Selamat Hari Ibu untuk Para Ibu yang Sudah Meninggalkan Kita

Tepat di bulan Desember tanggal 22 ini kami ingin mengucapkan”Selamat Hari Ibu” , untuk semua perempuan baik yang statusnya sudah menjadi ibu atau masih otw menjadi ibu. Sebab pada sejatinya hari ibu ini ditujukan untuk seluruh perempuan dengan segala status yang disandangnya. Karenanya izinkan kami mengucapkan sekali lagi, untuk ibu saya yang sudah meninggal 4 tahun yang lalu dan seluruh ibu Indonesia, dunia, yang bernasib sama dengan ibu saya. Semoga kita kuat, tegar, dan mampu selalu mendoakannya setiap waktu.

Tak ada kata yang tepat untuk membuka tulisan ini selain kita terlebih dahulu dan yang paling utama mengirimkan Fatihah kepada ibu-ibu kita yang sudah mendahului kita. Namun, di hari ibu ini tidak cukup hanya sebatas momen untuk mendoakan beliau saja, tetapi harus momen untuk mengingat kembali peran dan perjuangan ibu sehingga kita bisa seperti sekarang ini.

Tak ada batasan untuk siapa ucapan “selamat hari ibu” ini ditujukan. Semua perempuan punya hak mendapatkan ucapan “Selamat Hari Ibu”, sebab sejatinya semua perempuan itu ibu. Baik ibu yang meninggal, yang sudah menikah, belum menikah, bahkan mereka yang memilih untuk tidak menikah, semua pantas dan berhak mendapatkan ucapan “selamat hari ibu”. Bahkan tak perlu dalil sekalipun untuk ucapan ini. Esensi hari ibu ucapan terima kasih kepada seorang ibu. Saking pentingnya Rasulullah ketika ditanya seorang sahabat, kepada siapakah aku harus berbakti? Rasulullah menjawab dan sampai menyebutkan tiga kali, ibumu, ibumu, dan ibumu.

Hari ibu adalah hari di mana kita berdoa dan mengingat kembali peran dan perjuangan seorang ibu (baik ibu yang sudah meninggal atau pun yang masih hidup dan sehat). Untuk kalian yang ibunya masih hidup dan sehat, jangan sekali-kali menyakiti hati seorang ibu, rawat beliau dengan kasih sayang sebelum semuanya terlambat.

Kalau di hari ibu ini kita dituntut untuk mengingat tokoh perempuan (Nyi Hajar Dewantara (Wanita Taman Siswa), Ny. Soekonto (Wanita Oetomo) dan Sujatin Kartowijono (Poetri Indonesia).) di balik Kongres Perempuan I, 91 tahun lalu, 22 Desember 1928, dan berawal dari kongres itu akhirnya ditetapkanlah hari ibu. Lantas kenapa kita tidak juga mengingat perjuangan ibu yang besar tiada tara, mulai melahirkan kita, mendidik kita, dan merawat kita hingga menjadi manusia sempurna seperti sekarang ini.

Sadar atau tidak, kita ini dulu kadang jadi penurut dan kadang nakalnya nauzubillah. Sementara ibu kita sabar dan ikhlas menghadapinya bahkan rela mendidiknya, bagaimana cara menjadi anak yang berbakti kepada orang tua, menghormati yang tua, menyayangi yang muda, dan dewasa menghadapi persoalan-persoalan hidup. Maka tidak salah jika ibu itu madrasah pertama untuk anak-anaknya.

Saya tak bisa membayangkan betapa berat dan berisiko besar melahirkan seorang anak dan membesarkannya dengan segala kecengengan dan kemanjaan kita pada masa kecil. Semua itu dilakukan dan dijalankan oleh seorang ibu tanpa menagih imbalan apa-apa dari kita. Apalagi mereka yang melahirkan dengan sampai mengorbankan nyawanya. Anaknya hidup sedangkan ibunya meninggal. Mereka itu pejuang dan pantas mendapatkan ucapan “selamat hari ibu” sekalipun ia sudah meninggal.

Related Posts