Tiga Kondisi Berbahaya Mengucapkan “Selamat Hari Natal” Bahkan Bisa Jadi Haram

Kalau kita amati dengan seksama tiap menjelang 25 Desember, terus terang saja perdebatan sengit ucapan selamat hari natal menjadi agenda rutin warganet Indonesia bahkan boleh jadi dunia, dan luar angkasa. Tapi nggak papa, kadang perayaan agama orang lain memang perlu dimeriahkan terlebih dahulu sebelum hari H biar menarik dan seolah-olah hari natal itu memang perayaan penting. Bukannya begitu ferguso.

Saya mengikuti perdebatan natal ini tidak lama sih, baru-baru saja setelah saya keluar dari pondok pesantren salaf. Ya maklum, di pondok Hp itu dilarang keras. Jadi tidak tau dalil-dalil apa saja yang dimunculkan warganet untuk membela argumentasi pro kontra-nya ucapan selamat hari natal.

Sekalipun tidak lama mengikuti perdebatan natal di media sosial, di pondok dulu juga pernah membahas itu, bagaimana hukumnya mengucapkan selamat hari natal. Artinya tidak asing bagi saya. Menariknya, kalau di pondok itu dalil-dalil semua dimunculkan, dipaparkan dengan jelas. Tidak boleh berargumentasi tanpa dalil. Namanya juga pesantren salaf, harus disesuaikan dengan kulturnya. Setiap apa yang dipaparkan oleh santri dalam musyawarah dan diskusi sebagai argumentasi harus berdasarkan dalil-dalil. Mbuh shahih apa tidak, nggak jadi persoalan, yang penting berargumentasi dulu.

Dan luar biasanya, semua pendapat ulama baik itu yang diambil dari kitab kontemporer atau kitab-kitab lain dimunculkan beserta alasannya. Ada yang pro dan ada yang kontra. Semua dipaparkan dengan jelas tanpa rasa ada takut terjebak dengan akidah orang lain yang omong kosong.

Baca juga: Perdebatan Ucapan “Selamat Hari Natal” itu Wacana Usang

Bergembira Atas Kegembiraan Pemeluk Agama Lain

Dan saya sepakat dengan pengucapan selamat hari natal, bukan berarti saya merelakan akidah orang lain, tidak. Dan saya tak perlu menjelaskan ini panjang setelah saya menulis Perdebatan Ucapan Selamat Hari Natal itu Wacana Usang sebelumnya. Silakan baca.

Perkara ada yang tidak sepakat dengan saya. Sah-sah saja. Dan orang-orang seperti itu saya suka dan seandainya dipertemukan saya pengin traktir dia mgopi. Namun sebelum itu, saya ingin menyampaikan beberapa hal penting yang mungkin sebagian orang menganggap tidak penting, bahwa memang ada beberapa hal yang bisa menyebabkan seseorang itu tidak elok mengucapkan selamat hari natal. Kondisi ini tentu sangat riskan, bukan saja tidak elok bahkan berpotensi menjadi haram dan celananya eh celakanya bisa jadi kafir kaffah wal kamilah.

Pertama, Ketika kamu tidak punya teman agama Kristiani atau Nasrani. Lah, ngapain mau ngucapin selamat hari natal kalau tidak punya teman nasrani. Habis-habisin energi saja. Nggak ada gunanya. Kalau kalian akses dan sinyal hidupnya hanya dengan kaum sarungan alias santri, tak perlu repot-repot ngucapin selamat hari natal. Cukup lalaran saja, murajaah yang rajin. Itu sudah lebih dari cukup.

Pengucapan selamat hari natal boleh diucapkan oleh umat muslim yang memang bersentuhan secara sosial dengan umat kristiani. Dari situ, hubungan kemanusiaannya terjalin. Kemanusiaan itu memang harus dibangun di atas agama. Jadi tak perlu menunggu pejabat apalagi wapres untuk bisa mengucapkan selamat hari natal. Kalian juga boleh kalau memang punya teman kristiani.

Kedua, ketika perayaan hari besar islam. Misal, perayaan shalat idul fitri dan idul adha. Nah, jangan mentang-mentang karena sudah jadi orang yang sangat toleran, belajar islam ke eropa, bahkan boleh jadi sudah jadi duta damai, turun dari masjid sambil ngangkat tangan ala orang kota langsung bilang “selamat hari natal ya ustaz,kiai”, bisa disaplok ndasmu.

Atau kamu pergi ke famili dan sanak saudaramu, sampai di depan pintu “selamat hari natal ya bik, om, saling memaafkan, sehat selalu, semoga panjang umur dan berkah, maaf telat datang”. Untung kalau itu masih saudara-familimu, bagaimana kalau itu calon mertuamu, bisa habis riwayat pertunanganmu.

Ketiga, saat pernikahan mantanmu. Ini benar-benar harus hati-hati. Jangan karena itu mantanmu, terus kamu pura-pura lupa dan mengucapkan “selamat hari natal ya dew…kapan kita putus, kok sudah nikah duluan” sambil berjabat tangan dengan wajah kesel, tidak terima dan badan menggigil. Jangan dan jangan. Jangan sampai itu terjadi pada hidupmu.

Selain kedua calon mempelai itu tersinggung karena dianggap pemeluk agama lain, juga tidak pas dan tepat momennya. Bisa tidak menyenangkan. Sudahlah, urusan cinta nggak perlu bawa-bawa ucapan perayaan agama orang lain. Kalau ditinggal nikah ikhlaskan saja. Hidup itu kadang sekejam itu memang.

Itulah sekelumit kondisi yang mesti hati-hati dalam mengucapkan selamat hari natal. Karena selain menimbulkan polemik baru juga menjaga perasaan sesama. Cukuplah polemik itu terjadi di kalangan mereka yang malas berpikir dan tak tau kondisi dan situasi kehidupan.

Saya ini termasuk orang yang paling males dan susah diajak debat soal natal. Ucapan saja jadi masalah dan nggak kelar-kelar. Sedangkan saya tiap natal diundang ke rumah teman untuk makan bersama. Makan saja. Ingat makan saja. Bukan ikut campur ritualnya.

Related Posts