yang berbeda tetapi lebih efektif dan berdampak positif bagi umat.

Umumnya hal baru yang berbeda menuai protes dari kebanyakan masyarakat apalagi di kalangan nahdiyin kultural yang kebiasaannya menjadi muqollid mahdhah. Kita sebagai santri-akademik (mendalami agama di pesantren tradisional dan kuliah di perguruan tinggi) harus berani bentindak yang dilandasi dua hal.

Pertama, ethical reasoning; alasan yang kuat baik secara konseptual teoritis dan irfani-intuitif dengan pengkajian mendalam (indeep study) dan kontemplasi-sprituliaslitik di bawah supervisi guru (mursyid muhaqqiq).

Kedua, practical reasoning; landasarn kuat berbasis manfaat mikro untuk diri dan keluarga dan makro untuk lingkungan dan alam. Teori uji kualitas individual berdasarkan kebermanfaatan seperti yang tercermin dalam hadist seharusnya menjadi manhaj/metode aplikatif terukur. Dewasa ini santri-akademik harus mampu hadir dalam bentuk manfaat nyata bagi lingkungan dengan ilmu dan pengalaman yang dikuasai.

Santri-akademik tidak boleh terjebak pada pola-pola hidup hodenistik-pragmatik yang cenderung menghalalkan segala cara. Dewasa ini disadari atau tidak kita bersyukur banyak gerakan-gerakan kemanusian yang dilakukan oleh komunitas akademik yang turun ke wilayah remote area. Tetapi yang memprihatinkan tidak sedikit santri-akademik memanfaatkan keadaan untuk meraih keuntungan dengan menjadikan unwell-educated community untuk kepentingan sepihak.

Mazhab “think and act differently to be ecxellent” dimaksudkan untuk membangun kesadaran setiap individu untuk terbebas dari doktrin yang membatasi ruang gerak untuk berkarya. Kita wajib menjaga nilai-nilai yang diwariskan oleh guru dan nenek moyang terutama yang berkaitan dengan perjuangan keagamaan dan kemanusiaan. Akan tetapi yang perlu disadari perkembangan zaman menuntut keberanian untuk bertindak maju (progresif) agar tidak tergilas waktu.

Visi keagamaan dan kemanusian harus terpatri dalam sanubari sehingga setiap prilaku kita senantiasa dioreintasikan ke arah tersebut. Di sini kita perlu mewaspadai bergesernya tekad (shifting intention) dari gerakan moral menjadi gerakan modal. Berbagai upaya dilakukan dan disuarakan atas nama agama dan bangsa tetapi sejatinya terselubung niat untuk mengeksploitasi umat dan negara. Ini sangat merugikan.

Untuk mengarah pada kesadaran ini, setiap orang harus mampu berfikir (kritis dan sintetis) dan bertindak (kreatif-inovatif) dengan cara yang berbeda. Setiap individu hendaknya mampu merumuskan mega konsep visi-misi hidup dirinya. Berikutnya mereka harus mampu menemukan pola taktis yang berbeda dengan instrumen yang tervalidasi dan teruji reliabilitasnya.
Goal setting mazhab ini lahirnya pribadi yang excellent.

Indikatornya secara sederhana dirinya mampu mengapai posisi strategis di dunia dengan ilmu dan keterampilannya. Kemudian dia memanfaatkannya untuk menyeberakan nilai kemanusian dan ajaran agama terhadap lingkungan sekitar.

Related Posts