Untukmu yang Akan, Sedang, dan Telah Berskripsi Ria - Atorcator

Untukmu yang Akan, Sedang, dan Telah Berskripsi Ria

 

“Terkadang, pertanyaan kapan wisuda berjalan beriringan dengan penggarapan skripsi. Bedanya, yang bertanya banyak, yang garap skripsi hanya sendiri.”

Skripsi yang Baik adalah yang Selesai

Kalimat ini tidak asing di telinga mahasiswa tingkat akhir, entah siapa pencetusnya, masih menjadi misteri. Mahasiswa akhir memakai kalimat ini sebagai motivasi untuk menyelesaikan tugas akhir lebih cepat, secepat kilatan cahaya. Dalam beberapa anekdot, efek negatif kalimat sakti tersebut adalah banyaknya referensi yang dicatut oleh peneliti, membuat skripsi tak ubahnya dokumen kliping koran.

Namun, bagaimana pun skripsi adalah skripsi, ia tak akan pernah berubah menjadi “krispi” yang renyah nan gurih. Skripsi adalah lambang keseriusan dalam menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Soal kapan mau menggarap dan menuntaskan, itu soal pilihan. Berani memilih ya harus berani menerima konsekuensi, nyantai aja.

Menuntut Sebuah Kesempurnaan

Bagi pembaca budiman yang kebetulan berada pada tingkat akhir perkuliahan, mungkin Anda akan merasakan hal ini, menuntut kesempurnaan. Efek yang ditimbulkan berupa tak kunjung digarapnya tugas akhir. Akibatnya malah tragis, adik kelas sudah pada ngomongin sidang, Anda sendiri masih terkatung-katung di judul dan konsep penelitian. Atau bahkan tidak sama sekali, hanya fokus pada kesempurnaan yang dikejar.

Sebagai mahasiswa, ada kalanya berpikir idealis itu perlu. Semuanya harus perfect, dari pelayanan kampus sampai nilai kita pun harus A+. Mbok yo harus sesuai dengan prosesnya juga. Menggebu-gebu dalam mengkritisi kebijakan birokrat kampus dan meminta mereka bekerja sesuai SOP yang berlaku. Kadang sampai turun ke jalan, membakar ban dan berorasi selantang mungkin.

Begitulah dunia mahasiswa, masa pencarian jati diri yang cenderung meminta kebebasan berekspresi, meski tidak sedikit juga yang mengabaikan hak kebebasan berekspesinya, dan memilih bungkam seribu bahasa. Namanya juga pilihan, ya kita hargai sajalah.

Kembali ke soal tuntutan kesempurnaan, untuk yang mau memulai dan dihinggapi perasaan ini, saran saya jangan terlalu dipelihara apalagi sampai dipupuk. Takutnya ia jadi batu ganjalan ke depannya. Jadi kerjakan sesuai kemampuan diri sendiri. Skripsi itu prinspinya adalah dikerjakan secara serius, namun tidak mengesampingkan pekerjaan lainnya. Ojo sampek skripsimu ngganggu ngopimu.

Sudah pernah lihat skripsi di perpus? Kondisi mereka hanya jadi pajangan semata. Belum lagi soal skripsi yang dimusnahkan dengan dibakar, miris. Ada baiknya memang skripsi cukup didigitalisasi, tidak perlu menghamburkan kertas. Hutan semakin gundul coy. Tapi apa yang mau dibakar, kalau judul saja belum digarap.

Lalu apa yang perlu dipersiapkan sebelum garap skripsi? Garap saja, pelajari metodenya, dan segera cari referensinya. Buang jauh-jauh pikiran harus sempurna, tak ada kesempurnaan yang lahir dari makhluk penuh kekurangan.

Dalam benak dan jiwa sebaiknya ditanamkan, aku pasti bisa kalau berusaha. Prinsip skripsi tidak bertumpu pada kepandaian dalam kepenulisan (meski juga turut mendukung), melainkan pada semangat dan ketekunan mengerjakan. Percuma sudah juara berkali-kali LKTI dalam dan luar negeri bahkan sampai akhirat, kalau proposal skripsinya tak kunjung digarap, ya tak akan pernah melihat jadwal sidang skripsi atas namanya keluar.

