Sahabat Nabi Bukan Sahabat Cangkem Elek

Penulis: Muhammad Syamsudin
Selasa 3 Desember 2019

Gerakan Cangkem Elek versi beliau Kyai Bahauddin Nur Salim (Gus Baha’) itu sebenarnya menyimpan makna yang mengkhawatirkan. Mengkhawatirkannya ini bukan pada Gus Baha’nya, melainkan pada poro penderek beliau.


Mengapa? Karena khalayak kita ada yang biasa ceplas-ceplos, meniru tanpa tendensi aling-aling mengujarkan sesuatu yang dianggapnya benar, yang penting maksud membumikan ajaran tersampaikan, namun di satu sisi pengujar ceplas ceplos ini sebagai pribadi sumbu pendek dan mudah tersinggungan. Ini yg unik dan penting saya sampaikan. Imbasnya, yang kelihatan justru eleknya, dan bukan ajaran yang disampaikan.


Tentu saja pola seperti ini tidak dikehendaki oleh beliau Gus Baha’. Karena maksud dari ‘gerakan cangkem elek’ Gus Baha’ ini adalah gerakan rudud namun tidak meninggalkan ilmu dan adab.


Maksud dari ilmu ini adalah adanya dasar, meskipun garis besarnya saja. Ada rujukan, meski tak sedetail yang dibutuhkan untuk menjelaskan kepada ‘cangkem elek’² ini.


Adapun maksud dari adab adalah tata krama. Andai saat Abasawatawalla diturunkan dan umat Baginda Nabi adalah seperti sosok² ‘cangkem elek’ yang meninggalkan ilmu dan adab sebagaimana yang saya maksudkan dalam paragraf di atas, bisa jadi mereka justru menjadi orang pertama yang akan meninggalkan Nabi. Karena dalam ayat itu, Allah SWT langsung bertindak selaku yang menegur Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah SWT berfirman dalam Q.S ‘Abasa [80] :1-11.

عَبَسَ وَتَوَلّٰىٓۙ



Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling,

اَنْ جَاۤءَهُ الْاَعْمٰىۗ



karena seorang buta telah datang kepadanya (Abdullah bin Ummi Maktum).

وَمَا يُدْرِيْكَ لَعَلَّهٗ يَزَّكّٰىٓۙ
 

Dan tahukah engkau (Muhammad) barangkali dia ingin menyucikan dirinya (dari dosa),

اَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرٰىۗ



atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, yang memberi manfaat kepadanya?

 
اَمَّا مَنِ اسْتَغْنٰىۙ



Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup (pembesar-pembesar Quraisy),

فَاَنْتَ لَهٗ تَصَدّٰىۗ



maka engkau (Muhammad) memberi perhatian kepadanya,

 
وَمَا عَلَيْكَ اَلَّا يَزَّكّٰىۗ



padahal tidak ada (cela) atasmu kalau dia tidak menyucikan diri (beriman).

وَاَمَّا مَنْ جَاۤءَكَ يَسْعٰىۙ



Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran),

 
وَهُوَ يَخْشٰىۙ



sedang dia takut (kepada Allah),

فَاَنْتَ عَنْهُ تَلَهّٰىۚ



engkau (Muhammad) malah mengabaikannya.

كَلَّآ اِنَّهَا تَذْكِرَةٌ ۚ



Sekali-kali jangan (begitu)! Sungguh, (ajaran-ajaran Allah) itu suatu peringatan,


Maha Besar Allah, yang tidak menjadikan sosok yang tidak berilmu dan tidak beradab sebagai shahabat perjuangan beliau Baginda Rasulillah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Related Posts