Membangun Logika Belajar Berbahasa Asing - Atorcator

Membangun Logika Belajar Berbahasa Asing

Belajar berbahasa asing berbeda dengan belajar bahasa asing. Belajar berbahasa asing bermakna upaya seseorang untuk melatih dirinya mampu menjadi penutur bahasa asing tertentu dengan baik secara aktif. Indikantornya apabila menguasai empat kompentensi berbahasa, yaitu mendengar, berbicara, menulis dan membaca. Bahasa asing ini berfungsi sebagai skill yang hanya dapat diasah dengan praktik langsung dan memasuki lingkungan berbahasa tersebut secara totalitas.

Sedangkan belajar bahasa asing adalah kegiatan mempelajari bahasa asing tertentu seperti bahasa Arab atau bahasa Inggris secara mendalam dalam berbagai perspetif keilmuan. Bahasa umumnya dapat dikaji dari sudut pandang kesusasteraan, kebudayaan, tata bahasa, stilistika dan seterusnya. Dalam konteks ini, bahasa berkedudukan sebagai ilmu pengetahuan (science) yang dapat diperoleh dan didalami melalui pengkajian secara intensif menggunakan metode ilmiah.

Seringkali orang tidak bisa membedakan antara bahasa sebagai skill dengan sebagai science sehingga salah mengambil langkah dan strategi untuk tujuan yang dinginkan. Sederhanya, seorang pelajar ingin meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris, kemudian mengambil langkah mempelajari grammer dan banyak membacara literatur berbahasa Ingris saja tanpa ada upaya praktik berbicara dan menulis. Dia menjalani kegiatan ini dalam waktu relatif lama berkisar enam sampai tujuh tahun terhitung sejak bangku MTs/SMP – MA/SMA.

Setelah itu, ia berkesimpulan bahwa bahasa Ingris sangat sulit kerena ketika dihadapkan pada listening section atau english voice tidak mampu menangkap pesan yang disampaikan. Saat menghadapi orang berbahasa Inggris walaupun bukan native speaker (penutur asli) ia kesusahan memahami apa yang dimaksud pembicara. Jika ucapan penutur di atas ditranskripsi dalam tulisan, ia mampu memahami dengan mudah dan mampu menganalisis struktur dan gaya bahasa menggunakan ilmu stilistika dan tata bahasa.

Orang seperti ini sering disebut pasive user (pengguna bahasa pasif), hanya mampu menerima pesan yang disampaikan oleh pembicara atau penulis tetapi tidak mampu memberikan feedback atau respon dan pengembangan dalam bahasa yang sama. Kalangan santri dan pelajar di daerah saya kebanyakan hanya mampu menjadi recipient, itupun sangat langka sekali yang berhasil mencapai level ini. Untuk mencapai level producer (mengungkap ide dan gagasan) sangat sulit dicapai kelau tidak mau dikatakan mustahil kecuali mampu mengubah polanya dengan cara keluar dari culture trap.

Fenomena ini terjadi karena kegiatan pembelajaran ditekankan pada orientasi belajar bahasa asing bukan belajar berbahasa asing. Di Madrasah Aliyah berbasis pesantren khususnya di beberapa daerah di Madura, kitab tata bahasa advanced level, “Alfiah” diajarkan. Konon kitab ini diberi judul Alfiah kerena mengandung dua unsur, pertama bait-bait syair kitab ini terdiri 1000 buah dan kedua, output pembelajarannya adalah santri/pelajar yang mampu menyusun karya berbahasa arab dengan baik.

Anehnya sejauh ini sedikit sekali lulusan Aliyah yang mampu membaca kitab dengan baik secara mandiri. Bagaimana mungkin seseorang mampu menulis karya menggunakan bahasa arab dengan baik jika membaca naskah arab gundul saja tidak mampu padahal kitab Alfiahpun sudah diajarkan?. jawabannya adalah kesadaran membangun logika belajar berbahasa asing harus ditumbuhkan.

Ketika kita belajar berbahasa asing, ada dua kondisi yang harus dipahami dan dilewati sebagai tahapan proses berbahasa:

Pertama, pembelajar sebagai receiver (penerima pesan dalam berbahasa). Pembelajar dalan kondisi ini berupaya memahami dengan sempurna makna atau pesan yang sampaikan oleh pembicara atau penulis. Aktivitas pembelajar yang dominan di sini adalah mendengarkan dan membaca.

