Perdebatan Ucapan “Selamat Hari Natal” itu Wacana Usang

Wacana pengucapan “Selamat Hari Natal” dari dulu sering diperdebatkan, tidak hanya wacana usang. Tak henti-hentinya di wall media sosial ribut sana sini adu argumen. Sampai muncul penghakiman soal keimanan seseorang. Parah. Sekali lagi saya katakan parah.

Perdebatan soal hukum seharusnya memberikan kekayaan khazanah keilmuan, tetapi faktanya tidak, justru sebaliknya, dari sekian banyak perbedaan tentang hukum tak lagi menjadi amunisi baru dalam memperkokoh keislaman dan memperkaya keilmuan. Semakin banyaknya perbedaan malah mempermasalahkan perbedaan itu sebagai bagian dari masalah.

Kita ini hidup tidak dalam satu golongan. Berpayung kebinnekaan yang sejak lama jadi benteng pertahanan. Perbedaan yang muncul mengenai suatu permasalahan yang tidak terlalu prinsip seharusnya menjadi edukasi kepada publik.

Sekarang tak lagi demikian, justru yang terjadi saling berebut kebenaran. Saling kafir-mengkafirkan, bahkan tak jarang saling mengolok-olok satu sama lain. Tak sadar, bahwa kebenaran tidak hanya dalam satu jalur. Ada banyak jalur kebenaran yang sebagian orang mustahil bisa mengalami. Apalagi hanya persoalan ijtihadi yang masa ke masa ada corak perubahan terus mengitari.

Pengucapan “Selamat Hari Natal” dilakukan merupakan bagian dari upaya memahami realitas sosial, upaya membangun hubungan yang baik dan stabilitas sosial. Berbuat baik merupakan bagian hal penting dalam ajaran Islam. Sehingga rasul mengatakan

البر حسن الخلق .رواه مسلم

Kebaikan adalah budi pekerti yang mulia (HR. Muslim) (Shahih Muslim, hahih al-birr wa as-Silati wal-Adab)

Pernah suatu saat Rasulullah didatangi oleh orang Yahudi yang sengaja memelintirkan ucapan kalimat salam dengan  “السام عليكم” (semoga kerusakan menimpa kalian), mendengar ucapan itu istri Rasulullah, sayyidah Aisyah langsung menjawab ” (وعليكم السام), kemudian nabi menasehatinya:

مهلا يا عائشة، إن الله يحب الرفق فى الأمر كله .رواه مسلم

Yang lembut wahai ‘Aisyah! Sesungguhnya Allah menyukai kelembutan dalam segala hal. (HR. Muslim dari Aisyah) (Shahih Muslim, kitab as-Salam)

Peristiwa ini memberikan pemahaman bahwa kelembutan dalam bersikap tidak hanya ditunjukkan kepada sesama muslim saja. Kepada siapapun Allah dan Rasulnya sangat menganjurkan untuk bersikap lemah lembut.

Bahkan Alquran dengan tegas menyatakan bahwa Islam sangat menghargai sebuah penghormatan. Manakala penghormatan dan perbuatan baik itu datang dari siapapun, maka kita sebagai orang Islam seharusnya memberikan penghormatan yang lebih atau sepadan. Firman Allah dalam surat An-Nisa’.

وإذا حييتم بتحية فحيوا بأحسن منها أو ردوها إن الله كان على كل شيئ حسيبا

Dan apabila kamu dihormati dengan suatu (salam) perhormatan maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (penghormatan itu yang sepadan) dengannya. Sungguh, Allah memperhitungkan segala sesuatu. (An-nisa’/4:86)

Melihat konteks keberagaman bangsa Indonesia, maka kita tidak bisa lepas dengan perayaan hari besar masing-masing agama dari mereka. Banyaknya provokasi dan diskriminasi yang sering dilakukan pada kelompok minoritas tidak seharusnya dibiarkan begitu saja. Karena jauh lebih penting dari perbedaan keagamaan adalah keutuhan negera kesatuan republik Indonesia yang di bangun atas dasar perbedaan agama itu sendiri.

Mengucapkan selamat hari raya nonmuslim, tidak berarti ridho terhadap akidahnya. Ucapan tersebut hanya bentuk sopan santun (المجاملة) dalam berinteraksi sosial. Dr. Mustafa zarqa mengatakan:

Seorang muslim yang mengucapkan selamat hari natal kepada koleganya pemeluk agama Kristen dalam pandangan saya merupakan tindak sopan santun dalam bersosial, dan Islam tak melarang sopan santun dalam bersosial, dan Islam tak melarang sopan santun dalam hal ini. Terlebih bahwa Sayyid Isa Al-Masih dalam akidah kita termasuk para rasul agung Ulil Azmi, maka dia adalah orang yang agung pula menurut kita, hanya saja mereka berlebih-lebihan dalam menganggukkannya, sehingga meyakininya sebagai Tuhan. Barang siapa yang berperasangka bahwa mengucapkan selamat natal memiliki tautan erat dengan akidah mereka mengenai ketuhanannya, maka ia telah melakukan kesalahan, karena sopan santun demikian ini tak ada sama sekali hubungannya dengan akidah dan sikap berlebih-lebihan mereka. (Http://www.islamonline.net/servlet/S…=1122528609034.)

Jadi, pengucapan Selamat Hari Natal tidak lebih sebagai sebagai kesopanan yang lazim dalam bersosial bukan berpartisipasi dalam prosesi ritual perayaannya yang bersebrangan dengan akidah umat Islam.

Syaikh Yusuf al-qaradawi mengatakan:

وهذا لا يعني أن تحتفل معهم، إنما نهنئ فقط، وهذا من البر والقسط الذي جاء به هذالدين

Ini (bolehnya memberi ucapan selamat natal) tidak berarti kita boleh merayakan bersama mereka, kita sesungguhnya hanya memberi ucapan selamat saja, dan yang ini termasuk kebajikan dan keadilan yang diperintahkan oleh agama ini (Islam). (http://www.islamonline.net/servlet Satelit?Peganame=IslamOnline-arabic-Ask_scholar/FatwaA/FatwaA&cod=1122528601788)

Mari kita sejenak menghentikan perdebatan ini sebagai wujud kepedulian. Kita miliki keilmuan dan pemahaman ini sebagai kekayaan khazanah keilmuan dan eksplorasi dalam menapaki terjalnya hidup yang kian mencekam.

Atas dasar ini, saya pribadi mengajak kepada umat Islam yang tak bersentuhan secara sosial dengan nonmuslim tak perlu mengucapkan selamat hari natal, namun bagi muslim yang aktif berinteraksi dengan mereka sangat baik untuk menyampaikan selamat hari natal dengan keharusan sikap berhati-hati dalam niatnya.

Wallahu ‘alam

Related Posts