Berada Pada Rel dan Tetap Fokus

Godaan kepada anak manusia sudah ada sejak zaman Nabi Adam masih di surga. Maka waspadalah pada godaan tidak melanjutkan skripsi, ketika sedang dalam masa-masa pengerjaan. Munculnya godaan bisa dari berbagai sumber; teman yang istikamah ngajak ngopi, game mobile legend dan hago di android yang selalu membayangi, maupun rasa malas yang menyergap. Semua jenis godaan tersebut hampir bisa dipastikan hinggap pada diri-diri yang sedang “berusaha keras” menuntaskan tugas akhir.

Kadang godaan tersebut berwujud sebuah “kebutuhan” untuk refreshing. Tapi, kalau kebablasan bisa sampai berhari-hari, berminggu-minggu, dan berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun hanya untuk sebuah “refreshing”. Rasa jenuh tentu akan ada di sela-sela pengerjaan tugas akhir, wajar sebagai pribadi yang masih dipenuhi sifat-sifat kemanusiaan.

Tak jarang pula, hambatan datang secara tiba-tiba dan aneh. Dari laptop yang tiba-tiba mati atau virus yang menyerang dan menghilangkan file yang maha penting tersebut. Harus ada langkah pencegahan sebelumnya. Misal dengan menyimpan file skripsi di google drive dan flash disk. Zaman terus berkembang, jangan sampai ketinggalan kemajuan.

Segala macam hambatan harus bisa diperkirakan sejak awal dan dicari solusinya sedini mungkin. Ibarat makanan kaleng, skripsi juga ada masa kadaluarsanya, kalau sudah setahun dan tak kunjung digarap, ada kampus yang mengharuskan mahasiswa yang bersangkutan untuk mengajukan judul baru lagi. Jadi kecermatan dan keseriusan menggarap skripsi perlu diupayakan dan tentu harus ada perencanaan sebelumnya. Tetap pada rel dan fokus.

Tidak Berlebihan dalam Berbangga Hati

Semua yang dimulai pasti berakhir, keyakinan bahwa kalau ada pangkal pasti ada ujung, sungai yang mengalir dari hulu akan berakhir di hilir. Kodratnya memang begitu, selama ada usaha dan upaya. Menggarap skripsi pun demikian adanya, tidak mungkin hidup kita hanya dicurahkan untuk skripsi, banyak hal lain yang menunggu dikerjakan, termasuk kegagalan yang telah menanti kita untuk mencobanya.

Euforia kegembiraan setelah skripsi dinyatakan selesai dan diterima adalah sebuah kewajaran. Tapi tak perlu corat-coret baju, apalagi konvoi di depan rektorat, kelas mahasiswa bukan itu lagi, gak level bray. Biasanya cukup dengan foto-foto bersama dan nogkrong di meja makan, bareng teman-teman yang masih ingat sama kita.

Untuk yang merasa melakukan plagiasi (tapi penulis kasih saran jangan), banyak merenung dan berdoa semoga skripsinya tidak dilirik mahasiswa adik tingkat. Segera putus mata rantainya, dan berharap skripsi itu tidak dijadikan referensi penelitian berikutnya saja, itu lebih bijak. Agar tak ada dosa warisan yang kita turunkan secara terus menerus.

Sehari dua hari masih wajar untuk menunjukkan rasa senang atas pencapaian selesainya skripsi. Hari-hari berikutnya sebaiknya digunakan memikirkan langkah yang akan ditempuh berikutnya, kalau memang tak sempat merencanakan sebelumnya. Pertanyaan How’s life after college? ada baiknya singgah di benak kita, kurang elok jika setelah lulus masih bingung mau ke mana.

Tak ada kalam hikmah yang menarik tentang skripsi selain “Skripsi itu dikerjakan bukan hanya dipikirkan”. [*]

*Tulisan selengkapnya bisa dibaca di www.catatanmizan.com

komentar

Related Posts