Mengulas Di Balik Munculnya "The Family of Broken Heart" - Atorcator

Mengulas Di Balik Munculnya “The Family of Broken Heart”

 

Suatu ketika saya dapat pertanyaan dari seseorang, dia bertanya apa itu rindu? Dan kemudian merembet pada saudara sepupunya, cinta. Melebar lagi sampai pertanyaan, besaran mana di antara keduanya?

Dua saudara yang saya kira tidak pernah luput dari perjalanan hidup seorang remaja. Tumbuh, kemudian bangkit, jatuh, bangkit lagi dan bahkan terperosok kembali ke dalam lembah kematian ; Jiwa, akal sehat, budi dan bahkan ruh.

Kebahagiaan adalah suatu hal inti yang dicari oleh seorang manusia. Kerabatnya adalah rasa senang, dan keduanya adalah dianggap sebuah keniscayaan bagi manusia. Sebagaimana tercermin dalam doa “rabbana atina fiddunya hasanah, wafil akhirat hasanah.”

Barangkali salah satu cara yang ditempuh para remaja dalam memperoleh kebahagiaan adalah melalui metode “hubbun wal syauqun” dan ini yang paling diminati oleh banyak kalangan remaja, muda-mudi.

Di samping mudah dan efisien juga praktis dan pragmatis. Identik pula dengan generasi saat ini. Ada yang mengatakan generasi micin wal petis yang hidup di era serba instan. Cukup buka aplikasi makanan cepat tersajikan.

Seperti pada contoh di atas, yakni praktis dan pragmatis, begitu pula dengan kebahagiaan yang mereka dambakan. Praktis, artinya kepada siapapun -dengan mudahnya- memberikan hatinya tanpa memperdulikan akal sehat. Pokoke bahagia.

Pragmatis, artinya setelah tidak merasa nyaman dibuang begitu saja, tanpa mempertimbangkan apa sebenarnya yang telah terbuang? Sampahkah?

Kalau memang iya, bisakah didaur ulang? Jangan-jangan hanya akan menambah intensitas sampah. Ya! Sampah “ikatan keluarga sakit hati.” mari kita ulas teori diatas.

Menurut imam Ghazali mengatakan ‘ Rindu itu terjadi setelah seorang itu memiliki rasa cinta.” tentu hal tersebut identik dengan bahagia.

Bahagia sendiri menurut Fahruddin Faiz adalah “pemicu bahagia itu haruslah hal yang positif, apabila bahagia itu dipicu dari hal-hal yang negatif, maka siap-siap saja kecewa.”

Contoh misalkan, ada anak bercerita kepada ayahnya “pak saya dapat nilai seratus.” Tapi nilai tersebut dari hasil nyontek. Bahagia nggak anak tersebut? Tentu bahagia, begitu juga sang ayah. Namun, imbasnya adalah anak tersebut akan menjadi bodoh.

Oleh karenanya, dalam perolehan kebahagiaan perlu mempertimbangkan pemicunya. Baik nggak? Positif nggak? Atau malah sebaliknya.

Selanjutnya, Transenden Tuhan juga tidak boleh tertinggal. Karena hal itu sangatlah penting menjadi fondasi segala hal, termasuk sains dan agama yang selanjutnya melebar pada persoalan manusia.

Al-Atas mengatakan “keikutsertaan Tuhan akan membentuk moralitas yang menumbuhkan kebahagiaan. Karena manusia tidak akan berlaku semena-mena serta tanggung jawab atas segala yang dilakukannya.”

Tidak jauh beda asmara anak muda dengan sains Barat. Sains yang haus akan nilai dan norma positif. Al hasil, sains tersebut hanya akan menjadi ilmu yang sekuler (bebas) dan antroposentris (berpusat pada manusia), sehingga tidak mengindahkan peran Tuhan.

Dari beberapa uraian diatas dapat dibentuk pola, bahwa sebenarnya “kaum sakit hati” itu tidak belajar dari sejarah. Meski kisah dirinya sendiri di masa lalu.

Kedua, keluarga tersebut hanya berfokus kepada apa yang disebut bahagia. Pokoke bahagia. Tanpa mencari tahu relasi dirinya dengan bahagia, definisi serta bentuk bahagia.

Saya mau bercerita singkat tentang kisah romantis dan tidak kalah romantis dari cerita Dilan dan Milea. Dia adalah Majnun yang mencintai Laila.

Cinta yang indah di atas rata-rata. Bahasa, sastra, perhatian dan apapun itu sudah tidak berguna bagi Majnun,Yang ada hanya Laila. Dia bahagia bersama Laila, meski Laila tidak bersamanya.

Begitu juga kisah Brahma dan Dewi sita. Bisa dikatakan cinta tak terbatas waktu. Meski berkali-kali Brahma ditolak, cintanya tidak pernah gurur dan luntur.

Jadi, pola dan relasi manusia dengan berbagai persoalannya harus menjadi fondasi dari segala yang dilakukannya, termasuk cinta dan rindu. Masalah yang rumit memang, jika dua saudara ini hanya dilihat dari segi antroposentris.

Cara pandang dikotomi (sebelah mata) semacam itu hanya akan menimbulkan persoalan baru pada masalah yang lalu. Oleh karenanya, barangkali ingin serius dalam kisah cinta, harus pula memasukkan transenden Tuhan yang diintegrasi dengan paradigma teosentris dan antroposentris.

komentar

Related Posts