Abdullah bin Umar bin Khattab: Putra Khalifah yang Menolak Kekuasaan

Kesempatan menjadi penguasa biasanya tidak akan disia-siakan oleh sebagian orang yang mempunyai kans yang besar. Bagi sebagian orang, peluang untuk dapat berkuasa dicari-cari dan diupayakan sedemikian rupa. Tetapi tidak bagi Abdullah bin Umar bin Khattab atau dikenal dengan panggilan Ibnu ‘Umar. Padahal sebagai seorang putra khalifah yang amat disegani oleh umat muslim pada waktu itu, kesempatan menjadi pemimpin terbuka lebar. (Agar Selalu Mengikuti Sunnah, Bacalah Doa Abdullah bin Umar Ini)

Dalam catatan Ibnu Atsir dan Ibnu Sa’ad sebagaimana dikutip dalam Encyclopaedia of Islam, setidaknya Ibnu Umar mendapatkan tiga kali kesempatan untuk menjadi khalifah. Pertama, pasca wafatnya Usman bin Affan (35 H) Ibnu Umar punya kans bersaing dengan ‘Ali bin Abi Thalib. Kedua, selama negosiasi yang berlangsung antara Ali dan Muawiyah pada perang Shiffin (37 H), sebagai pihak yang netral Ibnu Umar memiliki kesempatan untuk menggalang dukungan bagi dirinya sendiri.

Ketiga, setelah meninggalnya Yazid bin Mu’awiyah sebagai khalifah yang diangkat oleh bapaknya sendiri (64 H). Pada waktu itu, Ibnu Umar memiliki kesempatan untuk menolak pengangkatan Yazid. Begitu pun setelah Yazid wafat, Ibnu Umar bisa saja menolak sistem pengangkatan khalifah dengan cara dinasti karena pada waktu itu banyak dari pendukungnya yang tidak setuju dengan sistem pemerintahan seperti itu.

Meskipun kesempatan tadang berkali-kali Ibnu Umar tetap menolak dan menghindari tampuk kekuasaan. Bukan karena ibnu Umar tidak memiliki kapasitas untuk menjadi seorang pemimpin, namun ketawadhuan dan keengganannya berselisih dengan para sahabat lain yang memicunya untuk hanya berfokus pada bidang keilmuan.

Bila kita meilhat sejarah, Ibnu Umar termasuk sahabat yang pemberani di medan perang bersama Rasulullah SAW. Di usia yang terbilang masih remaja, Abdullah bin Umar berangkat bersama pasukan Muslim menuju Badr untuk berperang. Begitu pun saat perang Uhud. Rasulullah Saw kemudian memulangkan Ibnu Umar karena dianggap belum cukup umur untuk berperang. Namun ketika perang Khandaq berkecamuk, perang yang amat menguras tenaga bagi umat muslim, di usia 15 tahun Ibnu Umar telah ikut ambil bagian membela Islam.

Pada peperangan selanjutnya, Abdullah Ibnu Umar tidak pernah absen untuk ikut membela menegakkan panji-panji Islam. Termasuk di antaranya adalah perang Mu’tah ketika pasukan muslim melawan pasukan Romawi Timur, penaklukkan Mekah (Fath al-Makkah) bersama Rasulullah Saw, perang melawan nabi palsu Musailamah dan Tulaihah, dan lain lain.

Dalam urusan politik Ibnu Umar tercatat pertama kali berperan sebagai penasihat dewan penunjukkan khalifah yang dibentuk oleh ayahnya Umar bin Khattab. Namun ia tidak memiliki hak untuk memilih (voting) maupun dipilih ketika itu.

Figur Abdullah bin Umar lebih kuat di bidang ilmu. Ia adalah salah satu perawi paling banyak dari kalangan sahabat, tercatat ribuan hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Umar yang dihimpun dalam berbagai kitab hadis maupun kitab-kitab tafsir.

Abdullah bin Umar wafat pada tahun 73 H, di usia sekitar 80-an tahun. Menurut catatan sejarah, Ibnu Umar sempat mengalami sakit septicaemia sebelum meninggal karena luka di kaki akibat terkena lemparan tombak ketika melakukan ibadah haji. Yang melempar tombak itu adalah pasukan al-Hajjaj di masa pemerintahan Yazid bin Mu’awiyah.

Al-Hajjaj sempat menjenguk Ibnu Umar saat sakit untuk menanyakan siapa kiranya orang yang melempar, agar dapat diberi sanksi dan hukuman yang setimpal. Namun belakangan diketahui bahwa pelemparan tersebut atas tugas yang diberikan langsung oleh al-Hajjaj untuk membunuh Ibnu Umar. Wallahu A’lam. [Selengkapnya di sini]. Ditulis oleh Wildan Imaduddin

Related Posts