Tiga Pilar Ruhani

 

Secara garis besar, Islam yang diturunkan kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW mengandung tiga elemen dasar, sebagaimana dapat dibaca dalam riwayat yang dikenal sebagai “Hadis Jibril.” Ringkasnya, dalam hadis itu, Rasulullah sedang duduk bersama sahabat, lalu datang orang asing yang tampak tampan dan bersih, yang mengajukan beberapa pertanyaan. Setelah semua pertanyaan dijawab, orang itu pergi. Kemudian Rasulullah memberi tahu kepada para sahabatnya bahwa yang datang itu adalah Malaikat Jibril.

Dalam tanya jawab itu, Rasulullah menyebutkan bahwa ajaran Islam memiliki tiga dimensi dasar, yakni Islam, Iman, dan Ihsan. Dalam hadis itu, Rasulullah mendefinisikan Islam sebagai “bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu utusan-Nya, shalat, zakat, puasa dan haji. Kemudian iman adalah percaya pada Allah, malaikat-Nya, kitab-Nya, utusan-Nya, hari kiamat serta qadha dan qadar.”Sedangkan ihsan adalah “menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.”

Dua dimensi pertama pasti dikenal semua penganut Islam sebagai rukun Islam dan rukun Iman dan mendapat porsi besar dalam kajian-kajian agama hingga ke detailnya. Namun dimensi “Ihsan,” yang juga penting, lebih sedikit yang membahasnya. Ahli fiqh (fuqaha), ahli ilmu kalam (mutakkalimun), tidak membahas dimensi Ihsan hingga ke detail. Kalaupun dibahas, ihsan hanya dipelajari sebagai sebuah definisi dan dijabarkan dalam rincian pedoman akhlak secara umum. Dalam bagian Ihsan inilah para sufi, yakni pengamal Tasawuf, mencurahkan perhatiannya.

Islam adalah agama yang meminta umatnya bertakwa: mengikuti perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya. Apa yang boleh dan tidak boleh telah dikodifikasikan oleh Syariat berdasarkan Qur’an dan sunnah Nabi – melahirkan disiplin fiqh dengan segala derivasi nya.

Pada level selanjutnya, yang lebih dalam, Islam mengajarkan orang untuk memahami dua dunia (nyata dan goib) dan diri manusia itu sendiri. Ini adalah wilayah iman, “keyakinan,” sebab ia merujuk pada objek-objek yang menjadi sasaran keimanan – Tuhan, malaikat, kitab suci, nabi dan rasul, qadha dan qadar.

Pengkajian iman menjadi bidang berbagai macam ilmu, seperti ilmu kalam (teologi), filsafat, dan wacana-wacana religi dan keruhanian lainnya. Di level selanjutnya yang lebih dalam lagi, Islam mengajarkan cara orang memperbaiki diri atau mengubah diri menjadi lebih baik agar hidupnya selaras dengan semua ciptaan-Nya di alam raya sekaligus selaras dengan Kehendak-Nya dengan cara “mengalami, merasakan dan menyaksikan” semua hal yang ditekankan dalam dimensi Islam dan iman.

Pemikiran dan analisis kognitif tidak cukup untuk tugas ini, sebab ini berurusan dengan hakikat terdalam diri manusia (fitrah) – yakni manusia yang diciptakan menurut “citra Ilahiah” – sebagaimana tertuang dalam prinsip yang terkenal dalam ajaran Sufi, di mana sebagian ahli sufi menisbahkannya sebagai hadis, “Manusia diciptakan menurut citra Tuhannya.”

Jadi dimensi pertama adalah tata-aturan perilaku yang harus dilakukan dalam kerangka relasi seseorang dengan Tuhan dan sesama manusia; dimensi kedua adalah pemahaman tentang diri sendiri dan orang lain, dan yang ketiga adalah masalah bagaimana seseorang sampai ke hadirat-Nya. Apa dan bagaimana yang dimaksud dengan tujuan “beribadah kepada Allah” adalah fokus utama dalam dimensi Ihsan. Basis Qur’annya adalah pernyataan bahwa Tuhan menciptakan jin dan manusia semata-mata untuk beribadah kepada-Nya.

Orang memuja dan patuh biasanya karena kenal dan kagum, hormat atau cinta. Dalam keseharian, seseorang bisa mencintai orang lain karena kenal, lalu kagum dan hormat lantaran sasaran cintanya memiliki kualitas kebaikan, keindahan dan keagungan yang dia anggap paripurna. Jika rasa cinta itu diperbaiki, disempurnakan dan diperindah dengan ketulusan, maka cintanya akan murni dan ia akan rela berkorban agar bisa bersatu dengan kekasihnya dalam mahligai pernikahan.

Demikian pula dalam beribadah. Agar kita paham benar apa tujuan ibadah, maka kita harus mengenali aspek keagungan, keindahan dan kebaikan dari Zat yang menjadi sasaran ibadah kita. Pengenalan ini akan membuahkan cinta.

Dalam ajaran Tasawuf, “pengenalan” yang sesungguhnya diistilahkan dengan ma’rifah, yaitu ketika Tuhan memperkenalkan diri-Nya kepada hamba-Nya, bukan manusia yang mampu mengenal Tuhan dengan upayanya sendiri. Sebab, Tuhan Maha Tak Terbatas, sedang manusia adalah terbatas – bagaimana mungkin yang terbatas bisa memahami dan mengenal secara penuh sesuatu yang tak terbatas? Itulah sebabnya, ibadah, dalam pengertian ruhani, tak lain adalah sarana bagi perjuangan manusia untuk mematuhi Tuhannya dengan tujuan agar Dia berkenan memperkenalkan Diri-Nya sebagaimana Dia ingin dikenal menurut Kehendak, Ilmu dan Kebijaksanaan-Nya, bukan menurut hawa nafsu dan pengetahuan manusia yang terbatas.

Ma’rifat atau pengenalan ilahiah pada gilirannya akan membuahkan cinta, sebab hamba yang mengenal betul Tuhannya akan mengenal dengan sepenuh jiwa kualitas-kualitas (asma wa sifat) Tuhan yang indah dan penuh kasih-sayang. Namun karena manusia dan Tuhan itu berbeda, dan selama di dunia masih tersekat oleh ruang dan waktu, hamba yang mencintai Allah akan rindu untuk bertemu dengan-Nya. Karena cinta, maka hamba akan melakukan apapun yang dimaui oleh kekasihnya.

Agar sampai ke tahapan beribadah dalam dimensi ihsan sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah, maka seseorang harus menyatukan ketiga dimensi itu dalam kehidupannya. Ia harus pasrah (Islam), tunduk pada perintah dan larangan-Nya, percaya penuh (iman) kepada semua yang dikabarkan oleh-Nya dan beribadah dengan kesadaran bahwa Dia selalu hadir dalam setiap tarikan napas kita (Ihsan). Itu juga berarti Sufi harus memberdayakan, memanfaatkan serta menata tiga karunia yang dilimpahkan kepada setiap manusia, yang masing-masing berkorelasi dengan ketiga dimensi itu: yakni akal-pikiran, jiwa (nafs) dan hati.

Jadi di dalam kerangka tiga dimensi diin al-Islam itulah  sebagian sufi mengatakan bahwa “Tasawuf itu akhlak – akhlak pada Tuhan, akhlak pada sesama manusia dan semua ciptaan, dan akhlak pada diri sendiri. Karenanya Tasawuf berkorelasi dengan misi kenabian: “Aku diutus tiada lain untuk menyempurnakan akhlak.”

— bersambung

Related Posts