Modernisasi di Mata Islam, Untung atau Buntung?

 

Einsten pernah menyesali penemuannya yang menjadi cikal bakal bom atom. Dewasa ini, manusia dari berbagai belahan bumi beramai-ramai memusuhi plastik.

Sebagian bahkan mungkin merasa menyesal dengan ditemukannya plastik. Kelak, bukan tidak mungkin kita menyesali penemuan media sosial. Atau bahkan, kelak akan ada yang menyesali penemuan internet.

Jika di zaman industri dulu, negara paling maju adalah negara yang banyak pabrik. Jika mesin pabriknya sudah didominasi robot. Bisa jadi kelak negara paling dihargai adalah negara yang paling alami.

Simbol atau standar-standar kemajuan dari waktu ke waktu terus berubah. Sebagaimana mode pakaian yang kadang-kadang menampilkan lagi mode usang di tahun lampau.

Dalam alur perubahan zaman, Islam sejatinya menggaungkan kesederhanaan, kearifan yang bertujuan menjaga keseimbangan dunia di berbagai zaman. Melalui sepenggal ayat, “Wa La tusrifu,” (Jangan berlebihan) saja, ajarannya sudah mencakup berbagai hal.

Jangan berlebihan dalam modernisasi. Karena dampaknya dehumanisasi. Manusia tidak lebih dari skrup yang menggerakkan sebuah mesin besar bernama industri. Jangan berlebihan dalam mencari harta. Karena akan memupuk sifat tamak atau kebiasaan hedonisme.

Jangan berlebihan dalam hal Ibadah. Karena dalam beberapa hal akan menabrak aturan dan mengakibatkan kerugian. Semisal sholat magrib 6 rakaat. Semisal Menyumbangkan seluruh harta warisan pada yayasan sosial yang berisiko membuat ahli waris sengsara. Ingat, batasannya sepertiga.

‘Wa la tusrifu,’ bisa memasuki berbagai aspek. Di bidang pertanian, terlalu banyak pestisida, menimbulkan racun. Di bidang pembangunan, terlalu banyak tanah yang dicor, bisa berakibat kurangnya resapan air hingga banjir. Di bidang sehari-hari, terlalu banyak makan bisa muntah. Terlalu banyak obat, overdosis. Terlalu banyak tidur, kelelahan. Dan banyak lagi permisalan.

Sejatinya, bila dicermati aturan islam mengenai kehidupan sosial masyarakat, mendapat porsi lebih banyak jika dibanding dengan kehidupan spiritual individu. Di antaranya, ridho Allah tergantung ridho orang tua.

Banyak hadits tentang adab bertetangga. Banyak hadits tentang keutamaan saling menolong. Bagaimana menolong orang yang tersesat lebih baik dan ganjarannya sekian kali lipat daripada itikaf.

Perintah dan keutamaan saling mencintai. Namun, pada masa ini, kritik atas kesalehan individu menjadi tema yang lebih menarik dan gencar daripada kesalehan sosial. Ilmu tanpa adab bertebaran tak tentu arah. Banjirnya arus informasi membuat seseorang dengan mudah membaca apa yang sejatinya belum menjadi kelasnya.

Akibatnya, kesalahpahaman merajalela. Silang pendapat berujung saling klaim kebenaran menjadi pemandangan yang jamak ditemui di berbagai forum digital.

Pada zaman ini, mudah sekali ditemui orang awam berdebat dengan ahli yang berujung pada saling caci maki.

Jadi ingat satu perkataan Gus Baha tentang carut marutnya pemahaman ilmu zaman ini yang menurut beliau akibat dari ngaji gak khatam. Begitu pula tentang anggapan bahwa Islam dan sains tidak bisa berjalan beriringan dan menjadi penghambat modernisasi.

Barangkali dikarenakan belum pernah membaca sejarah tentang kegemilangan Islam pada masanya. Sehingga jika sekarang Islam dianggap mengalami kemunduran, tentu bukan karena Islamnya, tapi sangat mungkin sebab oknum pemeluknya.

Related Posts