Agama di Tangan Si Rendah Budi - Atorcator

Agama di Tangan Si Rendah Budi

Bagaimana jika agama tak bisa merubah budi. Tetap saja suka mencela. Hasud. Gampang marah. Dan mudah tersinggung. Baginya agama bukannya penenang tapi minyak pada api yang membakar. Ia yang beragama dengan cemeti yang terdengar hanya hardik dan sumpah serapah.

Pernah seorang sahabat yang jengah karena konflik di tempat kerja dan berharap mendapat tenang menjadi pengurus masjid malah berbalik di perkusi karena masjid pun juga tidak steril dari konflik dan interest dengan bentuk yang lebih religius—

Karena agama tak mengubah perilaku dan tetap saja budi rendah dominan meski di dekat mihrab—bisa saja beragama dengan penuh curiga dan menyelesaikan persoalan dengan wasangka dan keputusan diambil dengan cara berbisik. Lantas apa yang di dapat ?

Dr Fahri Ali mengilustrasikan dengan komprehensif bagaimana politik mihrab para ulama di serambi masjid— jadi jangan pernah mengira untuk menjadi imam atau mufti atau bahkan marbout di masjid mulus-mulus saja—ada marbot yang diberhentikan sepihak atau pengurus masjid yang tiba-tiba namanya tidak tercantum tanpa penjelasan—menjadi mullah, paus atau kardinal bukan tanpa ongkos. Pada akhirnya semua kita bersiasat hingga di rumah Tuhan—dalam buku Le Papa yang fenomenal.

Kalian tergantung masa jahiliyahnya—demikian Rasulullah saw berujar. Ketika jahiliyah suka mencela Allah saat mu’min suka mencela sesembahan lain. Saat jahiliyah suka mencela ulama. Saat mu’min suka mencela pendeta—mungkin itu yang dimaksud.

Tetap saja mencela, dan menghasut yang berbeda hanya obyeknya tapi perilakunya sama tak berubah. Jika dimasa jahiliyah nya pelit jangan berharap berubah loman ketika menjadi mu’min—tetap saja mengumpat dan melaknat sebagaimana masa jahiliyah nya meski sudah berganti atribut.

Ini memang tentang agama yang tak bisa mengubah—saya tak bisa bayangkan dari kumpulan preman, penghasut dan orang-orang rendah budi lainnya mendadak lantang bicara tentang kebenaran, keadilan dan kemanusiaan— kemudian bersemangat tegakkan syariat dengan cara nya yang dianggap benar.

Para ulama salaf mengedepankan akhlak ketimbang ilmu— Rasulullah saw juga diutus untuk memperbaiki akhlak atau adab. Dari nya segala berpangkal—sebagai pusat episentrum prilaku keberagamaan dalam konteks yang lebih substantif bukan sekedar atribut yang dikenakan.

Musa as bertanya: Ya Rab apakah shalatku membuat-Mu senang ? Tidak karena shalat hanya untukmu. Apakah puasaku membuat-Mu senang ? Tidak karena puasa hanya untukmu. Apakah hajiku yang membuat-Mu senang ? Tidak juga karena haji hanya untukmu. Lantas apa yang membuat-Mu senang ? Allah menjawab pendek : sedekahmu.

Sedekah itu membuat hamba-Ku senang— memberi penghiburan yang sedih, melapangkan yang susah dan menemani yang papa karena punya perlindungan. Senyum itu sedekah berkata baik itu sedekah. Seorang isteri yang membantu suaminya berbakti kepada ibunya itu sedekah pun sebaliknya. Jika tak ada satu kebaikan yang kamu dapatkan maka keluar dan temui tetanggamu dengan muka manis”.

Jadi beragama itu adalah soal humanitas—pengejawantahan akal budi yang universal, bicara tentang keadaban dan budi luhur—bukan sekedar pemenuhan syahwat atas kebenaran yang di ingini.

Tapi sayangnya budi luhur dan budi rendah adalah dua hal paradoks. Seorang polisi yang rajin menilang sopir angkutan umum yang dianggap melanggar aturan adalah seorang yang menyediakan diri siap disogok. Memberi kuasa pada jaksa dan hakim mengelola keadilan sama halnya memberi jalan agar keadilan dijual belikan. Menyerahkan masa depan kepada para rahib sama dengan memberikan ruang baginya untuk menjual ayat Tuhan dengan harga murah—

@nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar

komentar

Related Posts