Kedua, pembelajar sebagai producer (menciptakan pesan dalam berbahasa). Artinya setiap pelajar berupaya mengaktualisasikan kemampuan berbahasa dalam bentuk bicara dan menulis.

Pengguna bahasa mengekspresikan ide dan pendapat secara aktif mengguanakan bahasa asing yang dipelajari. Pengguna bahasa mampu memproduksi bahasa lisan dan tulis dengan aktif untuk disampaikan kepada audience.

Strategi terbaik dalam belajar berbahasa asing adalah dimulai dengan mendengar (listening/istima’). Mendengarkan adalah paling sederhana bagi orang yang berlajar berbahasa asing tertentu layaknya anak-anak belajar memahami lingkungannya dengan cara mendengar. Seorang berupaya menangkap pesan pembicara dan secara alamiah mempelajari gaya bicara dalam mengungkapkan sesuatu dan language culture yang hanya dapat diperoleh melaui interaksi langsung dengan si penutur utamanya penutur asli.

Hal yang penting diperhatikan dalam kegiatan mendengar adalah membentuk lingkungan berbahasa yang dipelajari. ini menjadi tantangan (challenge) bagi orang yang belajar berbahasa asing tetapi tidak masuk ke dalam komunitas masyarakat yang mengguanakan bahasa tersebut. Jika lingkungan sudah terbentuk, tugas yang harus dilalui adalah menyelamkan diri ke dalam lingkungan tersebut secara totolitas dan tanpa beban.
Meskipun pada awalnya dirasa kesusahan berinteraksi dengan masyarakat setempat kerena belum menguasi bahasanya, lambat laun secara perlahan ia akan memahami kemudian belajar menggunakan untuk mengungkapkan keinginannya terhadap lingkungan sekitar. Jika tahapan ini djalani dengan baik, siapapun yang belajar berbasa asing akan berhasil untuk berbicara dengan baik dalam arti bisa dipahami oleh lawan bicaranya.

Ini salah satu alasannya mengapa kampung Inggris, Pare Kediri berhasil melatih ribuan orang belajar berbahasa Inggris bahkan tidak sedikit yang berhasil melanjtukan study ke berbagai negara dengan katagori English Speaking Country seperti Ingris, Amerika dan Australia. Selain itu, banyak tenaga kerja (TKI) di Saudi Arabia asal Indonesia khususnya Madura saat berangkat tidak bisa berbahasa arab. Jangankan berbahasa arab menulis arab saja ada yang tidak bisa, tetapi setelah bertahan beberapa bulan di sana, mereka mampu berbahasa Arab.

Tahapan selanjutnya adalah membaca (reading/qira’ah) untuk memperkaya wawasan yang didapat melalui bacaan dan untuk mendapatkan sence berbahasa tersebut dalam ragam tulis. Di lingkungan pesantren salaf, kegiatan membaca kitab kuning sebagai aktivitas mengasah receivetive skill biasa dilakukan dan muara ekspresi idenya berbentuk dialektika berbahasa daerah atau bahasa Indonesia. Mereka tidak dilatih untuk untuk mengembangkan productive skill (berbicara dan menulis dengan bahasa arab).

Hal ini juga sering kali terjadi di lingkungan sekolah, siswa dilatih banyak membaca naskah berbahasa Ingris/Arab tetapi gurunya tidak membangun lingkungan productive skill. Umumnya siswa dituntut untuk memahami isi teks dan soal pilihan ganda dijadikan indikator dalam mengukur keberhasilan tanpa melakukan elaborasi dengan cara meminta peserta didik menuliskan dan menceritakan secara lisan informasi apa yang diperoleh dari teks tersebut menggunakan bahasa Ingris/Arab sesuai bahasa yang sedang dipelajari.

Sedangkan kunci belajar berbahasa itu mendengar dan membaca (receivetive skill) sebagai hulu pembelajaran dan muaranya berbicara dan menulis (productive skill). Jika ingin menjadi pengguna aktif bahasa Arab atau Ingris misalnya, caranya adalah mengembangkan informasi dari apa yang didengar dan dibaca dalam bentuk berbicara dan menulis dalam bahasa yang sama.
Jika ingin mencapai tingkatan produktif, tidak boleh ada pengkhinatan proses seperti belajar mendengarkan audio bahasa inggris tetapi informasinya dalam bahasa Indonesia. Pelajar membaca teks bahasa Ingris kemudian informasi yang diperoleh disebarkan dalam bahasa indonseia atau bahasa daerah. Jika ini terjadi, kita hanya mampu mencapai level pengguna bahasa pasif saja.

komentar

Related Posts